* Sedih sangat baca kisah ni ... dapat bayangkan rintihan anak kecil itu bila tengok tangan dia dah tak ada .. sedihnya ... menangis aku seketika ... tapi ye la ... ayah ngan ibu dia pun tak sangka jugak nak jadi cam tu ... selama ini pun ayah ngan ibu dia tak pernah pukul dia cuma ari tu jek terlampau marah sebab kereta baru kena conteng ... ingat sikit jek luka si anak .. rupanya melarat sampai kena potong tangan ... bak kata orang tua-tua .. sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna ... jadi pengajaran kepada kita supaya marahkan anak berpada-pada .. jangan ikut perasaan sangat ... harta dunia buleh dicari .. nyawa anak hanya satu ... tak de galang ganti ... peringatan untuk aku jugak ... Insyallah ..
Home » All posts
Kisah Sedih Si Kecil ...
* Sedih sangat baca kisah ni ... dapat bayangkan rintihan anak kecil itu bila tengok tangan dia dah tak ada .. sedihnya ... menangis aku seketika ... tapi ye la ... ayah ngan ibu dia pun tak sangka jugak nak jadi cam tu ... selama ini pun ayah ngan ibu dia tak pernah pukul dia cuma ari tu jek terlampau marah sebab kereta baru kena conteng ... ingat sikit jek luka si anak .. rupanya melarat sampai kena potong tangan ... bak kata orang tua-tua .. sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna ... jadi pengajaran kepada kita supaya marahkan anak berpada-pada .. jangan ikut perasaan sangat ... harta dunia buleh dicari .. nyawa anak hanya satu ... tak de galang ganti ... peringatan untuk aku jugak ... Insyallah ..
Cerita sedih tentang Perjuangan seorang ibu .
Cerita sedih tentang Perjuangan seorang ibu .
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.
Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.
Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya" .
Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".
Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.
Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."
Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."
Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.
Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.
Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."
Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.
Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku...... ......... ...
Inti dari Cerita ini adalah:
Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: " Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya".
Cerita sedih, izinkan Aku Menciumu Ibu
Sewaktu masih kecil,
aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku
mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap
pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi
buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.Ya Allah ampunilah aku dan kedua Orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana meeka menyayangi aku sewaktu aku masih anak anak
"Hadiah Terakhir Dari Sang Ayah" Kisah Sedih Mengharukan
Seorang gadis yg akan di wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia sangat yakin nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.
Diapun ber'angan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya, Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya.
Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan putrinya, dan betapa dia mencintai anak itu.
Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci!
Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Jaket kulit Terkenal, di belakangnya terukir indah namanya dengan sutra emas.
Gadis itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, "Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan jaket ini untukku?"
Lalu dia membuang Jaket itu dan lari meninggalkan ayahnya.
Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia hanya berdiri mematung, tak tahu apa yg harus di lakukannya ..
Tahun demi tahun berlalu,
sang gadis telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang wanita karir. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi suami yang tampan dan anak yang cerdas.
Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa sayangnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya.
Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Dan ketika dia membuka lemari pakaian ayahnya, dia menemukan Jaket itu, masih terbungkus dengan kertas kado yang sama beberapa tahun yang lalu.
sesuatu jatuh dari bagian kantong Jaket itu. Dia memungutnya.. sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia merogoh kantong sebelahnya dan menemukan sesuatu,, di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.
Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga
Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk disamping mobil itu, ia menangis. air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang takan mungkin bisa terobati...
Kisah Sedih Seorang Ibu Bermata Satu
Wassalam..
4 golongan lelaki yang di tarik masuk ke neraka oleh wanita
Kisah Sedih Nasib Seorang Ayah Bersama Pinggannya (Sediakan Tisu)
Semasa kita kecil, kita mesti memasang cita-cita untuk menjaga ayah dan ibu ketika
besar nanti. Namun semua itu hanya impian. Hakikatnya tidak semua orang
mampu melakukannya. Jika ada pun, adakalanya merungut. Ibu bapa boleh
menjaga sepuluh orang anak, anak belum tentu boleh menjaga kedua-dua ibu
bapanya. Itulah perbandingan yang boleh dilakukan. Kami percaya ibu bapa di luar sana memerlukan kasih sayang daripada anak-anaknya. Kisah yang ingin dipaparkan ini berkisar tentang nasib seorang ayah bersama pinggannya.
Seorang lelaki tua yang baru kematian isteri tinggal bersama anaknya,
Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta anak pasangan itu, Viva
yang baru berusia enam tahun. Keadaan lelaki tua itu agak uzur,
jari-jemarinya sentiasa menggeletar dan pandangan pula semakin hari
semakin kabur.
