DEMI SENYUM IBUKU

Hari ini aku baru saja memutuskan hubunganku dengan Dimas, seorang pengusaha muda. Dari awal hubungan dengannya, aku sudah merasa tidak nyaman. Dimas adalah temanku lima tahun yang lalu. Kita pernah satu kelas sewaktu SMA. Dia anak salah seorang pengusaha di Jakarta. Kita sangat akrab, bahkan dia sering sekali main ke rumahku. Dimas memang baik, dia pandai sekali menarik perhatian ibuku. Aku baru tahu bahwa dimas menyimpan perasaan yang dalam kepadaku sejak SMA, tapi entah mengapa aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun terhadapnya.

Sampai suatu hari kita di petemukan kembali, dan Dimas semakin sering main ke rumahku. Bagiku tak masalah, aku anggap itu hanya kunjungan biasa setelah bertahun-tahun tak bertemu. Tiba-tiba saja Dimas memintaku untuk jadi kekasihnya. Aku tak pernah memberikan reaksi apapun. Aku pikir aku tak mencintainya, dan sudah pasti aku tak bisa menerimanya sebagai kekasihku. Tetapi ibu sangat menginginkan aku menjalin hubungan serius dengan Dimas. Alasannya, karena Dimas sudah mapan dan tentunya mampu membahagiakan aku dan menjamin masa depanku kelak. Secara perlahan aku jelaskan pada ibu, bahwa aku tak mencintainya. Tetapi ibu sedikit memaksa, dan menyuruhku untuk mencoba. Ibu selalu bilang, bahwa cinta akan datang dengan sendirinya. Aku tak ingin mengecewakan ibuku, akhirnya aku bersedia menjadi kekasih Dimas.
Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan pepatah, enak di jadikan teman belum tentu enak di jadikan pacar. Itulah yang aku rasakan setelah beberapa bulan menjalani hubungan dengan Dimas. Semakin hari, Dimas semakin menunjukan sifat aslinya. Dia selalu mengaturku, melarangku pergi bersama teman-temanku, menjemput dan mengantarku kerja. Jika satu kali saja sms atau telepon nya ada yang tak ku balas dan aku angkat, dia selalu marah tak jelas kepadaku. Atau jika aku ngobrol dengan teman lelakiku dia selalu menuduhku selingkuh dengan temanku itu.
Demi Senyum Ibuku

Aku capek mengahadapi sikapnya, sampai suatu saat aku mengancamnya putus jika dia terus seperti itu. Akhirnya dia meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Tapi selang beberapa minggu sikapnya kembali seperti semula. Dia terlalu possesif, dan itu yang tidak aku suka darinya. Belum lagi kerjaan yang selalu rumit, bukannya membantu dia malah selalu menambah beban di pikiranku.

Tadinya aku tak ingin menceritakan ini pada ibuku, aku pikir aku akan mampu menghandle masalah ini. Tapi ternyata aku tak tahan lagi menghadapi sikap Dimas. Sampai akhirnya aku menceritakan semua pada ibuku, bukannya prihatin dengan kondisiku yang sedikit tertekan, ibu malah tersenyum. “mungkin karena terlalu cinta dan takut kehilangan kamu, makannya dia seperti itu” jelas ibu,santai. “tapi bu__” belum sempat aku meneruskan ucapanku, ibu memotongnya. “sudahlah nak, ibu tau kamu hanya mengada-ada. Ibu lebih tau dimas itu seperti apa, dia anak baik dan sopan. Dia sangat menghormati ibu dan dia sangat menyayangimu. Mana mungkin dia berani berbuat kasar dan menyakitimu.” Ucap ibu panjang lebar sambil menepuk bahuku. Dan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Aku tertunduk sedih. Mengapa ibu lebih percaya dengan ucapan manis orang lain dibandingkan anaknya sendiri. Gumamku lirih.

Hari ini aku berangkat kerja sendiri, Dimas bilang dia akan keluar kota untuk beberapa hari. Lega rasanya, aku seperti bisa sedikit bernafas untuk beberapa hari tanpa tekanan dari nya. Kali ini aku pergi ke kantor bersama sahabatku, Karin. cukup lama juga aku tak merasakan suasana seperti ini lagi. Menyenangkan sekali. Seperti yang sering aku lakukan dulu, aku membonceng karin setiap kita berangkat kerja. Saking senangnya bergurau dan bercanda, aku hampir saja menabrak seorang lelaki. Untung rem ku injak cukup keras, hingga motor berhenti tepat di depan lelaki itu. Tanpa di duga sebelumnya, ternyata itu Sandi. Teman kerja ku dulu, yang diam-diam aku kagumi. Sejak saat itulah aku semakin dekat dengannya. Entah mengapa ada perasaan nyaman saat ku berada di dekatnya. Bukan saja karena aku pernah mengaguminya sewaktu dulu. Tapi karena dia seorang tipe humoris. Dia sering kali menghiburku. Bahkan tak segan-segan aku menceritakan kisahku kepadanya. Dia selalu memberiku nasihat yang menenangkanku. Sepulangnya Dimas dari luar kota. Aku kembali merasa hidupku seperti di dalam penjara. 
Tapi ku tahan perasaan ini, demi ibuku. Tapi diam-diam tanpa sepengetahuan dimas aku selalu bertemu sandi. Dimanapun, kapanpun, Kami selalu menyempatkan bertemu walu hanya lima menit. Aku merasa ada yang berbeda dengan perasaanku. Mungkin aku mencitai sandi, dan sandipun begitu. Aku mulai berpikir tentang perasaanku, tak mungin bisa terus ku pertahankan hubungan ku dengan dimas. Karena selain aku tak mencintainya, Dimas sama sekali tak pernah membuatku bahagia. Akhirnya ku bulatkan tekadku untuk memutuskan hubunganku dengan Dimas. Dimas awalnya tak terima, tapi ku jelaskan secara perlahan, untungnya dia sadar dengan kesalahnnya selama ini. Aku tau dia teramat sangat menyesal, tapi ku bilang aku tetap tak bisa memberi dia kesempatan lagi. Sewaktu aku menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Dimas. Aku dan ibuku berdebat sangat hebat. Sepertinya ibu tak rela jika aku putus dengan Dimas, apalagi setelah ibu tahu aku memutuskan hubunganku dngan Dimas karena aku mencintai lelaki lain. Yang ekonomi dan status pekerjaannya jauh di bawah Dimas. Jika harus di katakan, mereka bagaikan langit dan bumi. Sandi memang orang tak punya, ia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Tapi aku sama sekali tak peduli dengan status sosialnya. Yang terpenting untukku dia sangat menyayangiku dan dia bisa membahagikanku walau dengan materi seadanya. 
Aku tak masalah, tapi ibu sangat menentang hubunganku dengan Sandi. Ibu bilang Sandi tak pantas untukku, selain itu Sandi mempunyai tiga orang adik sedangkan Sandi merupakan anak pertama, sehingga segala kebutuhan keluarga dan sekolah adiknya sandi yang membiayai. Bisa di bilang Sandi merupakan tulang punggung kelurga sepeninggal ayahnya dulu. “apa kamu siap hidup susah hah ? dari sejak kamu kecil ibu membanting tulang agar hidup kamu tidak kekurangan, agar semua kebutuhanmu tercukupi. Tapi sekarang kenapa kamu ingin melukai perasaan ibu dengan melihatmu menjadi orang susah?’ bentak ibu. Aku tak kuasa menatap kedua mata ibu, yang sepertinya memerah karena amarahnya yang meledak. “tapi bu..bukannya kebahagiaan seseorang itu tak bisa di ukur dengan seberapa banyaknya materi yang ia miliki. Aku sering mlihat orang kaya yang justru hidupnya tak bahagia. Aku benar-benar tak mencintai Dimas bu. Aku mncintai Sandi. Tolong ibu ngertiin perasaan aku. Sekali ini saja. Aku mohon bu.”ujarku lirih , aku mulai terisak. Sedikit demi sedikit air mata mulai jatuh membasahi pipiku.
“cinta hah ? kamu pikir saat kamu lapar kamu bisa makan cinta, kamu pikir beras di beli dengan cinta,begitu ?” bentak ibu lagi.
“Bukan begitu bu, yang terpenting buat aku adalah kenyamanan hati. Ibu tak pernah tau apa yang aku rasakan slama ini, aku tertekan bu .
“TERTEKAN? jelas kamu tertekan karena kamu tidak pernah mncoba membuka hati untuk dimas. Kamu sudah dibutakan dengan cinta.”
“aku telah mencobanya bu, aku selalu mencoba untuk mencintai dimas tapi tetap tak bisa. Aku mohon , restui hubunganku dengan sandi. Sandi anak baik bu, aku yakin kelak dia bisa menjadi imam yang baik untuk aku.”
“terseraah apa katamu, yang jelas ibu tetap tak setuju kamu berhubungan dengan orang yang tak jelas asal usulnya, jika kamu ngotot, silahkan. Tapi jangan salahkan ibu, jika suatu saat kamu hidup susah. Dan jika kamu tetap bersi keras, jangan panggil aku ibumu lagi, aku tak sudi punya anak durhaka seperti kamu. Kamu tinggal memilih. Lelaki itu atau ibu mu.” Perasaanku seperti tersambar petir mendengar ucapan ibu. Ibu masuk kedalam kamarnya. Aku masih terpaku di tempatku, tanpa sadar, tubuhku sepertinya lemas tak bertenaga, ku jatuhkan tubuhku di lantai. Aku menangis tersedu-sedu.
“Ya Allah,tolong bantu hamba. Lepaskan hamba dari pilihan yang menyulitkan hamba. Hamba yakin, hamba tak sedang dibutakan oleh cinta yang salah. Hamba mencintai Sandi, tetapi hamba tetap tak bisa mengorbankan perasaan ibu hamba. Beri hamba petunjukmu ya Allah.” Doa itu yang selalu aku ucapkan dalam setiap shalatku.

Semenjak kejadian malam itu, hubunganku dengan ibuku tak harmonis lagi. Aku rindu saat-saat aku bercerita kepada ibu tentang pekerjaanku, tentang teman-temanku, atau kejadian kejadian lucu yang aku alami. Ibu lebih senang mengurung diri dikamar. Ibu hanya sesekali keluar kamar untuk menyediakanku makan tanpa menemaniku makan sperti dulu. Rumah ini sudah seperti neraka bagiku. Batapa tidak, ibu tak pernah menyapaku, ibu msih marah kepadaku, ibu selalu menampakan wajah sinisnya di depanku. Pernah beberapa kali aku menghampiri ibu di kamarnya, aku bercerita tentang kelakuan gila teman-temanku. Tapi ibu tak memberiku respon, ibu mengacuhkanku. Jangankan untuk tersenyum , mendengar ceritakupun sepertinya tidak. Sebegitu bencikah engkau pada anakmu ini bu..? sebegitu salahkah aku dimatamu ibu? Salahkah jika aku mencintai pilihanku?

Hampir setiap hari aku menangis di rumah. Makanan yang ibu sediakan di meja makan sedikitpun tak ku makan, bukan tak ingin menghargai, rasanya hilang selera makanku. Aku sengaja meminta lembur kepada atasanku, aku mencoba menyibukkan diriku dengan pekerjaan. Itu satu-satu nya caraku untuk melupakan segala kesedihanku . sebenarnya atasanku tak memberiku ijin, mungkin dia tak tega melihatku. Badanku kurus kering, tetapi aku tetap memaksa. Aku tetap melakukannya. Hingga pada suatu hari aku berpikir untuk menemui Sandi dan menceritakan semua.
“Sandi, maafkan aku. Bukan aku tak mencintaimu. Tapi ibu tak merestui hubungan kita. Aku sudah di jodohkan dengan pilihan ibu. Aku harap kamu mngerti, aku tak ingin jadi anak durhaka. Aku tersiksa di musuhi ibu kandungku sendiri dalam satu atap. Ku mohon, mengerti aku. Aku sangat mencintaimu, tapi sepertinya takdir tak mengijinkan kita untuk bersatu di dunia ini. Akupun tak ingin menjerumuskanmu ke dalam masalahku. Aku mohon maafkan aku San.” Tangisku meledak, aku tak kuasa menatap wajah Sandi orang yang ku cintai yang kini harus ku tinggalkan selamanya. Aku berlutut di hadapan Sandi.
“Bangun Key, kamu tak perlu seperti ini. Aku memang sakit mendengar keputusanmu, tapi akupun tak ingin membuatmu semakin tersiksa jika harus mempetahankan egoku. Yakinlah key, cinta sejati itu tak harus memiliki. Walaupun nanti kamu akan menjadi milik orang lain, ku yakin pasti cintamu hanyalah untukku . akupun tak ingin merusakmu menjadi ank yang tidak berbakti, kembalilah kepada ibumu, katakan bahwa kamu akan menuruti keinginanya. Pergilah key...jangan pikirkan aku, aku tak yakin akan bahagia tanpamu, tapi untukku kebahagiaanmu lebih pnting di atas segalanya. Dan yang aku tau kebahagiaanmu adalah melihat ibumu tersenyum . pergilah.. bahagiakan ibumu.” Sandi mengangkat tubuhku, kulihat butiran air mata jatuh dari kedua matanya. Iya berusaha menyembunyikannya dariku, walapun kurasa usahanya itu percuma. Aku tetap tau bahwa dia menangis. Aku memeluknya untuk pertama dan terakhir kali. Sepertinya berat melepaskan Sandi. Aku memeluknya dengan erat, begitupun sebaliknya. Kemudian aku secepatnya berlari menemui ibuku dirumah, aku akan menyampaikan tentang keputusanku. Seperti biasa, aku masuk dengan mengucapkan salam, tapi ibu tetap tak pernah menyahut salamku. Aku masuk ke dalam kamarnya. Ku lihat ibu sedang menyulam sebuah kain.
“Bu..” sapaku lirih seraya mendekati ibu yang masih serius menyulam. Ibu tetap tak menghiraukanku.
“Bu , maafkan aku telah menyakiti hati ibu. Aku tak pernah bermaksud seperti itu. Ibu,, dengarkan aku sekali saja. Aku sudah berpikir, dan aku sudah memutuskan untuk kembali menerima Dimas, aku sudah memutuskan hubunganku dengan Sandi. Aku tau, ibu seperti ini hanya ingin melihatku bahagia bukan, untuk itu seharusnya juga aku membuat ibu bahagia. Aku hanya meminta satu hal dari ibu, tolong jangan musuhi aku bu, aku anakmu. Aku sangat menyayangimu. Aku sangat tersiksa ketika ibu acuhkan aku. Maafkan aku bu, aku berjanji tak akan mengulang kesalahan ini lagi, tak akan berani aku mnyakiti persaan ibu lagi. Apapun akan ku lakukan agar ibu bisa tersenyum kepadaku seperti dulu” ku dengar suara isak tangis ibuku.
“benarkah apa yang telah kamu katakan nak ? ibu sangat bahagia mendengarnya. Ibu selalu yakin kamu pasti memilih ibu.” Ibu memelukku. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan ibu. Akhirnya aku bisa merasakan lagi dekapan hangat ibuku yang sudah lama hilang. Walau sebenarnya batinku teramat tersiksa , tapi tak ku pedulikan itu. Ku sampingkan rasa sakitku demi melihat senyum ibuku. Semoga ini menjadi keberkahan dalam hidupku. Doaku dalam hati.

