“Sheevaaa…sinii lihaaattt! Ada anak kepiting lucu bangeet..” Nimo
memanggil Sheva dengan sangat antusias. Nimo terlihat begitu senang,
kakinya melompat-lompat kecil di atas pasir pantai dengan gemas. Gaya
bicaranya sangat kekanak-kanakan, volume suaranya juga meninggi.
Sheva tersenyum kecil menanggapi Nimo. Nimo yang selalu Sheva kenal.
Sebenarnya ia sangat ingin meladeni seluruh celotehan dan tingkah laku
Nimo yang super ceria itu. Namun tubuh Sheva sudah lumayan merasa letih
dan ingin meluruskan kakinya dulu sejenak.
“I-iya Nimo. Nanti aku lihat.. tapi aku mau selonjoran dulu yah sebentar.. oke?”
Nimo sepertinya tidak terlalu mengindahkan permintaan Sheva. Langsung
ia menghampirinya yang sedang duduk di atas pasir pantai dengan
ekspresi merajuk. Gaya berjalannya sungguh seperti anak kecil yang
menghampiri ibunya untuk memaksanya masuk ke dalam toko mainan.
“Oke Nimo… oke… iya ini aku lihat anak kepitingnya deh” Sheva mengalah, ia bangkit sebelum Nimo menarik tangannya.
Nimo segera berlari lagi sambil menunjuk-nunjuk anak kepiting itu.
Sheva segera menghampirinya dan menjadi penasaran seperti apa anak
kepiting yang sangat menarik perhatian Nimo itu. Ternyata benar, anak
kepiting itu memiliki bentuk yang cantik. Tempurungnya berwana hijau tua
dengan bintik-bintik berwana merah terang.
Sungguh indah, jarang Sheva lihat yang wujudnya seperti itu. Nimo
kemudian tertawa renyah, merasa bahagia dan puas telah menunjukkan hewan
cantik ini kepada Sheva. Pikir Sheva, Nimo memang memiliki paras yang
menawan. Rambut keritingnya yang tertiup angin pantai, suara tawanya
yang renyah dan lesung pipi dalamnya itu selalu dapat memesonanya
seperti terakhir kali Sheva melihatnya. Sheva tersipu dan merasakan
hembusan desiran hangat di dalam hatinya.
Tidak terasa ssudah berjam-jam mereka menghabiskan waktu berdua di
pantai. Membuat istana pasir, bermain ombak, hingga berbicara dan
tertawa melantur hampir sudah mereka lakukan semuanya. Sheva tidak
menduga bahwa hari ini akan berwujud seindah ini. Dia juga sangat
bahagia karena Nimo tidak berubah sedikitpun. Tetap periang, sedikit
kekanakan, msudah tertawa, sensitif dan selalu memiliki kreatifitas yang
tidak terbatas dalam menggambarkan imajinasinya menjadi wujud yang
konkrit.
Sebenarnya Sheva juga merasa iri terhadap semangat Nimo. Semangat
yang selalu terpancar dari sorot matanya ternyata tidak menurun sama
sekali. Sheva heran, seakan-akan Nimo tidak pernah merasa sedih ataupun
digerogoti oleh kepahitan dalam hidupnya.
Hanya dengan melihat tatapan Nimo, Sheva seakan-akan mendapat kembali
semangatnya. Sorot mata yang periang namun lembut, membuat Sheva
merasakan seperti kembali ke rumahnya. Selama ini Nimo hadir bagaikan
cermin terhadap diri Sheva. Terlalu banyak persamaan yang ada pada diri
mereka.
Mereka saling memantulkan semangat dan kesedihan satu sama lain.
Tanpa banyak kata-kata yang terucap, Nimo dan Sheva selalu bisa
merasakan gejolak perasaan satu sama lain. Segala hal yang baik dan
buruk terasa begitu relatif bagi mereka berdua.
Hari ini mereka merasa seperti terlahir kembali. Seperti anak kecil,
mereka menciptakan kebahagiaan murni yang tiada batas. Kebahagiaan yang
membuat hati Sheva terasa begitu penuh dan serasa ingin meledak.
Tanpa terasa, langit ssudah mulai meredup. Matahari rupanya sudah
tidak terlalu bersemangat untuk memancarkan cahayanya, namun hari juga
belum kunjung gelap. Suara beberapa ekor burung camar juga masih
terdengar dari kejauhan. Pikir Sheva, mereka masih memiliki waktu
beberapa saat lagi.