Malam pertama berpindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua merasa kurang selesa menikmati hidangan di meja makan.
Dia merasa amat kekok menggunakan sudu dan garpu. Selama ini dia gemar
bersila, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar
dirasakannya, sehingga makanan bersepah tanpa dapat dikawal.
Bukan dia tidak merasa malu berkeadaan begitu di depan anak menantu,
tetapi dia gagal menahannya. Lantaran kerap benar dijeling menantu,
seleranya patah. Dan tatkala dia mencapai gelas minuman, pegangannya
terlucut.
Prannnnngggggg … !! Bertaburan kaca di lantai. Lelaki tua serba salah.
Dia bangun,cuba mengutip serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya.
Rina masam mencuka. Viva pula kesian melihat datuknya, tapi dia hanya
melihat, kemudian makan semula.
“Esok ayah tak boleh makan bersama kita,” Viva mendengar ibunya berkata pada ayah, sebaik datuk menghilangkan diri ke dalam bilik.
Arwan hanya membisu. Namun sempat anak kecil itu merenung tajam ke dalam mata Arwan. Sebagai memenuhi tuntutan Rina, Arwan membeli sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di suatu sudut bilik makan.
Di situlah ayahnya menikmati hidangan bersendirian, sambil anak menantu
makan di meja berhampiran. Viva pula dihalang apabila dia merengek mahu
makan bersama datuknya.
Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan begitu.
Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang
arwah isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik:”Miah… buruk benar layanan anak kita pada abang.”
Sejak itu, lelaki tua merasa tidak selesa tinggal di situ. Hari-hari
dia diherdik kerana menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan seperti
hamba. Pernah dia terfikir untuk lari dari situ, tetapi mengenangkan
cucunya, dia menahan diri. Dia tidak mahu melukakan hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dikelar dan dicalar anak menantu. Suatu malam, Viva terperanjat melihat datuknya makan menggunakan pinggan kayu,
begitu juga gelas minuman yang diperbuat daripada buluh. Dia cuba
mengingat-ingat, di manakah dia pernah melihat pinggan seperti itu.
“Oh! Ya…” bisiknya.Viva teringat, semasa berkunjung ke rumah sahabat
papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka
menggunakan pinggan yang sama.
“Taklah pecah lagi, kalau tak, nanti habis pinggan mangkuk mama,” kata Rina apabila anaknya bertanya.
Masa terus berlalu. Walaupun makanan berselerak setiap kali waktu
makan, tiada lagi pinggan atau gelas yang pecah. Apabila Viva merenung
datuknya yang sedang menyuap makanan, kedua-duanya hanya berbalas
senyum. Seminggu kemudian, sewaktu pulang dari bekerja, Arwan dan Rina terperanjat melihat anak mereka sedang bermain dengan kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu. Ada penukul, gergaji dan pisau di sisinya.
“Eh, apa sayang buat ni? Berbahaya main benda-benda ni,” kata Arwan
menegur manja anaknya. Dia sedikit hairan bagaimana anaknya dapat
mengeluarkan peralatan itu, sedang ia disimpan di dalam stor.
“Nak buat pinggan, mangkuk dan gelas untuk ayah dan emak. Bila Viva
besar nanti, taklah susah cari. Kesian ayah, terpaksa ke bandar beli
pinggan atuk,” kata Viva.
Gamam mendengar jawapan anaknya, Arwan terkedu. Perasaan Rina terusik. Kelopak mata kedua-duanya bergenang.
Jawapan Viva menusuk, seluruh tangkai jantung dirasa seperti dihiris
sembilu. Mereka benar-benar rasa bersalah! Malam itu Arwan memimpin
tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyenduk nasi dan menuang minuman ke dalam gelas.
Nasi yang tumpah tidak dihiraukan. Viva beberapa kali memandang ibunya,
kemudian ayah dan akhir sekali wajah datuknya. Dia tidak bertanya, cuma
tersenyum selalu bagi menyatakan rasa seronok duduk bersebelahan
datuknya di meja makan. Lelaki tua itu juga tidak tahu kenapa anak menantunya tiba-tiba berubah.
“Esok Viva buang pinggan kayu tu, nak buat apa?” kata Viva pada ayahnya selepas makan.
Arwan hanya mengangguk, tetapi dadanya terus sebak.
Moral:
Hargailah kasih sayang kedua orang tua kita. Ibu bapa kita hanya
satu, perginya tidak akan ada pengganti. Jadi, berbaktilah kepada mereka
selagi hayat dikandung badan!