Hari ini akan di langsungkan akad nikah antara aku dan Dimas. Sejak saat itu, air mataku tak prnah berhenti mengalir mengingat Sandi. Tapi tetap ku sembunyikan semua itu depan ibuku. Aku tak mau ibu kecewa dan marah lagi padaku. Detik-detik menjelang ijab kobul, aku merasa tidak enak di sekujur tubuhku. Badanku menggigil kedinginan. Sebenarnya satu bulan kebelakang, aku memang sedikit kurang sehat. Mungkin karena terlalu banyak masalah yang menghimpit otak dan menguras tenagaku, hingga ku lalaikan kesehatanku. Dadaku sangat sesak, tiba-tiba saja di atas kepalaku seperti banyak kunang-kunang. Aku menjatuhkan kepala ke atas meja di depanku,,,braakkk. Sontak semua tamu berteriak, terutama ibu sepertinya ibu mencemaskan keadaanku. Dimas menopang bahuku,,
“keyy kamu kenapa keyy?? Bangunlah nak,, apa yang terjadi padamu?? Dimas cepet telpon dokter !” terdengar samar suara ibu di telingaku. Setelah itu akau tak tahu lagi apa yang terjadi padaku, yang aku tahu aku tebaring lemah di atas ranjang dengan selang infus di hidungku, samar-samar terlihat aku sperti di kelilingi Dimas, ibu, Karin, atasanku, jugaa....Sandi. Yah Sandi ada disini, membuatku sedikit tersenyum melihat wajahnya. Perlahan-lahan aku membuka mataku. Aku lihat ibu disampingku, memegang tanganku dan tak henti-hentinya menangis sambil berkata maafkan ibu nak,,maafkan ibu. Seperti itulah, berulang ulang kali ibu mengatakan itu.
“maaf untuk apa bu, ibu jangan menangis. aku baik baik saja bu, ibu jangan cemaskan aku“ ucapku terbata-bata. Aku berusaha susah payah mnecoba mnghapus air mata ibuku yang tumpah entah seberapa banyak air mata yang ia jatuhkan untukku, aku merasa berdosa telah mmbuatnya menangis seperti ini.
“maafkan ibu sayang, ibu yang salah, ibu yang egois , ibu yang tidak pernah mendengarkan keinginanmu, ibu yang tak pernah tahu kabahagaiannmu seperti apa, ibu tak pernah tau betapa tertekannya kamu nak, maafkan ibu,, ibu menyesal..” ibu menangis lagi, membuatku tak tahan dan aku ikut menangis, rasanya dadaku semakin sesak, badanku semakin kedinginan.
“ibu tak perlu minta maaf bu, melihat ibu tersenyum pun aku sudah sangat bahagia, senyum ibu jauh lebih berharga di atas segalanya,,”aku tersenyum pada ibuku. Kemudian aku menoleh ke arah Dimas dan Sandi ,,, aku meminta keduanya untuk menjaga ibuku. Mereka setuju. Khusus untuk Sandi aku tetap mngatakan aku sangat mencintainya.. ku lihat semua orang menagis. Mungkin ini saatnya aku pergi meninggalkan semua kehidupan di dunia. Tapi aku tak menyesal, karena di akhir hayatku aku bisa mengembalikkan senyum ibukku. Aku sangat menyayangi ibuku.. aku menutup mataku,, aku membaca syahadat dengan sedikit terbata-bata. Ku hembuskan nafas terkhirku disni. Terima kasih ibu untuk segalanya..aku anakmu, yang sangat mencintaimu.

*SEKIAN*

TAMAN KENANGAN

Hari ini tanggal 31 Juli, bertepatan dengan hari ulang tahunku. Uh… sangat menyebalkan! Semua orang seakan menjauh. Entah mungkin sengaja atau mungkin memang mereka lupa, Ibuku pergi ke Jogja dan belum pulang sampai sekarang. Sementara ayahku selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Andai mereka mengetahui perasaanku, Aku ingin marah tapi tak bisa, ingin sedih juga tak ada gunanya. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan ke taman kecil di pinggir danau untuk mencari udara segar. Walaupun masih sedikit gerimis, aku tetap nekat menuju kesana.


Sore itu, aku masih ingin menatap indahnya mentari senja. Kulihat banyak burung-burung berterbangan berpasang-pasangan. Lukisan langit yang indah sore ini, andai saja ada seseorang yang bisa menghiburku, pasti aku tak akan merasa sesedih ini. Disini dikota Padang ini, aku menanti sebuah keajaiban.
Taman Kenangan
Aku menyandarkan tubuhku pada batang sebuah pohon besar, menghadap ke sungai dan menujukan lamunanku kedalamnya. Oh tuhan.. betapa tenangnya disini…, tiba-tiba lamunanku terpecah.
“Siapa sih iseng banget? Ngelemparin batunya ke arah lain bisakan?”
“Eits.. maaf aku kira nggak ada orang, kamunya sih pake sembunyi dibelakang pohon segala, mirip nyi kunti tau? Hehe maaf ya?”
“Ya udah gapapa, tapi aku kok aku jarang liat kamu ya? Kamu siapa sih?”
“Aku Dimas Fernanda, biasa dipanggil Dimas. Rumahku di RT 07 diseberang jalan, aku baru pindah seminggu yang lalu”. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa garing. Tiba-tiba dia berbalik bertanya padaku
“Aku kan udah ngasih tau siapa aku, nah sekarang gentian kamunya lagi dong..”
“Namaku Arzelia, panggil aja Arzel. Aku juga tinggal di RT 07 diseberang jalan, mungkin aja kita tetanggaan”.
Rasanya aku ingin memukul kepalanya yang aneh itu, dia membuatku kesal karena langsung meninggalkanku begitu saja tanpa sedikit basa-basi. Ahh… tidak sopan. Tapi biarlah, lagi pula sudah hampir malam, suasana disekeliling danau juga sudah mulai gelap. Mau tidak mau aku harus pulang sendirian.
***

Berhari-hari sudah ibuku meninggalkanku, Aku hanya bisa memandangi fotonya saat ini. Fotoku bersama Ayah dan Ibuku. Disini aku selalu merindukannya, bahkan walaupun itu saat-saat dimana seharusnya mataku terpejam.

Dering nada handphone membuat aku kaget, segera kuraih benda itu. Kulihat layarnya dan disana kulihat ada nomor asing yang masuk.
“Halo?”
“Halo juga, emm ini aku dimas, itu lho yang ketemu kamu ditaman tadi” Jelas orang itu
“Oh, dimas,, ngapain nelfon malam-malam gini? Lagi banyak pulsa ya?” ejekku menggodanya.
“Pengen kenalan nih, maukan kamu jadi temanku?”

Aku menatap kembali foto-foto keluarga yang saat ini ku pegang, dengan tatapan kosong. Aku terhanyut dalam lamunan. Mengandai-andaikan jika saja orang tuaku berada disisiku saat ini.
“Eh.. kok diem aja sih?” Tegurnya membuyarkan fikiranku.
“Apa tadi? Apa? Ngobrolin apa?”
“Mau nggak temenan deket sama aku?”
“Boleh, toh lagian aku juga sendirian, nggak punya temen deket. Sahabat-sahabatku rumahnya jauh” Jelasku mengatakan padanya, walaupun sedikit berkesan seperti curhat.

Kamipun banyak bercerita tentang keseharian kami. Baik kebiasannya dirumah, hobinya, bahkan apa-apa yang tidak ia sukai. Akupun bercerita hal yang sama padanya. sepertinya aku mulai menyukainya, ia mendengar apa yang ku katakan dengan baik. Belum genap satu hari kami saling mengenal tapi rasanya aku seperti sudah lama mengenalnya.
“Upz.. udah malem nih, kamu ngga dimarahin telponan sampai larut malam begini?”
“Ayahku udah tidur, tinggal aku sendirian, tapi aku juga udah ngantuk sih”
“Ya udah, good night ya, nice dream”
“Night, papay dimas hehe” Ejekku sambil menutup telponnya.

Aku sangat bahagia malam ini, walaupun tak ada seseorangpun yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku, setidaknya dimas sudah bisa membuatku tertawa sebelum memejamkan mata untuk menatap mimpi-mimpi yang akan menghiasi mala mini dan tetap berharap ada keajaiban diesok pagi.
***

Pagi ini hari libur, aku ingin bersepeda berkeliling taman. Tapi Dimas menghampiriku, ia mengajakku untuk jalan-jalan. Ya, akupun menurutinya. Segera ku taruh sepedaku didepan gerbang yang ada disekitar halaman rumahku. Anehnya setiap kali aku melihatnya pasti dia mengenakan jaket dan sarung tangan. Hal ini sempat membuat aku curiga, ah tapi itu bukan permasalahan yang besar. Yang penting aku bahagia mendapatkan sahabat sepertinya.
Selama ini aku tidak pernah menduga, ternyata memiliki teman dekat itu sangat-sangat penting. Karena yang terbesit dalam fikiranku hanyalah bagaimana mengatasi masalahku sendiri, mengurus hidupku dan menjalaninya. Mengkin aku egois, tapi aku sebenarnya tidak ingin seperti itu. Kinipun aku tak hanya bisa bercengkrama dengan sahabatku sebatas karakter sms semata. Dimas, sosoknya nyata untukku. Seakan memiliki seorang kakak, aku berusaha menjadi adik yang baik untuknya.
“Dimas.. aku boleh nanya sesuatu nggak?” tanyaku dengan sedikit menundukkan kepala, ya mungkin karena aku sedikit gugup ketika berbicara tentang permintaanku padanya.
“Iya? Tanya apa zel?”
“Mau nggak kamu jadi kakak-ku?”
“Serius? Kamu nggak malu jadi adik ku? Aku kan jelek, nanti kamu diketawain sama teman-temanmu”
“Ih.. ya enggak lho, mau ya? Hehe”
“Tapi janji ya, kamu nggak boleh malu. Juga kamu nggak boleh nakal sebagai adikku”
“Janji deh kak dimdim” ejekku menggodanya
“Janjinya Arzel kakak pegang. Kalau sampai Arzel ingkar, kakak bakal ninggalin arzel”
“Wih, ancamannya sadis. Tenang aja, percayakan semua pada Arzel hehe”
“Janji diterima, kembali ke tempat dan laksanakan haha”
“Ih.. aku serius tau! Malah dimainin”
“Iya deh, mulai sekarang Arzel jadi adiknya kak Dimas ya…” Jelasnya, memastikan agar aku benar-benar mengiyakan janjiku.

Dimas adalah sosok kakak yang benar-benar tulus menyayangiku. Tak ada yang bisa menggantikan dia, bahkan rasanya aku seperti sudah mengenal dia sejak dulu. Berbeda dengan kebanyakan sahabat-sahabatku. Mereka tak selalu bisa menemani dan mengerti apa yang aku rasakan. Mereka lebih sibuk dengan urusannya masing-masing, sama seperti ayahku.

Dimas selalu bisa membuatku tersenyum, bagiku sekarang hal terindah dalam kehidupanku adalah bagaimana membuat dia tersenyum, juga membalas senyumnya dengan bahagia. Aku juga baru menyadari ternyata melihat sahabat berbahagia itu juga bisa membuat diriku sendiri bahagia. Tentu saja ini menambah rasa kagumku pada Dimas. Yang seolah telah membangunkan aku dari tidur panjangku selama ini.

Tapi kini aku merasa dia sedikit menjauh dariku. Sudah seminggu lebih aku tidak melihatnya. Aku selalu mengintip dari jendela kamarku. Aku berharap agar dia muncul kembali dijalan kecil dipertengahan kompleks perumahan kami. Namun sangat disayangkan, berhari–hari aku menunggunya, menunggu akan kehadirannya. Tak sedikitpun bisa ku lihat senyumannya yang bisa membuat hatiku tenang.

Aku meraih Xperia ku dari atas meja belajar. Aku menghubunginya tapi sama sekali tak bisa terhubung, aku masih tak habis pikir, mengapa dia tiba-tiba menjadi berubah drastis. Apakah ada salahku yang tak bisa dimaafkan olehnya? Ah.. tapi aku tahu , Dimas bukan laki-laki seperti itu mungkin dia sedang ada urusan, sehingga tak sempat untuk mengaktifkan handphonenya. Tapi semakin aku memikirkan dia, aku semakin bertambah penasaran saja. Yah, akhirnya aku memutuskan untuk datang mengunjungi rumahnya.

Aku mencoba menekan-nekan bel yang ada didepan gerbang rumahnya, sudah beberapa kali juga aku memanggilnya, tapi sepertinya rumah dimas kosong. Mungkin dia memang pergi meninggalkan aku. Kehilangan sahabat yang sangat baik seperti dia semakin membuatku pesimis. Mungkinkah akan nada lagi orang yang bisa menemaniku saat aku sendiri menjalani kehidupan di hari-hariku yang sunyi?