Saat ini Sheva sangat berharap agar Tuhan memberikan durasi tambahan supaya Ia tidak segera menenggelamkan matahari di hari ini.
“Nimo, kita pindah duduk di situ aja yuk. Kayaknya mataharinya bisa kelihatan lebih jelas” ajak Sheva dengan spontan.
“Boleh, boleh.. yuk kita pindah” Mereka langsung berjalan menuju batu
besar yang ditunjukkan Sheva tersebut. Nimo memang figur yang
easy-going, dia tidak pernah mempersulit segala hal. Di atas batu itu,
mereka berdua duduk bersebelahan.
Sesungguhnya Sheva merasa berat untuk kembali ke realita hidupnya. Ia
tahu waktunya tidak akan lama lagi. Namun di satu sisi, hidupnya saat
ini adalah kehidupan impian yang selalu ia dambakan sejak dulu dan tak
mungkin Sheva tinggalkan. Pandangannya lalu menuju ke bawah, melihat
gelombang-gelombang air laut yang menghantam batu besar di bawah tempat
mereka duduk.
“Semua orang punya proses pendewasaannya, Sheva. Mungkin hari ini
bukan esensi sebenarnya dari kehidupan kita. Tapi… yah, anggap aja ini
kayak mimpi indah. Terasa indah untuk sesaat, tapi habis itu kita bangun
dan melanjutkan hidup lagi.” Nimo tersenyum lebar.
Sheva terkejut mendengarnya, sungguh tidak ia duga. Sheva hanya
termangu keheranan menatap Nimo dengan setengah tidak percaya. Bagaimana
bisa Nimo menebak pikirannya.
“Ni-nimo.. kenapa kamu.. k-kok… b-bisa..”
“Mulut kamu diam, tapi pikiran sama mata kamu bicara. Dan aku bisa
denger semua itu di sini” Nimo meletakkan telapak tangannya di dada.
Sorot matanya sungguh lembut menatap Sheva saat itu, seakan menenangkan
sekaligus memberikan kekuatan baginya.
Sheva tersenyum getir, ia memalingkan wajahnya dari wajah Nimo sambil
menghembuskan napas berat. Air matanya mulai menggenang. Dia tak
sanggup berkata-kata lagi untuk saat ini.
“Aku bisa rasain itu, va. Apalagi kita duduk sebelahaan kayak gini.
Rasanya kita jadi transparan untuk menerawang satu sama lain yah” Sheva
bisa mendengar suara Nimo yang juga memberat. Suasana menjadi kelabu dan
terdiam untuk sesaat. Hanya terdengar jelas suara ombak yang berkejaran
di tengah laut.
Namun, bukan Nimo namanya kalau tidak pintar mengubah suasana.
Tiba-tiba ia mencolek pundak Sheva, wajahnya langsung berubah ceria.
“Oh iya Sheva, kamu kenapa sih kepikiran buat bikin alis kaya gitu?
Itu pake cat minyak apa gimana sih? Kamu jadi kelihatan lebih judes
tahu, hehehehe”
Serasa mood-nya diangkat kembali, Sheva kembali tersenyum dan tertawa
sedikit geli. “Diandra Geronimoo, ini namanya tato aliis yaaah… masa
gak tahu, gak gaul sih kamu”
Nimo menatap dengan ekspresi mengejek, “oh tahu aku mah… yang pake
spidol permanen itu kan?” ia terbahak dengan gurauannya sendiri.
Suasana segera mencair kembali, semudah itu. Sheva memang tidak
pernah tidak terkesan terhadap Nimo. Sifat periang dan selera humor
tinggi itu mengingatkan dirinya mengapa dia pernah jatuh cinta dengan
pemuda berambut keriting ini. Waktu memang berlalu terlalu cepat.
“Tiga puluh tiga tahun, Sheva… sudah kepala tiga kita. Nggak kerasa ya?”
“Iya. Kita sudah nggak terlalu muda lagi, Mo. Banyak yang berubah, apalagi timbunan strech-mark di perutku setelah melahirkan”
“Buatku kamu tetap selalu cantik, tenang aja. Dan ada beberapa hal yang
nggak berubah kok.. semuanya dijawab di hari ini. Kamu tahu itu.”
Benar juga, ada beberapa hal yang tidak akan lekang termakan waktu.
Salah satunya adalah ikatan batin ini. Entah mengapa, perpisahan selama
lebih dari tiga tahun lalu itu tidak berhasil juga benar-benar
memisahkan ikatan ini.