Seperti biasa, saat aku sedang galau dan ingin mencari hiburan. Aku akan duduk menyender dibawah sebuah pohon besar ditaman yang ada didekat danau. Aku memikirkan saat-saat dimas masih disini, ia menasehatiku untuk tidak melamun. Bahkan, kalau dia sedang gundah, dia akan melemparkan batu-batu kecil ke tengah danau, aku teringat juga tentang apa yang ia katakan saat kami sedang berdua disini. “Zel, lemparin batunya agak miring ya, nanti batunya bisa berubah jadi batu ajaib lho. Dia akan melompat, bahkan lompatan batu yang kakak buat bisa sampai enam kali lompatan lho” haha.. kata-kata ajaibnya sampai sekarang masih bisa membuatku tertawa, mungkin ini rasanya bila ditinggal oleh sahabat yang biasa membuat lelucon, sangat-sangat kehilangan rasanya.
***

Setengah bulan sudah Dimas menghilang tanpa kabar, beruntungnya Ibuku sudah pulang. Sehingga aku tidak merasa terlalu kesepian. Aku banyak bercerita tentang Dimas kepada Ibuku, Ibuku meresponnya hanya dengan menyimpulkan senyum. Aku berhenti menceritakan Dimas. Aku merasa, semakin aku mengenangnya, semakin aku merasa kehilangan. Saat aku melamunkannya tiba-tiba terdengar suara ketukkan pintu.
“Tok..tok.. Assalaamu’alaikum….” Samar-samar terdengar suara laki-laki yang sepertinya sudah taka sing lagi ditelingaku.
“Wa’alaikumussalaam..” Ibukupun membukakan pintu untuknya
“Zel, kesini nak, ada teman kamu,” teriak ibuku dari depan rumah
“Iya Ma, tunggu sebentar”.

Bak tersambar petir rasanya, ternyata laki-laki itu adalah Dimas, orang yang selama ini kunanti-nantikan. Rasanya seperti keajaiban yang sangat luar biasa. Ternyata dia tidak benar-benar meninggalkan aku.
“hiks…Kakak!! Kemana aja sih? Bikin cemas tau! Aku nyariin kemana-mana. disms nggak bisa, ditelfon juga nggak diangkat, aku kira kakak ninggalin aku” ucapku sedih.
“Jangan mikir macem-macem deh, kakak kan udah janji buat nemenin Arzel” tuturnya menjelaskan.
“ya kan Arzel takut kak dimas lupa sama janji kita”
“Ih, ngobrolnya jangan didepan pintu ah, ntar kualat lho, kata orang jaman dulu…”
“Apa?” sahutku memotong pembicaraannya. Aku kesal, saat seperti ini masih saja dia mengajak aku bercanda.
“Nggak deh, nggak jadi”
“Ya udah, kita ke taman aja gimana?”
“Wah ide bagus tuh”.

Akupun menarik tangan kanannya, tiba-tiba sarung tangan dan sebuah benda jatuh dari lengannya.
“Kakak?? Ini apa?” tanyaku penasaran.
“itu .. itu ..” jawabnya dengan terbata-bata,
“Ini tangan palsu kak? Jadi…” belum selesai aku berbicara, ia gentian menarik tanganku dan berlari mengajakku menuju taman. Setelah sampai, diapun menjelaskan mengapa ia sampai harus menggunakan tangan palsu.
“Zel, inilah kakak yang sebenarnya. Kakak yakin suatu saat nanti, hal seperti ini pasti akan terjadi. Kakak cacat zel…”
“Kenapa kakak tidak pernah cerita dari dulu?”
“Kakak takut, kakak akan kehilangan sahabat kakak lagi”
‘Tapi kenapa begitu? Aku senang bisa punya kakak angkat seperti kak dimas”
“Kakak tidak pernah mengerti fikiran dan isi hati tiap-tiap orang. Kakak tidak pernah tau kalau arzel benar-benar menyayangi sosok dimas sebagai kakak arzel dengan tulus”
“Kakak itu sudah arzel anggap seperti kakak arzel sendiri, apa kakak tidak pernah mengerti, bagaimana arzel ngejalanin hari-hari tanpa kakak? Sepi kak!! Sepi!!” aku mengatakannya sembari menangis, tapi seolah dia tak percaya padaku, malahan dia meninggalkan aku sendiri.
Sesampainya dirumah, nada sms di Xperia-ku berbunyi, ku tatap layarnya, ternyata kak dimas yang mengirim sebuah pesan singkat untukku.

05.35 pm
Zel, kamu taukan rasanya sendirian itu kaya gimana?, pasti sangat menyebalkan. aku sedih melihatmu sendiri. Karena aku hampir setiap hari merasakannya. Zel kalau kamu masih ingin aku jadi kakak mu, besok kamu pergi ke taman di pinggir danau ya..?
Aku merenung sejenak, mengartikan apa maksud dari sms itu. Mungkin aku terlalu berlebihan untuk memikirkan orang yang belum lama ini ku kenal. Tanpa sadar, hampir larut malam juga, aku memejamkan mataku, mencoba bermimpi. Mungkin saja yang dikatakan Ibuku benar “Mimpi adalah ingatan, lewat mimpi kita bisa melihat”. Aku ingin mengetahui, apa yang akan Dimas katakan saat kita bertemu nanti.
***

Sepulang sekolah, aku bergegas menuju taman. Disini, dipinggir danau. Aku menunggunya datang. Tak berapa lama aku menantinya, akhirnya dia pun muncul. Perlahan tapi pasti, ia mulai menceritakan masa-masa kecilnya. Ia bercerita padaku bahwa ia sudah cacat sejak lahir, bahkan yang lebih membuat aku terkejut, ia tak pernah merasakan bagaimana susah dan senangnya belajar di sekolah formal. Katanya dia dulu sempat masuk ke sekolah, tapi karena teman-temannya mengetahui kalau dia tidak memiliki tangan sebelah kanan, semua sahabatnya menjauhi dia. Teman-temannya seolah menganggap dia seperti monster. Dan karena itu untuk sekedar menyapanya saja sahabatnya tidak ada yang mau.
Dimas terus bercerita padaku tentang apa yang dia alami. Satu kesimpulan yang bisa aku ambil, dia lebih kesepian dalam menjalani hari-harinya. Dia berkata padaku “Kamu harus bersyukur karena kamu masih memiliki sahabat, walaupun mereka jauh darimu. Tidak seperti aku, satupun aku tidak memiliki sahabat di kediamanku yang dulu. Aku beruntung sekarang ada kamu sebagai adikku”.
Aku menjadi tersadar kembali, ternyata aku tidak boleh selalu melihat keatas. Aku merasa aku paling malang didunia ini. Tapi ternyata ada yang lebih menderita dari aku.
“Kakak sudah menceritakan semuanya, sekarang terserah arzel masih ingin menjadi adik kakak, atau justru menjauh dari kakak”.
“Buat aku, kakak terlalu special untuk dijauhi. Aku juga sendiri, jadi aku tak punya alasan untuk meninggalkan kakak”
“Kakak bahagia mendengar ini semua, terimakasih kamu tetap mau bersamaku”

Setelah dia menjelaskan itu semua, Ia mengajakku pulang. Sesampainya di rumah, aku melemparkan tasku diatas kasur. Semua buku-buku pelajaranku berserakan. Entah mengapa rasanya malas sekali aku membereskannya. Padahal harusnya saat ini aku merasa bahagia karena kak dimas sudah kembali.

Hari-hariku masih sama seperti biasanya, aku masih sering bermain bersama kak dimas, entah mengapa walaupun kami hanya sering bermain di taman, kami sedikitpun tidak pernah merasa bosan. Lagi pula aku tak pernah merasa sebahagia saat aku bersama kak Dimas. Kak Dimas pernah mengatakan bahwa impian besarnya adalah menjadi seorang pembalap. Sayangnya semua itu ia lupakan, karena ia sadar, tanpa tangan kanannya, ia bukan apa-apa.

Tapi bukan hanya itu yang menjadi impiannya. Dia juga ingin menjadi pelari profesional, karena baginya dengan berlari ia dapat menangis dan tersenyum, bahkan walaupun dia kalah, dia masih tetap mengatakan “Aku sudah sering kalah, satu hal yang aku pelajari dari kekalahan adalah, belajar tentang diriku dan orang lain. Agar suatu saat nanti aku bisa menjadi pemenang”. Ya, kata-kata itu masih bisa memotivasiku agar tetap maju dan pantang menyerah.
“Zel!! Kesini nak, ayo ikut mama” teriak ibuku dari depan rumah
“Iya ma, tunggu bentar” Ucapku panik
“Ayo ikut mama nganterin dimas, dimas sakit”
“Apa? Kak dimas sakit?? Kak dimas sakit apa ma?” tanyaku, shock mendengar penjelasan mama.
“Sudah nanti kamu juga tau sendiri. Sekarang kita bantu orang tuanya dimas nganterin dia kerumah sakit”
“Iya ma, ayo”

Aku, Mama dan Orang tua Dimas pun menuju rumah sakit dengan panik. Orang tuanya mengatakan bahwa tadi kak Dimas pingsan dan tak kunjung siuman. Jadi mereka panik dan meminta tolong ibuku untuk membawa Dimas ke rumah sakit.
***

Hampir satu bulan Dimas belum sadarkan diri, aku iba melihatnya terbaring lemah disana. Setiap hari sepulang sekolah aku menjenguknya untuk memastikan apakah dia baik-baik saja. Aku menunggunya sampai dia sadar dan bisa menemani dan menghiburku lagi, menyemangati aku dan member makna kehidupan untukku, Aku sadar, ada banyak Dimas didunia ini. Tapi Dimas yang luar biasa hanya kak Dimas seorang.

Ibu Kak Dimas tiba-tiba menghampiriku, Ia memberikan selembar surat dari kak dimas. Katanya, kak dimas menulis surat itu ketika ia sadar dari komanya. Yang anehnya aku tidak pernah mengetahui saat-saat kak Dimas siuman, mungkin saat aku sedang berada disekolah. Jadi aku tidak mengetahuinya…

Dear Arzel, adikku sayang…

Maafkan aku tidak bisa mewarnai setiap hari-harimu lagi.
Yah.. beginilah aku, dari kecil sampai sekarang memang sakit-sakitan.
Aku merasa bosan terus begini, bahkan terkadang aku berniat menghabisi nyawaku sendiri.
Namun saat aku tersadar kembali, aku memiliki orang-orang yang sangat menyayangiku.
Jadi aku mengurungkan niat bodohku itu,.
Aku tau, kehidupan ini hanya menginginkan aku untuk ikhlas dan mensyukuri apapun kekuatan yang ada padaku dan menggunakannya untuk melakukan sesuatu yang berguna untukku, keluargaku dan sesamaku.
Zel.. sebenarnya tak banyak yang kamu butuhkan untuk menjadi pribadi yang damai,
Mintalah bantuan Allah, dialah yang akan menguatkan bagian dimana engkau lemah.
Zel .. saat tuhan memanggilku nanti, kamu jangan sampai menangis. Aku tau kamu pasti mengerti kalau aku, hanya pulang kerumahku yang lebih nyaman.
Jadi, maafkan semua kesalahanku selama ini.
Never give up! Keep on fighting!
Aku harap, aku tetap bisa menjadi sahabatmu selamanya

Tertanda
Dimas Fernanda

Akupun menangis seketika setelah membaca surat itu, tapi aku sadar dia pasti tak akan suka melihat aku menangisinya. Karena tak tahan menahan air mata terus tumpah ini. Aku memutuskan untuk tidak menemuinya sementara waktu. Aku berharap dengan begini, aku bisa menghilangkan rasa sedihku.

Tiba-tiba mama menelfonku
“Halo… zel, kamu dimana?”
“Aku dirumah ma, ada apa?”
“Cepat kerumah sakit”
“Ada a….” belum sempat aku bertanya tentang apa yang terjadi mama sudah menutup telponku. Aku bergegas menuju rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu dengan Dimas.

Setibanya di Rumah sakit, aku bingung mengapa semua orang menangis. Bahkan mamaku pun ikut menangis. Segera aku menuju ke ruang rawatnya Kak Dimas. Aku bungkam seribu bahasa melihat apa yang telah terjadi pada kak Dimas. Seolah dunia ini berhenti berputar. Dia! Dimas, telah pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Aku merasa kesal kepada diriku sendiri, betapa bodohnya aku. Kenapa aku harus pergi disaat-saat terakhirnya.

Aku menyesal harus melihat dia yang terakhir kali, dengan kondisi tak bernyawa. Andaikan aku bisa memutar kembali tangan waktu. Aku tak akan pergi meninggalkannya.

Aku teringat pesan Dimas, dia melarangku agar tidak bersikap kekanak-kanakan lagi. Akupun malu, malu pada sifatku yang masih seperti itu. Aku mencoba untuk tidak menangis, tapi apa daya, air mataku tetap tumpah. Ah.. apa bisa waktu ku pinjam agar aku bisa bertemu dia lagi?
***

Setelah pemakaman Dimas selesai, aku berjalan kembali menuju danau. Aku duduk dan menatap lagi permukaannya yang tenang. Tanpa terasa, buliran air mengalir dari pelupuk mata. Aku memejamkan mataku, lalu melemparkan batu ke danau. Tapi semakin aku melakukannya, semakin aku teringat kenangan-kenangan indah bersamanya.

Mentari bersinar begitu cerah, kupandangi warnanya yang sedikit ke emasan. Ia terlihat seperti sedang tersenyum padaku. Dan kurasa senyum itu adalah senyum Dimas.
Aku merasa sedikit kecewa, ia tidak menepati janjinya untuk tetap menemani dan selamanya menjadi sahabatku. Tapi mungkin ityu sudah kehendak tuhan, apa daya tak ada yang bisa ku perbuat, aku hanya bisa mendo’akannya disini.

Hari ini, suatu hari di bulan September 2012. Aku merelakan kepergianmu. Aku mencoba mengerti, walaupun dia tak ada lagi disini, tapi kenangan-kenangannya akan selalu membuat dirinya hidup. Hidup disini, di hati setiap orang yang menyayanginya.
Tenanglah disana…
Kakak ku sayang...
-Tamat-
 

YANG TERBINGKAI MENJADI BANGKAI

Pagi ini, dengan tegar aku terus berjalan menjelajahi trotoar. Membawa sepotong kayu kecil dipakui gerincing sambil bernyanyi di depan warung, toko, serta orang-orang yang sedang asyik ngobrol bersama. Rasa malu tak boleh kupakai demi mendapatkan rejeki yang halal. Aku menjalaninya dalam wajah kegirangan. Syukurlah, baru beberapa menit telah kudapati uang Rp. 7000. Tuhan benar-benar maha penyayang. Semakin mendorongku untuk lebih semangat bekerja.

Tak lama kemudian... mataku terpanggil lampu lalu lintas tengah berwarna merah. Kendaraan-kendaraan yang ingin melewatinya berhenti semua. Kuhampiri mobil hitam bertuliskan Avanza di belakangnya. Lalu kunyanyikan lagu-lagu sendu disamping kanan kaca depannya seraya kugoncangkan sesuatu yang kubawa dengan kocak. Tiba-tiba, dibukalah kaca itu oleh pengemudinya.
“Subhanallah...,” ucapku dalam hati. Baru kali ini aku melihat makhluk tampan. Ditambah senyuman yang menjadi bumbu di wajahnya. Semakin menawan untuk kupandang. Sungguh malu diriku saat ini. Menerima uang darinya sebanyak Rp. 200.000.
“Maaf, Pak. Uang ini terlalu banyak,” ujarku sambil mengulurkan uang tersebut.
“Sudah, gak apa-apa. Ambil saja!,” tanggapnya, santun.
“Tapi...” lampu lalu lintas telah berganti hijau. Sehingga kaca mobilnya sudah tertutup kembali dan melanjutkan perjalanan. Membuat perkataanku terpotong tak terarah.
***
Yang Terbingkai Menjadi Bangkai
Di rumah, aku menceritakan pengalamanku sama bapak diwaktu aku bekerja siang tadi, walaupaun sebentar. Tapi, aku kecewa. Bapak hanya tertawa terbahak-bahak setalah mendengarkan semua yang kuceritakan. Padahal... aku ingin disanjung karena telah mendapatkan uang banyak.
“Ah, bapak ini mengecewakan Rina.”
“Lho!, emangnya ada yang salah dengan bapak?.”
“Nggak, sih. Tapi, kenapa bapak tertawa?.”
“Aduh... kirain kenapa. Bapak tertawa, karena bapak bangga punya anak seperti kamu. Baru mulai bekerja, sudah membawa uang sebanyak itu. Kamu benar-benar hebat!.”
“Alhamdulillah, pak. Itupun berkat laki-laki itu. Kok bisa ya?, dia langsung memberikan uang sebanyak itu kepada Rina.”
“Mungkin, dia mencintaimu, nak.”
“I...h..., bapak ini ada-ada saja. Sudahlah, jangan diungkit-ungkit lagi. Lebih baik, kita istirahat dulu yuk, pak. Rina capek. Besok kan mau kerja lagi.”
“Benar, bapak juga capek, nih.”
***

Keesokan harinya, seperti kemarin aku kembali kerja. Terus mengamen di tempat-tempat seperti kemarin pula. Tanpa terasa, uang yang kupegang sudah berjumlah Rp. 15.000. cukup puas untuk memenuhi kebutuhan hidup kami dalam dua hari.
“Ya Allah, terimakasih Engkau telah menurunkan rejeki pada kami.”

Tak kusangka, mobil itu berhenti seketika di dekatku. Gimana ini?. Aku harus menghindar. Iya, aku harus lari. Rasa maluku akan bertambah, jika dia memberiku uang lagi. Tapi, gimana dengan cinta ini?. Ah, mustahil bagiku untuk memilikinya. Dia orang kaya. Sementara aku, hanya pengamen jalanan tak punya ibu. Hidup dengan seorang bapak ditimbun kefakiran. Mendingan, aku cepat-cepat lari.
“Hei...!, kenapa lari?.” Sejenak kuberhenti. Dia memanggilku. Apa yang akan kulakukan?. Aku merasa tidak enak padanya. Dia sudah memberiku uang banyak.
“Tunggu...!.” Aku kasihan. Lebih baik kutunggu saja, sekedar menghargainya.
“Kamu kok lari, sih?,” tanyanya dengan nafas tersendat-sendat.
“Maaf, pak,” jawabku, singkat dan gugup.
“Tolong, jangan panggil aku dengan sebutan itu. Namaku Jaka. Panggil saja, Jaka. Bisa kan!.”
“I...iya, Jaka.”
“Nah, gitu dong!. O,iya. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?.”
“Rina.”
“O...h, Rina.” Setelah itu, beberapa detik dia menghentikan perkataannya. Sambil lalu mengeluarkan dompet dari saku celana pensilnya.
“Ini ada sedikit uang untuk bekalmu,” ujarnya, menyodorkan tiga lembar uang padaku. Berjumlah Rp. 300.000.
“Bukannya aku tidak mau, nerima uang darimu. Tapi, uang yang kau berikan kemarin itu sudah terlalu banyak untuk kuterima,” tambahku, menolak.
“Anggap saja, uang ini kenang-kenangan dariku. Terimalah!, aku mohon.” Dia menawar tanggapanku. Terpaksa aku menerimanya dengan menampakkan wajah seri. Walau sebenarnya rasa malu semakin menyetubuhiku.
“Terimakasih. Semoga Tuhan menggantinya yang lebih besar padamu. Kalau gitu, aku pamit pulang dulu, ya!.”
“Sebentar, Rin. Ada yang perlu kubicarakan sama kamu.”
“Apa?.”
“Emmm...”
“Cepat!. Aku terburu-buru.” Ucapku, mendesak.
“Aku mencintaimu.” Singkat serta cepat, kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Pura-pura ku tak peduli akan itu. Segeralah aku pulang menggunakan kecepatan kaki.
***

Usai langkahku menginjak beranda rumah, kembali kuceritakan kejadian yang kualami barusan. Sekarang, bapak tertawa lagi. Tapi, aku sudah tahu apa maksudnya. Pasti bapak membanggakanku.
“Permisi...” Aneh, Jaka kok bisa tahu arah menuju rumah ini?. Padahal, aku tak pernah memberitahukannya. Dan mau apa dia kesini?.
“Iya. Kemari, nak!.” Bapak mempersilahkannya. Jaka pun masuk dan langsung duduk di lantai tak beralas, di depan bapak. Kemudian, dia memperkenalkan dirinya sambil berjabatan tangan dengan bapak.
“Dialah yang memberi uang sebanyak itu kepada Rina, pak,” aku mempertunjukkan kebaikannya.
“O...h, ternyata ini orang yang kau maksud mulai kemarin!,” seru bapak untuk meyakinkan dirinya.
“Benar, pak,” tambahku. Begitu bapak sudah mengerti, dengan sangat bapak mengucapkan terimakasih padanya. Namun, Jaka hanya menjawab dengan senyuman.

Beberapa menit kemudian...
“Ngomong-ngomong, kedatangan saya kemari untuk...” Ada keraguan di mata Jaka dalam mengungkapkan perkataannya.
“Untuk apa?. Silahkan, jangan ragu-ragu,” balas bapak.
“Begini, pak. Saya bermaksud untuk melamar Rina.” Jantungku berdansa saat mendengar suara itu.
“Ya, iya. Tapi, maaf. Bapak tidak bisa berpihak dalam hal tersebut. Semua jawaban ada di tangan Rina,” bapak mengelak, memasrahkannya padaku.
“Akupun juga minta maaf. Aku tidak bisa pula berpihak dalam hidupmu.” Kendati aku sangat mencintainya, kurasa tidak secepat ini aku harus jadi istrinya.
“Maksudmu?.” Dia kebingungan, sampai mengerutkan dahinya.
“Aku benar-benar minta maaf, Jak. Aku hanya ingin hidup bersama bapak tanpa terhalangi siapapun. Alangkah baiknya, kita temenan saja.”
“Aku mohon, Rin. Terimalah aku!. Apapun akan kuberikan, jika itu merupakan persyaratan. Atau uang yang kuberikan masih kurang?. Demi kamu, akan kutambah, Rin.”
“Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak butuh persyaratan. Dan, aku bukan barang.Yang bisa dibeli dan ditawar. Cepat pergi!. Kau fikir, kamu bisa menguasai segalanya dengan uang!. Kalau kamu gak rela, akan kukembalikan sekarang juga.”
“Gak perlu, Rin. Aku akan pergi dari sini.” Berakhirlah percakapan kami setelah dia melontarkan kata-kata itu. Perlahan dia keluar dari beranda, sehingga langkah demi langkahnya telah tak terlihat. Sedangkan bapak hanya membisu, menggeleng-gelengkan kepala.
***

Tanpa terasa lama, waktu menghipnotisku telah menjadi satu minggu sampai sekarang. Heran, dalam minggu ini, Jaka tak pernah muncul di mataku. Apa dia marah akan semua perkataanku?. Baru saat ini, aku merindukan sosok itu. Rindu yang mendalam. Tapi, kehadirannya sudah kutolak. Sudahlah, tak usah kufikirkan perasaanku ini. Yang harus kufikirkan tentang kelakuannya. Sejak dia terbit di hadapanku, wajahnya menunjukkan banyak kebaikan. Namun, kenyataan tiba-tiba saja bertandang dalam kepastian. Mentang dirinya kaya, dia berbuat seenaknya dengan uang. Ah..., malas aku mengingatnya.
“Nak Rina!.” Bersama colekan tangan di pundakku, suara itu terbias dari belakang. Segeralah aku menoleh dengan kaget.
“Nenek!, kirain siapa. Ada apa, nek?.” Ternyata nek Sambi, seorang nenek bertempat tinggal di sebelah timur rumahku. Rasa kaget tertelan oleh wajahnya.
“Cepat pulang, nak!. Keadaan di rumahmu dalam keadaan gawat,” jawab nek Sambi, penuh keresahan.

Tak banyak pertanyaan, hatiku ditemani penasaran. Kulempar alat ngamen yang kupegang. Secepat mungkin aku harus menyaksikan keadaan di rumah.
“Kenapa riuh, dan banyak orang?,” ucapku lirih, ketika jejakku menempati dekat pagar antara lorong dan rumah. Lalu, kuhampiri bapak yang terlihat kebingungan menghadapi orang-orang itu.
“Astaghfirullah!,” aku terkejut. Di depan mereka, ada Jaka dan dua brewok disamping kanan serta kirinya.
“Lihat, bapak-bapak, ibu-ibu!. Gadis inilah yang mengikat janji dusta. Saya dimintai uang banyak olehnya, sebagai syarat untuk saya kawini. Tapi, setelah saya memenuhi persyaratan itu, dia pura-pura tidak ingat akan janjinya. Dan menolak lamaran saya. Lebih parahnya lagi, uang yang saya berikan sudah habis dimakan!.” Seperti orang berdakwah, Jaka menyaringkan suara kepada mereka. 
Akhirnya, mereka bersorak-sorak, tanda mengejek pada kami.
“Diam, diam...!,” aku berteriak. Terdiamlah mereka.
“Dia bohong!. Aku tak pernah melakukan janji itu,” aku melanjutkan teriakan, sekuat tenaga.
“Sudah, jangan sembunyikan lagi rahasiamu. Sekarang, cepat kembalikan uangku!. Kalau tidak, aku dan anak buahku ini akan mengusir kalian secara paksa.” Jaka semakin membentak.
“Nak, kenapa kamu tega memfitnah Rina seperti ini?. Maaf, jika perbuatannya tidak seperti apa yang kau inginkan. Kasihanilah kami, nak. Uangmu sudah kami pakai untuk makan dan juga bayar hutang. Dimana kami akan bertempat tinggal?, jika kami terusir dari sini!.” Seraya berlutut serta menangis, bapak minta keringanan pada Jaka di hadapannya. Sia-sia, sama sekali dia tak menghiraukan.
“Sudah, pak. Bangun!. Ayo kita pergi dari sini. Tidak ada gunanya bapak mengemis-ngemis pada orang licik seperti dia.” Tak tega diriku melihatnya, dijadikan budak oleh Jaka. Kubangkitkan tubuhnya alun-alun. Kemudian, kami pergi menggendong kegalauan dan kesedihan. Diiringi sorakan serta ejekan mereka yang tak tahu alur kejadian sesungguhnya.

AKU RELA TERLUKA , ASALKAN DIA BAHAGIA

Ardi adalah sahabat baik Ria. Tapi sesungguhnya Ardi sangat mencintai Ria. Ardi ingin mengungkapkan perasaan itu tapi dia selalu mengurungkan niatnya,dia tidak ingin merusak persahabatanya dengan Ria hanya karena masalah ini.

Ardi selalu bangun pagi-pagi, lalu dia selalu menelefon Ria untuk membangunkannya. Ini di lakukan Ardi setiap pagi. Dan Ria mengangkatnya dengan masih menahan kantuk. Ria adalah cewek manis,tinggi dan suka banget shopping.Dia juga cewek yang baik, temen-temennya suka banget berteman sama Ria.
“Hallo...” Sapa Ria di seberang dengan masih menahan kantuk.
“Hoee..ayo bangun udah pagi ni.” Teriak Ardi di telefon.
“Wah biasa aja donk teriaknya, kuping gue budek nich.” Jawab Ria kaget.
“Makannya cepetan bangun sana terus mandi..udah siang nich!” Tambah Ardi
“Iya,iya...bawel banget sih..” Jawab Ria.

Aku Rela Terluka, Asalkan Dia Bahagia
Walaupun Ria masih mengantuk akhirnya dia bangun juga.Ria langsung menuju kamar mandi, setelah dia mandi dan sudah berpakaian dia turun dari kamarnya menuju dapur, dia kelaparan.
“Bik nggak ada makanan?” Tanya Ria kepada pembantu kesayangannya Bik Minah.
“Ada non,non tunggu aja di meja makan, sebentar lagi siap non.” Jawab Bik Minah.

Setelah menunggu beberapa saat,akhirnya makanan Ria datang juga.
“Ini non makanannya,makan yang banyak ya? Biar gemuk? Hehe.” Canda Bik Minah.
“Bibik bisa aja,nanti kalau aku gemuk,jadi nggak cantik lagi donk hehehe.” Jawab Ria dengan tersenyum.
Selesai makan Ria menuju kamarnya,dia bingung mau ngapain hari libur gini. Ria memutar musik supaya pikirannya tidak jenuh,tapi dia masih aja jenuh. Lalu dia kepikiran buat ngajak teman-temannya untuk pergi ke mall,buat sekedar makan,supaya dia nggak jenuh. Ria langsung mengambil Hpnya yang ada di atas meja dan langsung menelepon Ardi,Syifa, Clara dan Aji.