***
Nimo memang selalu bisa mencerahkan hari-hari Sheva, begitupun
sebaliknya. Sayangnya, keharmonisan mereka berdua ternyata belum cukup
untuk mengesankan hati orangtua Sheva. Tuntutan dari orangtua Sheva
untuk segera menikah juga tidak sanggup untuk Nimo penuhi ketika itu.
Alasannya klasik, Nimo hanya merasa kurang mapan secara finansial. Nimo
juga merasa masih terlalu cepat mereka untuk memutuskan untuk menikah.
Saat itu usia mereka sama-sama masih 24 tahun.
Akhirnya, ada masanya di mana cinta mereka bukanlah menjadi hal yang
potensial lagi untuk diteruskan. Terutama bagi Sheva, cintanya kepada
Nimo tidak dapat digunakan lagi sebagai perisai untuk selalu menahan
tekanan dari kedua orangtuanya. Nimo pun menjadi terkesan semakin lemah
di mata kedua orangtua Sheva. Ketika restu sudah tidak mungkin lagi
didapat, hubungan mereka yang terjalin selama lebih dari empat tahun
akhirnya kandas begitu saja.
Beberapa bulan setelah itu, Sheva mengenal Dirgo. Dirgo adalah
seorang pengusaha muda yang meneruskan pabrik konveksi milik ayahnya.
Sosok yang dewasa, bersahaja, potensial dan mapan. Tidak heran, sosok
Dirgolah yang akhirnya mendapatkan restu dari kedua orangtua Sheva. Saat
ini kehidupannya bisa dibilang telah memenuhi kriteria orangtuanya yang
selama ini dimaksud, memiliki sepasang anak kembar, asuransi terjamin
dan tinggal di lingkungan real-estate.
Bagaimana dengan Nimo? Setelah benar-benar pulih dari depresi dan
mengabiskan puluhan sesi konserling, akhirnya dia bertemu dengan Fara.
Fara adalah salah seorang rekan kerjanya di kantor. Kehadirannya
dapat mengisi kehidupannya kembali yang sempat hampa. Sebagai seorang
sahabat, Fara sungguh memahami posisi dirinya yang berada di dalam
posisi sulit. Saat itu Nimo sangat merasa beruntung karena Fara dapat
membantunya untuk bertahan dan bangkit dari keterpurukannya. Sekitar dua
tahun lalu mereka akhirnya menikah dan saat ini Nimo memiliki seorang
anak lucu yang masih balita.
***
Garis cakrawala membentang lurus di sepanjang lautan. Dari permukaan
laut, tampak jelas pendaran bayangan matahari yang seolah-oleh tenggelam
di dalam laut. Langit yang semula biru cerah perlahan berubah menjadi
semakin berwarna jingga.
Awan tampak lebih berjauhan, menyisakan celah lebar sebagai lintasan
bagi burung-burung camar yang ingin pulang. Udara yang semula membelai
hangat kini berubah menjadi berhembus lebih dingin. Sheva memperhatikan
suasana sekeliling sesaat. Ia ingin merekam dengan jelas dan mengingat
segala detil yang berada di tempat ini, tepatnya di hari ini.
Seolah-olah dia tidak rela kehilangan sedikitpun kenangan manis ini.
“Aku harus pulang, Nimo.. sudah mulai sore juga di sini”. Sheva tahu Nimo menunggunya untuk mengatakan perpisahan ini duluan.
Nimo tidak langsung menjawab, hanya mengangguk pelan sambil
tersenyum. Wajahnya terlihat begitu damai. Sheva merasa bersyukur
melihat banyak perubahan positif pada diri Nimo. Saat itu juga Sheva
ingin sekali berterima kasih kepada Fara karena dapat mendampinginya di
masa-masa sulit. Tanpa adanya Fara, mungkin Nimo juga tidak akan menjadi
sebijak ini.
Sheva membalas senyuman Nimo. Lalu ia menuruni batu besar tempat
mereka duduk, meninggalkan Nimo yang sedang berdiri di ujungnya. Mereka
tahu, saat ini tidak diperlukan lagi kata-kata hanya untuk menunjukkan
perasaan tertentu.
Ini bukanlah suatu perpisahan karena mereka sudah pernah mengalami
perpisahan sebelumnya. Berbeda dengan dulu, saat ini mereka juga harus
memberikan batasan untuk perasaan emosional satu sama lain.