Setengah jam kemudian Ria sampai di Mall naik mobilnya yang baru di belikan ayahnya. Teman-temannya sudah sampai duluan dan menunggu Ria. Ria bergegas masuk ke dalam Mall, Ria clingukan mencari temanya, karena sibuk mencari teman-temannya,Ria tidak melihat kalau di depannya ada seorang cowok yang membawa minuman. Bruckkkk..........................
“Aduh mbak maaf, saya tidak melihat ada mbak di situ..maaf ya mbak? Kata cowok itu dengan rasa bersalah.
“Hemzz...nggak apa-apa maz,saya yang salah karena sibuk mencari teman saya,sampai saya nggak tau kalau ada mas di depan saya, maaf mas.”Jawab Ria sambil sibuk membersihkan bajunya yang terkena tumpahan minuman yang di bawa cowok tadi.
“Bukan mbak yang salah tapi saya,Saya benar-benar minta maaf mbak, sini mbak saya bersihkan.” Kata cowok itu lagi.
“Enggak mas terima kasih,nggak apa-apa saya yang salah.” Kali ini Ria menatap cowok yang di tabraknya.Dan... Degg.....“Gila ganteng banget ni cowok makan apaan sih kok bisa ganteng gini?” pikir Ria dalam hati. “Hemzz saya ganti ya mas minumannya?” Tambah Ria.
“Hemzz...nggak apa mbak saya bisa beli lagi nanti, ya udah mbak saya duluan. Sekali lagi maaf.”Kata cowok itu,dan berlalu. Tinggal Ria yang masih melongo melihat cowok itu.. setelah sadar dari lamunannya Ria bergabung dengan teman-temannya.
“Kemana aja sih Ya lama banget? Terus kenapa baju loe basah gitu?” Tanya Ardi dengan cemas,dan di tambah dengan teman-temannya.
“Sorry teman-teman tadi aku lagi da masalah dikit, tadi aku sibuk cari kalian ech aku nabrak cowok minumannya tumpah ke bajuku.” Jawab Ria.
“Ya syukur dech loe nggak apa-apa.” Tambah Clara.
“Hemzz tau nggak? Cowok yang aku tabrak tadi ganteng banget. Gila ganteng banget.” Kata Ria histeris.
“Memangnya siapa? kamu dah kenalan?” Tanya Ardi,dengan menahan rasa cemburu.
“Belum sih nggak sempat,ya semoga aja aku bisa ketemu lagi sama dia.”Jawab Ria.
***

Bel tanda usai pelajaran berbunyi. Ria masih sibuk membereskan buku-bukunya,sedangkan Ardi,Clara,Syifa dan Aji menunggu Ria di depan pintu.
“Cepetan donk Ya,katanya mau beli novel terbaru,keburu habis di sikat pembeli ni.” Teriak Syifa.
“Iya...bawel banget sih.” Jawab Ria dengan berteriak juga.

Selesai membereskan buku-bukunya,Ria langsung di tarik Ardi untuk buru-buru ketoko buku. Sesampainya di toko buku, Ria and friend langsung memasuki toko buku itu dan langsung menuju rak dimana buku yang mereka cari di pajangkan. Syifa,Clara dan Ria sibuk mencari novel-novel yang mereka suka,sedangkan Aji dan Ardi sibuk mencari komik.Ria menemukan novel yang ia suka dan ingin membelinya. Karena tidak menyadari kalau ada cowok di belakangnya yang juga ingin membelikan novel untuk sang adik. Saat Ria berbalik ingin menuju kasir untuk membayar novel yang di sukainya tiba-tiba......brakkk....Ria dan cowok itu bertabrakan lagi. Dan anehnya Ria malah seneng nabrak cowok itu, karena cowok yang di tabraknya sekarang adalah cowok yang di tabraknya waktu di malll,cowok yang membuat Ria nggak bisa tidur semalaman, dan cowok yang membuat Ria penasaran. Spontan temen-temen Ria menoleh semua,termasuk Ardi yang mulai merasakan hal yang tidak nyaman di hatinya.
“Aduh maaf-maaf.....” Kata Ria dengan membantu cowok itu mengambil bukunya yang jatuh karena di tabrak Ria.
“Ia nggak apa-apa kok. Santai aja.” Jawab cowok itu.
“Wah..kamu?? kita bertemu lagi.maaf ya udah nabrak kamu sampai dua kali?” Kata Ria.
“Och..iya kita bertemu lagi. Hemzz..gak apa-apa kok mungkin aku juga yang salah tadi. Ngomong-ngomong sama sapa kamu kesini?” Kata cowok itu.
“Sama teman-teman. Tu mereka lagi nglihatin kita. Oh iya nama kamu siapa kita belum sempat kenalan kan? Kenalin aku Ria.” Kata Ria memulai perkenalannya.
“Aku Revan. Oh iya sorry ya aku harus buru-buru soalnya di tungguin adhik aku di rumah, boleh minta no Hp kamu? Nanti aku hubungi kamu.” Jawab cowok itu.
Spontan Ria langsung shock sekaligus seneng cowok yang membuat dia nggak bisa tidur semalaman minta no Hpnya. Tanpa basa-basi lagi Ria langsung memberi tahunya. Cowok itu yang ternyata bernama Revan berterima kasih dan pergi sebelum pergi dia sudah berjanji akan menghubungi Ria nanti malam.
Di sisi lain Ardi merasa sangat cemburu melihat Ria dan Revan,tapi Ardi berusaha menyembunyikan perasaannya ini walau sebenarnya ingin sekali dia bertanya pada Ria,siapa cowok itu dan apa hubungannya dengan Ria. Ardi ingin bertanya sekarang,tapi dia rasa belum waktu yang tepat,karena suasana hatinya sekarang sedang kalut. Dia tidak ingin amarahnya meledak nanti di depan Ria. Ardi tidak mau itu terjadi. Dia tidak ingin menyakiti Ria.

Ardi,Syifa,Clara dan Aji pulang nebeng mobil Ria karena mereka tadi datang naik taksi mobil mereka di pakek nyokap-nyokap mereka semua. Di sepanjang perjalanan pulang Ardi sedikit beda,dia lebih banyak diam daripada bergurau dengan teman-temannya. Ria dan teman-temannya binggung melihat perubahan sikap Ardi yang tiba-tiba.
“Ar loe kenapa sih kok jadi pendiam gitu,aneh deh?” Tanya Syifa.
“Iya loe kenapa sih?Apa loe tadi lihat Ria kenalan ama cowok tadi loe jadi murung gini? Hahaha.” Ejek Aji.
“Jangan-jangan loe cemburu lihat Ria tadi?” Tambah Clara.
“Apa-apaan sih kalian, ya nggak lah Ria kan sahabat aku,aku seneng dia deket ama cowok.Kenapa harus cemburu?” Kata Ardi bohong.
“Iya bener kata Ardi,nggak mungkin lah Ardi cemburu.” Tambah Ria. Sedangkan Aji,Syifa dan Clara tersenyum dan saling berpandangan.
Malam harinya, di kamar,Ria menunggu telvon dari Revan. Setelah beberapa saat menunggu,akhirnya Revan telvon juga. Mereka berbasa-basi sesaat, dan mereka akirnya memutuskan untuk ketemuan keesokan harinya. Dan televon pun putus.
Hari ini Ria dan Revan bertemu di cafe ceria, mereka ngobrol dengan santai,dan beberapa saat saja mereka berdua sudah sangat akrab dan makin dekat.

Malam ini Ardi datang kerumah Ria Ardi nekat ingin mengungkapkan perasaanya kepada Ria,walaupun dia harus mengorbankan persahabatanya. Tok,tok.....terdengar pintu di ketok dan Ria langsung membukanya.
“Ardi....tumben kesini? Wah bawa apa nie? Masuk..!!” Kata Ria.
“Bawa makanan buat kamu pasti laper kan? Lagi bete di rumah jadi kesini aja” Jawab Ardi
“Hemzz donat coklat..enak nich kayaknya..aku makan ya?” Kata Ria senang mendapatkan donat coklat kesukaannya.
“Silahkan..!! Ya aku mau ngomong.. sesuatu.” Ardi memulai berbicara.
“Ngomong aja” Jawab Ria sambil mengunyah donatnya.
“Sebenernyaa........sebenernya aku......
“sebenernya apa Di?”
“Sebenernya aku....aku sa...sa...” Belum sempat Ardi ngomong HP Ria berbunyi dan itu dari Revan. Ardi hanya bisa pasrah..dan karena Ardi udah nggak tahan lagi mendengar Ria dan Revan telvon-telvonnan akhirnya Ardi pamit pulang.
***

Berkali-kali Ria dan Revan jalan bareng, dan suatu hari Revan menyatakan perasaannya kepada Ria di sebuah taman yang sudah di persiapkan Revan sejak awal.
“Ria...aku boleh ngomong sesuatu?” Kata Revan serius.
“Ya boleh lah,ngomong apa?” Jawab Ria serius juga.
“Sbenarnya aku...........aku......aku sayang kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Kata Revan.
“Apa.....? Kamu sayang aku? Beneran?” Jawab Ria dengan tidak percaya tapi di dalam hati dia seneng juga karena sebenarnya inilah yang di tunggu-tunggu Ria.
“Iya aku sayang sama kamu aku cinta kamu. Kamu mau kan jadi pacarku Ria,aku mohon.” Kata Revan dengan berlutut di depan Ria.
Tanpa basa-basi lagi Ria langsung mengangguk. Dan Revan langsung memeluk Ria.

Dirumah Ria langsung menelevon Ardi dan sobat-sobatnya. Dan yang pertama di televonya adalah Ardi.
“Hallo.” Sapa Ardi di seberang.
“Haloo Ardi sahabatku tersayang. Lagi ngapain nich?” Tanya Ria dengan sangat senang.
“Wah tumben kenapa nich? Kayaknya lagi seneng banget, habis dapat undian ya?” Tanya Ardi.
“Hahahaha....hemzzzz Ardi loe harus tau kenapa gue seneng banget hari ini. Langsung aja ya? Hemzz....Gue jadian sama Revan, gila gue seneng banget.” Kata Ria riang.

Degggg.........spontan jantung Ardi berdetak kenyang,dia shock mendengar perkataan Ria tadi. “Ria jadian sama Revan?” Nggak mungkin. Pikir Ardi.
“Hallo Ardi,loe masih di situ kan?” Tanya Ria yang mulai aneh karena Ardi diam saja.
“Ia Ya aku masih di sini kok. Hm selamat ya Ya moga langgeng aja. Aku ikut seneng.”Kata Ardi
“Makasih Ardi kamu emang sahabat aku yang paling baik. Bye Ardi sampai ketemu besok di sekolah ya?” Ria langsung menutup telvon. Tinggal Ardi yang shock mendengar Ria dan Revan jadian.
Ardi termenung dikamarnya di depan jendela dia bersedih karena cintanya kepada Ria bertepuk sebelah tangan. “Ria kenapa kamu nggak lihat aku di sini? Aku sangat mencintaimu, sangat, sangat mencintaimu kenapa kamu pilih Revan? Apa kurangnya aku Ya?” omel Ardi sendiri. Tak terasa air mata Ardi menetes, air mata kesedihan Ardi.

Setahun sudah berlalu Ria dan Ardi sudah lulus SMA dan mereka lama tidak bertemu karena mereka kuliah di fakultas yang berbeda. Ria masih dengan Revan dan Ardi masih sangat mencintai Ria.
5 tahun kemudian Ardi mendapat undangan pernikahan, dan di dalamnya tertulis nama Andria Karine dan Revan Andika betapa kagetnya Ardi membaca nama yang terpampang di undangan itu, Ria sahabatnya yang dicintainya menikah. Ardi bingung apakah dia harus senang ataupun bersedih. Ardi mendatangi pernikahan Ria dan Revan di lihatnya Ria sangat cantik dengan gaun pengantinnya, disampingnya Revan yang sangat tampan dengan jasnya.”Betapa sangat serasinya mereka.” Kata Ardi dalam hati. “Ria,semoga kamu bahagia selamanya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu karena aku menyayangimu. Aku rela terluka asalkan kamu bahagia, selamat menempuh hidup baru sahabatku.”
...TAMAT...

KEBENCIANKU DENGAN LAKI-LAKI

Saat aku berumur 3 tahun. Aku mempunyai kakak sepupu yang aku cintai. Tetapi ada yang melukainya dan ternyata pacar kakaku sendiri. Sehinga sampai sekarang jenazahnya tidak ditemukan, disinilah ber awalnya aku membenci laki-laki. Tetapi itu berubah saat ku ketemu dengan laki-laki yang baik dan dia mengubahku menjadi berfikir positif dan tidak membenci laki-laki lagi
****

Saat ku berumur 3 tahun. Aku mempunyai kakak sepupu bernama Laura Putri Aggraini aku memanggilnya Kak Aura. Dia adalah kakak yang aku sayangi karna hari tanpa hari aku slalu bersama. Dia memempunyai pacar namanya Reinaldo Michael pacar kakakku sering memukulin kakakku. Aku sering menangis saat kulihat kakakku luka di pipinya aku slalu berdoa pada tuhan.

Kebencianku Dengan Laki-laki
“Tuhan apa salah kakakku sehingga ia mempunyai kekasih sejahat itu bukakanlah hati kakakku biar dia tau kalau pacarnya yang dia cintai tidak pantas untuknya dia sering memukulinnya tuhan kuatkanlah kakak ku agar dia bisa dapat menghadapi cobaan ini”ucap doaku tiba-tiba ada yang mengetok pintu rumah “tok tok tok” bunyi ketokkan mama memanggilku”Imut ada Kak Aura ayo keluar dari kamar”mama memanggilku ternyata yang mengetuk pintu itu kak Aura. Imut adalah panggilanku karna aku imut
“Ada apa kakak kesini tumben mau cerita tengtang pacar kakak yang jahat itu” kata ku sedikit kesal
“Iya adikku yg manis kakak tidak tahan lagi diperlakukan seperti ini terus tapi kakak sangat mencintainya kakak juga yakin Rein itu baik dia tidak sengaja berbuat seperti itu dik bagaimana pendapat kamu”kata kakak ku minta pendapat kepada ku
“Kakak minta pendapatku kakak kenapa harus cinta sama orang yang udah menyiksa kakak dan kalau dia baik tidak mungkin dia berani menggampar kakak memukuli kakak aku tidak mau kak, kakak terus dianggap seperti hewan kakak manusia yang bukan untuk disiksa” kata ku sambil menggeluarkan air mata
“Dik kakak tidak merasa diri kakak disiksa sama Kak Rein, Kak Rein berbuat itu karna dia sayang sama kakak iya udah kalau begitu kakak pulang dulu karna udah sore” kata kakak pamit pulang

Saat kakak pulang aku mulai menangis sehingga mamaku bingung kenapa aku menangis.Mama mungkin berfikir aku masih kecil bicara ku aja masih kepotong –potong.Tetapi hanya kakakkulah yang mengerti perkataanku. Aku menangis karna hatiku, mungkin aku memang masih kecil tapi hatiku bisa rasain bagaimana kalau aku jadi kakakku pasti sakit banget tuhan sudah cukup engkau membuat kakakku tersiksa atas cobaanmu. Aku tak mau kehilangan kakak yang selalu ada utukku yang menghiburku saatku sedih menemaniku saatku kesepian. Pagi hari sangat cerah sekara adalah hari selasa kak aura lagi sekolah
“Imut mau ikut kakak ngga jalan-jalan kalau mau ikut cepat”kata kakakku mengajaku jalan-jalan
“Ikut kak tunggu sebentar aku lagi ganti baju, ayo jalan”kata ku mengajak untuk pergi

Saat perjalanan hatiku aneh banget hatiku bilang pulang jangan terusin ada yang ikutin kamu hatiku benar tiba-tiba ada 3 orang laki-laki memakai topeng. Tapi aku kenal satu dari orang yang bertopeng ini seperti Kak Rein, 2 orang laki-laki menarik kakakku 1 orang lagi menarik rambut itu aku rasa sakit banget
“Jangan tarik rambut adikku, kalian boleh menyiksaku tapi jangan adikku dia tidak salah” kata kakakku sambil menangis
“ Ok kita tidak akan menyiksa adik tersayangmu tapi aku hanya ingin mengambil kalung dan mendorongnya”kata seorang dari orang bertopeng dan menarik kalung dari leherku itu sakit
“Kalian jangan membunuhnya kakakku dia tidak salah apa-apa”kataku sambi menangis
“Iya kamu benar kami akan melemparnya ke sungai,ohh iya laura kamu mau ngomong sesuatu pada adik tersayangmu”kata seorang dari orang bertopeng
“Adiku yang kakak sayangi kamu harus turuti permintaan kakak kamu harus menjadi orang yang pemaaf dan tidak menyipan dendam kalau kamu kangen sama kakak kamu lihat aja bintang kakak ada disana I LOVE YOU Veronika” kata kakakku dan kakak kutlah jatuh aku tak tau mau bilang apa lagi mereka langsung menarik aku. Aku langsung digampar dan aku hanya ingat tiba-tiba aku udah ada di rumah sakit kulihat badanku penuh dengan luka ternyata aku udah koma selama 3 hari

Aku rasa ada yang kurang aku baru ingat kakak laura dan aku lihat wajah mereka semua sedih aku menjadi bingung ada apa sebenarnya aku tanya sama kakak Glen adalah kakak nya kak laura
“Kak Glen kak Laura mana kok dia gak kelihatan kak kasih tau aku dong kak “kataku penasaran
“Kak Laura tlah tiada di jatuh kesungai dan kamu ada disini karna kakak ketemu kamu udah penuh dengan darah “ kata kak glen sambil menangis
“ Tidak mungkin ini semua karna Rein aku tau kalau dialah dalangnya “kataku sambil menangis karna tidak kuat mendengar. Semenjak kejadian itu aku hanya diam terkadang air mataku keluar sendiri

Mama tidak mau melihat aku menangis akhir mama memutuskan untuk pindah agar aku lupa sama kejadian itu. Tetapi itu sama saja malah bikin aku sedih dihatiku hanya ada kata benci sama cowok sesampai aku masuk sekolah SD aku hanya mempunyai teman perempuan aku ingin mempunyai teman laki-laki aku iri sama orang yang bisa mempunyai teman laki –laki coba kejadian itu tidak terjadi pasti aku bisa mempunyai teman laki-laki
“Hai Vero main yuk bareng kami pasti seru “kata Mutiara mengajakku main
“Ngga deh mutiara aku jadi penonton aja” kata ku sebenarnya aku mau main bersama mereka
“Kamu jangan sedih ngga semuanya didunia ini seperti pacar kakak kamu percaya deh, anak laki-laki disini baik kok ayo main bareng kami” kata Rifki meyakinkan ku hari demi hari aku mulai belajar melupai kebencian aku kepada laki-laki.

Sampai sekarang masa lalu itu tidak pernah bisa aku lupakan difikiranku laki-laki itu jahat hanya bisa menyelesaikan masalah dengan kekerasan sedikit mulai sedikit aku mulai melupakan masalalu itu karna seseorang yang meyakinkan ku tentang laki-laki dia bilang “didunia ini tidak semua laki-laki seperti pacar kakak kamu percaya deh kamu tidak usah takut lagi”kata dia Tetapi sekarang dia pindah sekarang dia tinggal di Batam. Aku akan slalu menunggunya dan aku percaya tuhan akan mendengarkan doaku trimakasih tuhan engkau tlah mengirim orang yang bisa mengubahku menjadi orang yang tidak berfikiran jelek lagi tentang laki-laki sekarang hidupku sudah mulai tenang. Aku juga percaya bila kakakku tlah pergi dia pasti sekarang lagi di surga.

Kakak aku sudah menjalani apa yang kakak inginkan kakak sekarang cita-cita ku adalah menjadi guru agama. Aku janji Kak Aura aku akan jadi guru agama yang mengajarkan anak muridnya menjadi anak yang takut akan tuhan. Aku masih ingat apa kata kakak kepadaku “Veronika kakak mau kamu jadi anak yang pemaaf dan ingat jangan pernah kamu menyimpan dendam sama orang tuhan benci sama orang yang pendendam saat kakak tidak ada kamu mau kan menyanyikan lagu untuk kakak. Memang kakak tlah tiada tapi kakak ada di bintang melihat dirimu dan mendengarkan kamu menyanyi kakak akan tetap mencintai mu I LOVE YOU VERONIKA FOREVOR”kata kakakku. Kakak aku akan memngabulkan permitaan kakak lagu ini aku yang buat

Tuhan engkau sungguh baik
Engkau memberikan ku kakak yang mencintai aku apa ada
Tuhan jagalah dia untukku
Aku tak mau dia terluka sedikit pun
Tetapi bukan berarti engkau mengambilnya
Aku merasa kehilangan dirinya
Dirinya yang slalu membuatku semangat
Bintang tolong bilang sama kakakku
Aku akan slalu mencintainya
Seperti kakakku mencintai aku selalu
Aku percaya engkau akan menjaganya

I LOVE YOU KAK AURA
Sekarang aku hidup dengan cinta sahabat dna cinta keluargaku. Walau sekarang tidak ada lagi cinta yang tulus dari kakak sepupu. Trimakasih Tuhan engkau tlah mengasihku pengganti cinta kakakku yaitu sahabat yang slalu ada untukku saat aku sedih maupun bahagia dan keluarga yang mencintaiku slalu dan cintamu tuhan aku akan menunggumu kakak

SELESAI

GALIH DAN RATNA

Ratna. Adalah seorang wanita Jogja yang pandai, cantik, dan sangat berbakti pada orangtuanya. ibunya hanya seorang pembuat batik sekaligus penjualnya, ayahnya sudah lama meninggal dunia. Hidup Ratna dan ibunya serba sederhana. Ratna bisa berkuliah karena kepandaiannya, ia mendapat beasiswa. Kesederhanaan yang membuat Ratna bersemangat untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
***

“Bu, Ratna berangkat ya.”
“Nak, sepulang kuliah tolong antarkan batik ini ke rumah bu Yulia, ini alamatnya.”
“Iya bu, aku jalan dulu ya bu.”
“Hati-hati ya,”
Sesampainya di kampus, Ratna langsung berlari menuju kantin karena ia sudah ditunggu olah sahabatnya. Tanpa sengaja, ia menabrak seseorang.
“Maaf, saya gak sengaja.”
“Maaf? Maaf aja gak cukup! Baju gue jadi kotor. Tau gak, baju ini harganya mahal! Pasti lu gak bakal bisa ganti! Makanya kalo jalan hati-hati. Ini kampus, bukan lapangan. Ngerti lo?”
“Iya saya ngerti. Tapi saya emang gak bisa ganti baju mas yang mahal.”

Orang yang Ratna tabrak langsung pergi. Ratna masih memikirkan baju orang itu. Semahal apa baju itu sampai kotor saja Ratna harus menggantinya?
“Gun maaf aku telat.” ujar Ratna pada Guntoro, sahabatnya
“Iya ora opo-opo. Kamu darimana? Lama banget.”
“Tadi didepan, aku nabrak cowok. Sombong banget cowok itu. Bajunya kotor aja aku harus ganti.”
“Pasti itu si Galih!!”
“Galih?”
“Iya, dia itu anak orang kaya. Makanya dia sombong,”
“Oh gitu. oiya Gun, nanti mau antar aku gak? Aku mau nganterin batik,”
“Ok,”

Sepulang kuliah, Ratna dan Guntoro langsung menuju ke tempat tujuan untuk mengantar batik. Waktu dari kampus sampai rumah bu Yulia selama 45 menit, itupun dengan motor. Untung Guntoro mau mengantar Ratna.
“Pak ini betul rumah bu Yulia?” tanya Ratna pada satpam
“Iya betul, ada perlu apa ya?”
“Saya mau mengantar pesanan batik bu Yulia.”
“Oh silahkan masuk.”

Mereka masuk kedalam rumah, lalu menunggu beberapa menit. Akhirnya bu Yulia datang.
“Ini batik pesanan saya ya?”
“Iya bu.”
“Ini Ratna kan?”
“Iya. Kok ibu bisa tau nama saya?”
“Saya teman ibu kamu. Sudah lama saya gak melihat kamu, setelah melihat sudah gadis yang cantik. Anak saya juga sepantaran kamu,”
“Ma.. aku pulang..” teriak anaknya yang baru pulang. Ternyata anaknya itu Galih.
“Eh ngapain lu ke rumah gue?” teriak Galih pada Ratna dan Guntoro
“Sttt.. Galih, ini anaknya temen mama. Namanya Ratna. Dia kesini mau nganterin kain batik pesanan mama.”
“Oh, nama lu Ratna. Pantes aja lu gak bisa ganti baju mahal gue. Orang miskin!”
“Galih!! Masuk ke kamar! Kamu Cuma bikin gaduh saja.”
“Oh, jadi mama lebih milih anak miskin ini daripada anaknya sendiri. Keterlaluan!”
“Bu, kami izin pulang. Terimakasih,” ucap Ratna dan Guntoro. Hati mereka sangat sakit mendengar perkataan Galih yang semena-mena
“Maafkan Galih ya cah Ayu. Dia memang begitu,”
“Iya bu, Ratna ngerti.”
***

Ratna akhirnya sampai ke rumahnya. Ia langsung membantu ibunya yang sedang menyuci. Tak ada kata lelah dalam kehidupan Ratna. Ia harus mengurangi beban orangtuanya. ketika Ratna sedang menjemur pakaian, ia melihat mobil mewah masuk ke rumahnya. Pemilik mobil itu adalah Galih dan bu Yulia.
“Assalammualaikum.. Ratna,”
“Waalaikumsallam bu Yulia, silahkan masuk.”
Ratna dan ibunya hanya bisa memberi teh manis hangat.
“Bu Siti, kalau ibu tidak keberatan saya mau menitipkan Galih disini selama seminggu. Semoga sifat sombong Galih hilang setelah Galih tinggal disini.”
“Ya semoga saja. Silahkan bu Yulia, saya tidak keberatan.” Jawab Bu Siti
***

Hari demi hari Galih lalui di rumah Ratna yang sangat sederhana. Sejak itu pula sifat sombong Galih mulai berkurang. Setiap berangkat kuliah, Galih naik angkot. Berbanding jauh dengan kehidupan Galih yang dulu, yang selalu naik mobil mewah.
“Ratna, ibu mau ke pasar. Tolong lanjutkan pekerjaan ibu,” ujar bu Siti
“Galih aja yang melanjutkan bu, Ratna pasti capek.” Galih langsung mengambil sapu untuk melanjutkan pekerjaan bu Siti tersebut.
“Gak usah mas Galih, Ratna aja.”
“Udah gak papa Ratna.”
***

Tak terasa sudah seminggu Galih berada di sini. Banyak sekali pelajaran yang Galih dapat. Besok Galih sudah harus balik ke rumahnya yang mewah.
“Mas Galih, ini Ratna bawakan teh hangat dan singkong rebus. Ratna boleh ikut duduk disini?”
“Duduk aja. Ratna, kenapa sih lu baik banget sama gue? Selama ini gue udah jahat banget sama lu. Gue jadi menyesal dengan semua perbuatan gue,”
“Ratna cuma mau buat mas Galih sadar, bahwa semua perbuatan mas Galih itu salah.”
“Selama gue disini, gue jadi ngerti arti kesabaran dan kerja keras. Lu udah gue anggap sebagai guru. Guru kehidupan yang ngajarin arti hidup. Makasih Ratna,”
“Iya mas,”
“Ratna, coba deh lu ngaca.”
“Ngaca? Emang ada apa mas?”
“Wajah kita mirip.”
“Ah masa si mas?”
Ratna bercermin. Kalau dilihat-lihat, mereka memang mirip. Mereka bagaikan anak kembar.
***

Bu Yulia datang untuk menjemput Galih.
“Galih, mama mau ngomong sama kamu.”
“Ngomong apa ma?”
“Sebenarnya ini rumah kamu.”
“Maksud mama? Galih gak ngerti ma.”
“Ini rumah kamu yang sebenarnya. Kamu anak kandung bu Siti, dan Ratna adalah saudara kembar kamu.”
“Apa ma? Mama gak bohong kan?”
“Gak Galih.. mama sudah mengidam-idamkan anak, tapi mama divonis tidak akan bisa punya anak. Akhirnya mama merawat kamu. Bu Siti juga membolehkan.”
“Jadi ibu aku bukan mama, tapi bu Siti.”
“Iya Galih..”
“Bu Siti, Ratna, maafkan Galih.. Galih sudah banyak salah sama kalian. Ternyata bu Siti ibunya Galih, dan Ratna adik Galih.”
“Iya nak Galih, maafkan saya. Dulu saya tidak bisa membiayai kamu dan Ratna. Bu Yulia menginginkan anak, yasudah kamu ibu berikan pada beliau.”