Kenyataannya, senyum simpul saja sudah cukup untuk mewakili kata “terima
kasih untuk semua di hari ini” bagi mereka.
Sheva tiba-tiba terkejut mendengar suara lantang Nimo dari belakang.
“Kamu harus tahu Sheva! Fara nggak akan pernah gantiin kamu. Dirgo
juga nggak akan pernah gantiin aku. Ini adalah takdir, jalan hidup yang
harus kita lalui. Jalan terus Sheva, jangan pernah sekalipun kamu nengok
ke belakang. Kita punya happy ending di kehidupan masing-masing. Aku
selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Selamat jalan, Shevaa!”
Sheva terhenyak mendengarnya. Suatu pandangan yang sangat bijak dari
Diandra Geronimo yang dulu merupakan cinta matinya. Air matanya langsung
menghambur keluar dari matanya. Air mata bahagia yang keluar deras,
namun tanpa isak yang menyakitkan. Saat itu Sheva memutuskan untuk
menjadi setegar Nimo, dia tetap berjalan meninggalkan Nimo.
Melihat Sheva yang pergi, Nimo hanya pasrah melihatnya. Ia terduduk
lemas di atas lututnya dan membalikkan badannya ke arah lautan dengan
gontai. Mereka saling membelakangi, memfasilitasi jarak dan waktu untuk
menguatkan diri mereka satu sama lain. Kemudian mereka terpisah jauh,
semakin jauh dari kekangan emosional di masa lalu dan melepaskan segala
kepahitan yang sempat membelenggu jiwa mereka.
Home » All posts
Hingga Menjelang Senja
Cinta Tak Direstui
“Pokoknya Kakak gak setuju kamu dengan si Surya!”
“Duarrr!!”
Suara pecahan piring menyelimuti suasana malam ini. Sepulang pergi
bersama Surya. Surya lelaki yang kini menjadi kekasihku. Hubungan kita
baru berjalan sekitar satu bulan. Tetapi sampai sekarang belum ada restu
dari Kakak-Kakakku. Kakak yang selama ini membiayai sekolahku dengan
perjuanganya. Tak dipungkiri aku tak mampu melawannya, itu semua sudah
menjadi kehendak Kak Rany.
Nama ku ICha, salah satu siswi menengah kejuruan di Batam. Semenjak
orangtuaku meninggal aku transmigrasi dan tinggal bersama Kakak di Batam
dan melanjutkan sekolah di sini.
Hubungan yang dijalani tanpa restu keluarga memang susah. Semua
memang berawal dari Surya yang salah mengambil tindakan. Malam itu aku,
Surya dan Yani sahabatku jalan–jalan melewati malam minggu bersama.
Seperti biasa Yani bersama pasangannya. Saat itu kami berkumpul di
rumahku. Surya pun datang menjemputku, kebetulan di situ selain ada Yani
dan pacarnya juga ada Kak Rany Kakakku. Ketika aku sudah memboncengnya,
Surya langsung menarik gas motornya di hadapan Kakakku tanpa
berpamitan. Dan itulah yang membuat Kakakku marah besar.
“Laki–laki macam apa itu, membawa anak gadis orang tanpa izin!
besok–besok gak usah lagi jalan sama dia. Kayak gak berpendidikan saja
si Surya!”
Memang Surya laki–laki yang datang dari kampung. Datang dengan
membawa selembar ijazah SMP pendidikan terakhir dia. Hal itulah yang
salah satu membuat Kakakku tidak merestui hubungan ini. Keluargaku
memang lebih mementingkan pendidikan dan kualitas kerjanya, tetapi aku
ambil positifnya aja bahwa mereka melakukan ini karena mereka ingin yang
terbaik buat masa depanku.
Angin berhembus menusuk hati, ketika Surya mengatakan “apa maumu
sekarang, mending aku mati aja Cha kalau kamu mau mutusin aku?” Sifat
dan egonya memang belum bisa dikendalikan walaupun dia dua tahun lebih
tua dariku namun sifatnya masih kekanak–kanakan. Semua ini membuat aku
drop. Aku yang berusaha meyakinkan hubungan ini sama keluargaku tapi
Suryanya masih saja menekanku dengan sifat posesif dan egonya.
“Aku mencintaimu Cha, apa perlu aku bilang sama keluargamu sebagai permohonan maafku?”
“Nggak usah ya, belum waktunya” Jawabku sambil menahan tangis.