Suasana menjadi penuh tangisan. Galih sangat menyesal.
“Bapak aku mana bu?” tanya Galih pada bu Siti
“Bapak kamu sudah meninggal sejak kamu dan Ratna kecil.”
Tangis Galih semakin menjadi-jadi. Dan, akhirnya Galih menjadi seorang anak yang tak sombong lagi. Hidup Galih menjadi serba sederhana. Akhirnya keluarga bu Siti lengkap dengan kehadiran anak kembarnya, yaitu Galih dan Ratna.

KETIKA SEMUA HARUS BERAKHIR

Mentari pagi datang dengan sinar cahaya yang begitu indah dan itu harus membangunkan Fhira dari tempat tidurnya.,
Di lihatnya jam weker kesayangan nya, itu hadiah ultah pemberian Bundanya, kerena kebiasaan buruk Fhira yang suka bangun kesiangan. Dilihat jam menunjukan pukul 08.00 Wib.

“mana handphone gue”?
“uda jam 8 lagi, bisa-bisa telat ne masuk kampus”.
Sambil mencari dimana handphonenya.

Astagfirullah!! (Ucapnya dengan nada sedikit keras)
“Gue lupa, kan diruang tamu, tadi malam gue charger,” ucapnya

Sambil berlari ke ruang tamu dan mencari handphone nya,
Ternyata Mymi telah menghubunginya berkali-kali,
Handphone berdering dan Mymi yang menelpon,

“kemana aja si Fhir? Gue telpon dari tadi ngga ada jawaban sedikit pun!
“jangan bilang Loe kesiangan lagi yach?

“maaf My, ea ne gue kesiangan,
Sekarang loe ada dimana?

“gue lagi dijalan mau menuju rumah loe..!”
Loe siap-siap yach?
Gue tunggu, loe ngga inget apa kalau hari ini ada Dosen baru, jadi kita harus berangkat lebih awal”

“ea ea., gue ingat!
Ok, gue siap-siap dulu ea.,.

Dengan sedikit terburu-terburu Fhira lari untuk mandi.,

“tiiiiiiiinnnnnnn....
Bunyi klakson mobil Mymi, untuk menyuruh Fhira sedikit lebih cepat,
Tepat didepan gerbang rumah Fhira mobil Mymi parkir.
“lama banget ne nyonya muda dandan nya” gumam Mymi.,

Tepat disebelah Mymi duduk, ada Risti di sebelahnya.
“ngapaen aja si nyonya to, lama banget keluarnya, ngga tau apa da telat gini? Tanya Risti dengan nada Kesal kepada Mymi.
“ttiiiiiinnnnnn.,.
Bunyi klakson kedua mobil Mymi,.

.,.”ngga sabar banget si Ibu-ibu ne.,. Gumam Fhira

“ngga sarapan dulu Fhir?? “tanya Bunda Fhira.
“uda telat Bun, tu si Mymi ma Risti da nuggu Fhira.,.
“Fhira berangkat dulu ea Bun!
Sambil mencium tangan Bundanya, Fhira lari dengan tergesa-gesa menuju mobil Mymi.,

Ea Fhira yang manis tapi suka bangun telat.
“lama banget si Fhir??”
“ngapaen aja loe dikamar mandi!! Tanya Mymi
“Shoping ea Fhir?”
Sahut Risti .,
“da g usah banyak tanya!!”
Jawab Fhira sedikit kesal
Sedang Mymi dan Risti hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya.,

Mobil melaju sedikit kencang, Mymi terpaksa melajukan mobil nya dengan cepat karena meraka sudah telat,.

Tiba di halaman kampus, Mymi mencari parkir mobil,
Karena parkir waktu itu padat semua.,.
“disitu My, dekat pohon mangga dekat perpustakaan tiu” kata Fhira.

Dengan cepat Mymi melaju ke arah yang dimaksud Fhira,
Ketika Mymi hendak membelok, tiba-tiba ada seorang cowok mengendarai Motor,
Cowok ini juga ingin parkir ditempat yang sama dengan Mymi,.
“eh, kalau jalan liat-liat dikit donk? Kan gue duluan yang mau parkir di sini! Tanya Risti dengan sedikit emosi,.
“ea neh kan kita duluan! Kata Mymi dan Fhira hampir bersamaan.
“maaf ea mbak-mbak yang manis., kayaknya gue duluan deh yang dapetin parkirnya” sahut cowok itu (sambil membuka helm nya)
“ngga bisa, enak aja loe!! Sahut Risti kesal.

Sedang Mymi dan Fhira turun dari mobil.
Mymi bisik Fhira “ganteng banget Fhir cowok ini”..
“huussstt, kamu ini. Ganteng apanya?? Sahut Fhira.

Uuppzz,.
“ok gue yang ngalah kata cowok tersebut.,
(dan pergi ninggalin Mymi, Fhira dan Risti)
“dasar cowok, kalau nggak dikerasin dikit nggak mau ngalah” ketus Risti,.

Risti memang gitu orang nya kalau liat cowok,.
Dia ge sebel yang namanya cowok,.
Karena sering dibuat sakit hati.,.
Risti yang supel yang sedikit cuek juga.

Sedang Mymi belum pernah ngerasain indahnya jatuh cinta.

Dalam hati, Mymi berkata “keren banget cowok tadi, kapan yeach bisa ketemu dia lagi?”
“uda-uda jangan ngelamun, cepat diparkirkan dulu mobil loe My da telat ne?? Kata Fhira membangunkan lamunan Mymi.,
“ea., bawel amat sii!!
Dengan cepat memarkirkan mobil,

Meraka langsung menuju ruangan..
“dari mana saja kalian, jam segini baru datang?? Tanya Dosen
Selalu saja kalian telat.,. ketusnya lagi,.

“maaf pak, jawab mereka pelan.,

Ea sudah, silahkan duduk., kata dosen
“kalian semua sudah tahu bahwa ada dosen baru dikampus kita,. Nah sekarang bapak perkenalkan kepada kalian dosen kita yang baru, kata Pak Hamdan.
“Pak Riki, sialhkan masuk, kata pak Hamdan,.

Dosen baru masuk dengan senyuman ramah,.
“selamat pagi.,. perkenalkan nama saya Riki, saya Dosen Tarbiyah di kampus ini. Kata pak Riki menerangkan.,

Perkenalan usai sudah dengan Dosen baru.,
“Hanya gara-gara dosen baru kita masuk pagi.,” kesal Risti
“eh, sahabatku, pulang kuliah enaknya kemana ea???” tanya Fhira mengawali pembicaraan.
“gmana kalau kita pergi ke taman tempat kita biasa ngumpul. Sekalian nenangin pikiran ne, da lama juga kita ngga jalan ke taman, Tanya nya lagi kepada Mymi dan Risti,.
“boleh juga!! Gimana menurut loe Ris? Sahut Mymi

Risti bukan ngejawab, eh malah melamun sambil menyandarkan tangan di dagunya.

“Woyy.,.
kata Fhira keras dan itu menyadarkan Risti dari lamunannya
“apaan sii loe!! Ea gue denger, nggak mesti buat jantung orang copot gini kali Fhir. Jawabnya sedikit kesal. (ge asyik ngenang mas Raka juga) gumamnya dalam hati.
“gimana gue nggak ngagetin loe, loe nya aja yang ngelamun gitu,, manknya ngelamunin apa she?? Tanya nya penasaran
“inget Raka ea?? Ledek Mymi
“apaan sii loe, sapa juga yang mikirin dia, jawab Risti
“uda ah jangan dibahas lagi, ea ud sekarang kita langsung ke taman aja, pinta Fhira.,
“shiipp, jawab mymi

Meraka langsung menuju taman kota tempat mereka ngumpul.,
Setiba disana,
‘gue pulang duluan ea ? pinta Risti
Tanpa sengaja Risti teringat kenangan saat bersama Raka, tepat disebuah danau kecil di pinggiran taman mereka sering ngabisin waktu berdua disana,.
Raka memutuskan untuk menikah dengan pilihan kedua orang tua nya. Dan itu membuat Risti begitu benci malihat cowok, bagaimana tidak ketika dia bener-bener mencintai seorang cowok disaat itu juga dia terluka karena cowok.

Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, dia pergi begitu saja,
Fhira mengejarnya dan menanyakan apa yang terjadi, kenapa dia ingin pulang begitu aja.
“loe kenapa Ris?? Tiba-tiba pengen pulang gini !! Sambil menarik tangan Risti
“gue nggak napa-napa kok, gue cuma pengen sendiri, sahutnya
“loe ada masalah Ris??
“loe nggak nganggep gue sama Mymi sahabat loe? Kalau ada masalah loe cerita ma kita,
“ngga apa-apa kok Fhir, kalian ngga usah khawatir gito ma gue, gue Cuma teringat ma Raka aja kok. Jawabnya sedih.

Raka lagi Raka lagi, kita tau kalau loe sayang sama dia, tapi loe juga harus tau kalau sekarang dia uda jadi milik orang lain Ris, jadi karena dia loe jadi berubah gini kesemua cowok? Ngak semua cowok itu jahat Ris, loe ngga ngerasa kalau Dony itu suka sama loe? Dia rela ngorbanin apapun untuk loe??
Tapi loenya aja yang jahat banget sama dia, “ sambil memegang pudak Risti untuk ngejelasin kalau dugaan dia ke semua cowok itu salah.
“udalah Fhir, jangan bahas yang lain, gue lagi pengen sendiri aja dulu, gue belum bisa berima kenyataan kalau dia sejahat ini sama gue.,.

Tapi kenapa sii Fhir, kalau setiap gue mulai bener-bener sayang sama seseorang, dia selalu ninggalin gue, dulu kak Rio yang mutusin gue tanpa alasan yang jelas sekarang gue ditinggal menikah ma Raka,
Padahl gue takut kehilangan dia, tapi kenapa harus terjadi sama gue Fhir, kenapa??
Sambil memeluk Fhira,

Air mata pun menetes membasahi pipi mungil Risti,
Mymi yang tadinya hanya berdiri dekat mobil , ikut datang mengahampiri Risti dan Fhira.
“sudahlah Ris, jangan loe sesalin takdir yang sudah digariskan Allah kepada loe, mungkin dia bukan yang terbaik untuk loe dan Allah da nunjukin jalan untuk loe, tapi jangan loe kira semua cowok itu sama. Kalau itu dugaan loe, itu salah.
kata Mymi menjelaskan, dan sambil nenangin Risti sahabatnya.

Ea sudah, kalau loe maunya pulang, kita akan pulang sekarang, lagian ne uada mendung, kata Mymi.

setelah mengantar Risti pulang, Mymi dan Fhira pamit pulang.

Di dalam kamar yang berhiaskan kenangan sewaktu mereka bersama, Risti hanya mampu membanjirinya dengan air mata.
Dia ngga mampu berbuat apa untuk mampu melupakan segala tentang Raka.
****

Ditengah kesedihannya, handphone Risti berdering,
Ada inbox masuk dari Dony,
“apa bila cinta sudah tertutup”
“aku kan tetap mencoba untuk membukanya”
“cintaku bukan seperti pelangi di senja hari”
“yang datang dikala hujan datang”
“yang indah namun akan redup juga”
“cinta ini seperti jantung”
“yang berdetak setiap saat”

M’f kan aku yang telah lancang mencintai mu,.
Namun sungguh, aku sangat mencintaimu,.
Kan ku tunggu sampai hatimu terbuka untuk ku.,
“Dony”
“apaan she?? Kesal Risti
Kayak ngga ada kerjaan lagi deh.,

Begitu cueknya Risti sama cowok, namun Dony tak mudah menyerah untuk dapat
Cinta dari Risti, dia begitu mencintai nya, dia gadis supel yang dikenalnya sewaktu OSPEK pertama masuk kuliah.
Walau saat ini cintanya tak terbalas, namun dia yakin suatu saat ini, Risti akan membuka hati untuknya.
Entah berapa ratusan puisi yang dibuat dari hati Dony untuk Risti, namun tetap aja Risti masih bersikap diam untuknya.
Diam tanpa seribu alasan,,.

Sabtu pagi, Risti datang cepat dari biasanya, tiba di ruangan dia melihat sebuah kado yang dibungkus kertas berwarna biru dan diatasnya terdapat kertas..
“jika waktu adalah segalanya, ijinkan aku untuk selalu bersamanya”
“jika rindu adalah segalanya, ijinkan aku tak akan berpisah darinya”
“jika cinta adalah segalanya, tak akan pernah aku melepaskannya”
“ D A N”
“jika angin adalah segalanya, ijinkan aku untuk menyampaikan”
“bahwa aku sangat mencintainya”
“aku nggak akan lelah untuk bisa membuka hatimu untuk ku”
“tak pernah sedikitpun niat untuk ku mencoba melupakanmu”
“aku mohon, beri aku kesempatan untuk menghiasi hatimu yang penuh luka dan kebencian”
“hanya kamu dan Cuma kamu”

Risti hanya mampu terpaku melihat semua ini, semua yang telah dilakukan Dony untuknya, untuknya dan untuk membuka hatinya.
“apa yang telah gue lakuin, gue begitu jahat,.”
“gue nggak mentingin hati dan perasaan orang lain yang hanya buat gue” gumamnya di dalam hati kecilnya,..

Tiba-tiba handphone berdering,
Inbox masuk dari Dony,.
“aku tau kalau loe uda baca pesan yang gue kirim buat loe di atas meja loe,
“temui aku ditaman belakang kampus, aku menunggumu Ris, kalau kamu mau terima aku, buka isi kado biru itu dan pakailah apa yang ada didalamnya, tapi kalau hatimu bener-bener tertutup untukku, jangan dibuka kado itu dan kembalikan kepadaku,.”
“aku tunggu,.,,!!

Membaca sms Dony, membuat hati Risti berdegup begitu kencang, dia ngga tau apa yang harus dia lakukan, disatu sisi dia benci cowok, tapi disatu sisi lagi, ada orang yang begitu mencintainya,.
Diam, dan bertanya dengan hatinya, “apa yang harus gue lakuin?
Akhirnya Risti memutuskan untuk datang menemui Dony ditaman belakang tanpa harus membuka kado tersebut.,.
“akhirnya loe datang untuk ku Ris” kata Dony
(tapi Dony melihat kado itu tak terbuka sedikitpun di tangan kanan Risti, apa ini jawaban untuk ku??) gumam Dony dalam hati.
Dia nggak membayangkan bagaimana jadinya kalau dia tanpa Risti,.

“ea, gue datang untuk loe Don.,” sahutnya
Tapi,.,.. kata Risti lagi
“sssttttt, loe nggak perlu jelasin semuanya Ris, gue tau jawabannya.,
“kalau loe jelasin itu hanya membuat luka dihatiku,.
“gue akan pergi, tapi loe harus tau kalau gue sangat mencintaimu”
“gue akan pergi ninggalin loe tanpa harus membuang sayang ini buat loe” kata Dony

Dan melangkah pergi meninggalkan Risti berdiam diri di tengah taman.
Hanya 10 langkah Dony berjalan,
“gue dateng untuk loe Don”
“gue baru tersadar dari lamunan tentang kebencian gue terhadap semua cowok”
“gue berfikir, semua cowok hanya bisa membuat luka dihati gue, tapi ternyata fikiran gue salah”
“gue kira gue hanya sendiri didunia ini”
“loe harus tau Don, gue mau loe menghiasi hari gue, dan gue mau kalau loe yang menjadi pengobat di hati yang tergores luka” ketus Risti

Dan Dony hanya berdiam, dia nggak menyangka ini kan terjadi.,
Tanpa berfikir panjang lagi dia berlari kembali menemui Risti.
“apa yang gue denger ini bukan suatu alasan yang terpaksa untuk loe ucapkan kan Ris?? Tanya nya dengan rasa tak percaya.,
“ini yang loe mau dan yang loe inginkan kan Don??
“ketulusan hatimu telah meruntuhkan jurang kebencianku”
“dan kini gue tersadar, aku ingin loe yang menjadi cahaya yang terang dan tak akan pernah redup walau waktu berakhir, dan menjadi kan hatiku indah yang tak akan pernah berubah walau apapun yang terjadi di antara kita” kata Risti meyakinkan Dony kalau ini adalah cinta.
“aku ingin Ris, aku ingin menjadi cahaya itu, cahaya yang selalu membuat hatimu tenang dan selalu menyinari mu” jawab Dony senang.

Tanpa mereka duga, hujan turun mewarnai kisah pertama mereka, tapi mereka tak mengiraukan hujan, mereka senang kalau hujan yang menyaksikan cinta mereka berdua.
“ttiiiiinnnnn....
“tttiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnn..

Bunyi klakson mobil Mymi yang berada nggak jauh dari Risti dan Dony, ada Fhira juga di sebelah Mymi.,
“ciyeee ciyeee yang baru jadian,.,
“ampe nggak terasa hujan turun, ledek Mymi
“apaan sii loe My, nggangu suasana aja loe., (masih saling menatap Dony yang berada di depannya)
“sekarang sahabat gue sudah jadi Risti yang gue kenal dulu” ledek Fhira
“kenapa sii kalian, gue kan masih tetep kayak gini, da cabut sono” kata Risti.
“ok ok,. Gue pun nggak mau ngerusak suana kalian” jawab Mymi, dan menghidupkan mobilnya.
“sekarang apa yang igin loe lakuin Ris?? Tanya Dony
“gue nggak ingin apa-apa don, gue mau pulang, loe nggak nyadar apa kalau ne hujan” jawab Risti
“hmmmm, sahut Dony sambil tersenyum kecil
“kalau loe barsama gue, badai pun nggak akan terasa kalau menimpa gue” gombal Dony
“loe ini ada-ada aja” kata Risti malu,

mereka pulang, kali ini Dony yang nganterin Risti pulang,
sampai dirumah, Risti langsung menuju kamarnya, dan mengganti pakaian yang basah karena hujan.,
dia terduduk disudut tempat tidur dan memegang foto Raka,
“gue da dapetein pengganti loe, maaf Ka, karena gue nggak bisa tepati janji gue ke loe, yang selalu mencintai loe ampe kapan pun karena keadaan kita sudah berbeda,.” Ucapnya.,

Tak berapa lama, handphone Risti berdering, inbox masuk dari Dony.
“gue da sampai ne dirumah Ris,. Aku ingin semua ini menjadi kisah yang terindah untuk kita”

Risti hanya mampu diam, tanpa membalas inbox Dony.,
****

Mereka lalui hari dengan indah, kini Risti berangkat kampus selalu di jemput Dony,
Dony selalu perhatian ke Risti, selalu beri kejutan buat Risti.
Betapa bahagianya Risti mendapatkan pengganti Raka seperti Dony.

Hari berganti hari, namun kisah cinta mereka selalu indah,.
Sampai sewaktu minggu pagi tiba,

Dony nelpon Risti.
“Ris, jalan ke taman yuk??” pinta Dony
“jam berapa Don,”tanya Risti
“kira-kira jam 8 malam ea??
“ok Don, gue tunggu yeach!!! Jawab nya dan menutup telepon nya,

Sampai waktu yang ditunngu tiba.,
Pukul 8 tepat Dony sudah berada didepan rumah Risti, setelah berpamitan mereka akhirnya menuju tempat yang dimaksud.,
Tapi, sebelum turun dari motor,Dony menutup ,mata Risti.,
“ini apaan sii Don, pake acara tutup mata??” tanya nya penasaran
“sudah tenang aja Ris, ada kejutan sedikit untuk mu” kata Dony menjelaskan

Sambil berjalan perlahan dan sambil menuntun Risti yang tertutup matanya,
“akhirnya kita sampai juga Ris! Kata Dony
“boleh di buka nggak ne matanya” pinta Risti
“boleh Ris” kata Dony perlahan

Saat membuka mata,
Betapa terkejutnya Risti melihat kejutan apa yang diberikan Dony untuknya.,
Terdapat lilin indah yang menyala terang yang bertuliskan “I LOVE TOU”
betapa bahagianya Risti melihatnya.,.
“ya ampun Don, indah banget”
“loe buat sendiri untuk gue” tanya Risti sedikit nggak percaya
“iya Ris, ne gue sendiri yang buat dan ini semua Cuma buat loe” jawabnya meyakinkan Risti
“aku ingin seperti lilin yang rela meleleh hanya untuk menerangi loe, tapi cinta gue ke loe nggak seperti lilin yang bisa meleleh”
“loe ini bisa aja”
“tapi beneran Don, ini indah banget bagi gue”
“apa loe nggak tau kalau hari ini adalah hari jadian kita yang sebulan” tanya Dony
“yeach ampun, kita uda satu bulan ea Don” jawab Risti, jadi ini untuk kita yang ke 1 bulan??
“ea Ris, ne untuk kita !! jawab Dony lagi,

Tiba-tiba Dony ngeluarin sesuatu yang ada di saku bajunya.,
“Ris, gue ingin ngasih sesuatu buat loe”
“apa itu Don” tanya Risti penasaran
“aku ingin loe makai ini setiap saat, dimana loe berada, dan apapun alasan loe, loe nggak boleh lepasin”pinta Dony

Dan Dony ngeluarin cincin itu dari kotak cincin.
“aku ingin suatu saat nanti entah itu kapan, aku akan memasangkan cincin ini didepan kedua orang tua loe dan didepan semua orang., dan gue ingin berteriak kalau gue sayang loe, kalau gue butuh loe dan gue ingin hanya loe yang terakhir buat gue” kata Dony
“gue juga Don, dan gue juga ingin kalau loe yang terakhir” sahut Risti

Mereka menghabiskan malam dengan duduk di tengah lilin yang masih menyala dengan indahnya di gelapnya malam.
“Ris.,! Dony memanggil Risti pelan
“ea Don, ada apa?? Jawabnya
“aku ingin malam ini panjang Ris, aku masih disini bersama mu, aku nggak ingin pagi datang dan menggantikan malam yang begitu indah buat aku., aku janji Ris, aku akan selalu jagain loe, aku akan selalu ada disamping loe, aku selalu dan untuk loe selamanya.,
“janji?? Kaya risti sambil mengangkat kelingking kanan nya ke arah Dony

Janji” dan Dony mengikatkan kelingkingnya.,
“Makasih ea Don” semoga cinta ini tak akan pernah mati untuk selamanya.,
“Ris, gue boleh minta sesuatu nggak dari loe?
“apa itu Don??”
Aku ingin kau menutup mata loe, dan mencoba meraba wajah gue, aku ingin loe selalu inget tentang gue” pinta Dony.,

Risti pun melakukan apa yang di ucapkan Dony,.
Sambil menutup mata, Risti meraba wajah Dony,
Matanya, hidung nya, bibir nya dan pipinya,.
Meraba dengan penuh perasaan, dam perlahan Risti membuka mata.,
“alasan apa Don sehingga loe minta gue lakuin ini,.”
“aku Cuma ingin jika suatu saat nanti kita perpisah loe kan selalu inget wajah gue,. Makasih ea Ris , loe mau melakukannya buat aku.,
“tanpa harus melakukannya wajah loe kan selalu gue inget” ucap Risti

Tanpa terasa saat mereka sedang asyik menikmati malam yang indah bagi mereka, petir menyambar pertanda hujan datang.,
“Don, hari da mau hujan ne., kita pulang sekarang yeah. Pinta Risti
“baiklah, kita pulang sekarang” jawab Dony

Ketika mereka di perjalanan pulang, tanpa mereka duga ada pengendara mobil melintas dengan kecepatan tinggi, si pengendara dalam keadaan mabuk berat,
Dony yang mencoba mengendalikan motornya ternyata tak mampu.
“awaaaaaaaaasss Donn, teriak Risti.
“Brraakkkkkk !!!

Kecelakaan tak terhindarkan, Risti terpentak di pinggir jalan dan mengalami luka yang cukup serius di kepala, sedang Dony terjatuh dibadan jalan yang akhirnya tertabrak mobil, Risti berlari mendekati Dony yang bersimbah penuh darah,
“Dony, Don” sambil memangku kekasihnya
“Don, loe harus kuat Don, loe harus kuat, untuk gue Don, dan demi cinta kita, “ teriak Risti
air mata menetes sudah mengenai pipi Dony,
“maafin aku Ris, aku nggak bisa tepati janji gue yang akan selau jagain loe,” kata Dony perlahan.
“loe jangan sedih,” sambil menghapus air mata Risti
“gue nggak mau lihat air mata loe jatuh karena gue,.
“gue tetep sayang loe ris, cinta ini kan aku bawa sampai aku mati” ucap Dony

Akhirnya Dony menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Risti.
“Don bangun Don, bangun, mana janji loe yang untuk selalu ada untuk gue, yang akan selau jagain gue,” teriak Riati sambil menggoyangkan badan Dony.,

Isakan tangis Risti tak mampu lagi berhenti.,.
“Doonnnyyyyyy.,.” teriak Risti
*****

Takdir berkata lain untuk cinta Risti dan Dony
Dony meninggal, dan dia meninggalkan sejuta kenangan di hati Risti.

Saat dipemakaman, Risti hanya bisa menangis.,
“kenapa Don, kenapa ini harus terjadi dengan kita, kenapa harus kita Don, ketika gue takut kehilangan loe, tapi malah loe yang ninggalin gue di sini sendiri.,” tangisnya
“udalah Ris, mungkin ini sudah takdir,” kata Mymi menenangkan hati sahabatnya.,
“tapi kenapa My harus aku yang ngerasain kepahitan ini, kenapa??
“mungkin ini kehendak Allah Ris,. Jawab Mymi.,
“sudahlah Ris, mari kita pulang, hari sudah hampir sore ne? Ajak Fhira sambil mengaangkat pundak Risti untuk berdiri.

Mereka akhirnya pulang dengan kesedihan Risti yang begitu terluka atas kejadian ini.,
Setelah mengantar Risti pulang, Mymi dan Fhira pamit pulang.

Sedang Risti masuk kekamar,.
“kenapa Don, loe harus pergi ninggalin gue,” sambil memegangi foto mereka berdua sewaktu ditaman,.
“dulu loe sering kirimin gue puisi, tapi sekarang gue nggak bisa baca puisi dari loe lagi.
Begitu banyak tumpukan puisi yang dikumpulkan Risti di salah satu box kesayangannya .,
Kado yang sering diberi Dony juga dikumpulkan Risti.,

Risti teringat waktu Dony meminta dia untuk meraba wajahnya agar dia selalu ingat dengan Dony.,.
“apa ini jawaban yang pernah loe ucapkan Don? Apa itu pertanda buat loe ninggalin gue??

Risti mencoba kembali mengingat raut wajah Dony dan dia meraba foto Dony,.
Ketika dia meraba foto Dony, air mata Risti menetes perlahan, kesedihan yang begitu mendalam yang dirasakan Risti.

Dulu dia harus kehilangan Raka, sekarang dia harus kehilangan Dony.
“mengapa ini harus tejadi?? Teriaknya dan menghancurkan isi kamarnya.
“kenapa semua ini harus berakhir Don??
******

Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan bahkan tahun berganti tahun.,
Namun Risti masih berdiam dan tanpa ada rasa untuk mencari pengganti Dony.,
Dia ingin menepati janjinya ke Dony untuk selalu mencintainya sampai kapan pun.

Setiap bulan dimana mereka jadian, Risti selalu datang ke makam Dony dan mambawa lilin yang pernah di buatkan Dony untuknya.
“ku harap loe inget Don, dimana saat kita menghabiskan malam ditengah indahnya cahaya lilin cinta kita” kata Risti
“sampai saat ini hanya loe yang ada dihatiku Don,”
“loe liat cincin ini Don, cincin ini masih gue pakai Don,” aku akan menjaga cinta kita

Hingga Risti berumur 50 tahun, Risti masih sendiri, tiada yang lain dihatinya selain Dony, cinta dia abadi untuk Dony, nggak ada yang bisa menggantikan Dony di hatinya.,
“cinta ku kan abadi untuk mu selamanya”
“tak ada yang mampu menggantikan mu di hatiku,.
“Hanya kamu dan Cuma kamu”

Risti menulis kembali puisi yang pernah di kirim Dony untuknya.

Kan kau buktiin ke loe dan kesemua orang kalau loe yang terakhir buat gue..
******

TAMAT

 

Blogger news

Blogroll

About

CERITA SEDIH © 2012 | Template By arif rahman