“Kenapa Cha? kenapa setiap aku ingin silaturahmi ke rumahmu selalu kamu larang?” Tanya Surya menahan amarah.
“Bukan gitu Surya, tapi aku, aku takut. Aku..”
“Kamu takut Kakakmu, atau latar belakangku yang gak setinggi kamu? kamu malu kan?”
“Gak ya, tapi aku..”
“Dari awal kan aku dah bilang aku hanya orang biasa yang gak
berpendidikan dan mempunyai kerjaan yang rendahan tiap hari cuma
berkhayal kalau aku bisa lanjut sekolah suatu saat nanti”
Itu kalimat yang tidak asing buatku. Karena setiap kita barantem
hanya kalimat itu yang diucapkan Surya. Bukannya berusaha meluluhkan
hatiku yang sedang marah, tapi malah dianya yang selalu merendahkan diri
dan pada akhirnya aku yang mengalah.
Hubungan yang dilandasi karena iba, kini harus kutanggung resikonya.
Meski sampai sekarang aku belum ada rasa sama dia. Bisa dihitung jari
proses perkenalan kita yang hanya berapa hari. Dan sampai sekarang pun
aku belum yakin dengan perasaan dia terhadapku.
Bimbang itulah yang kurasakan saat ini. Keputusan mana yang aku
pilih, pacar yang belum tentu masa depanku atau keluarga yang
mementingkan derajat kegengsian. Sempat ku berpikir untuk mengakhiri
hubungan ini tapi aku takut untuk menyakiti dia. Karena aku percaya akan
“Karma Kehidupan”.
Karena aku pernah merasakan betapa sakitnya mencintai orang tapi
orang tersebut malah menyia-nyiakan cintaku. Ini memang semua salahku
yang menyia–nyiakan dia terlebih dahulu dan memutuskan tanpa sebab
sampai aku tidak bisa merasakan perjuangan dan pengorbanan cintanya
terhadapku dulu.
Sejak itu aku tak ingin semua itu terulang kembali. Memang wanita itu
lebih baik dicintai dari pada mencintai. Meski itu susah buat dilakukan
secara nyata.
Tok! Tok! Tok! “Cha, Cha?”
Tiba–tiba suara Kak Wahyu mengganggu lamunanku di kamar ini. Segera kuhapus air mata yang tak terasa membanjiri pipiku.
“Cha buka Cha, kita jalan–jalan yuk” Ajak Kak Wahyu yang kebetulan
dia baru datang dari Kalimatan. Dia Kakak nomor dua dari lima
bersaudara.
“iya Kak, tunggu sebentar aku ganti baju dulu”
“Iya Kakak tunggu di luar ya”
“iya Kak..”
Beberapa menit kemudian aku pun keluar dengan dandan ala kadarnya.
“Jeleknya Adik Kakak ini, masa mau jalan–jalan gak ada polesan sedikit pun, sih”
“Udah deh Kak, kan cuma mau keliling daerah terdekat aja kan?” Jawabku dengan nada kesel.
“Hmmm, ngambek nih ye. Yaudah cepet naik”
Tanpa menjawabnya aku pun dibonceng Kak Wahyu yang udah menungguku
agak lama. Kak Wahyu memang sudah tahu mengenai hubunganku dengan Surya
yang tanpa restu. Di tengah perjalanan Kak Wahyu berusaha menghiburku
dengan gaya kegilaannya yang membuatku sakit perut mendadak.
Sedang asyik mengobrol tiba–tiba ada dua motor menghadang kami. Kak
Wahyu secara spontan mengerem mendadak dan hampir kami terjatuh. Pukulan
mengenai mata kanan Kak Wahyu, ketika kami mau turun dari motor. Kak
Wahyu tergeletak di pinggir aspal. Tak ada satu pun orang atau kendaraan
yang lewat jalan sepi itu.
“Kaaak!!” Teriakku sambil memegang lengan Kak Wahyu.
“Makanya jadi cowok gak usah banyak gaya, tahu gak kalau Icha ini cewek
aku hah!” Teriak pemuda itu sambil melepaskan helm yang dipakainya. Dan
ternyata pemuda itu sesosok lelaki yang tak asing lagi.
“Surya?”
“Ya aku Surya, kenapa mukanya kaget gitu. Bagus yah gak jalan sama aku kamu jalan dengan lelaki lain. Dasar cewek murahan!”
“Cukup! aku cape Surya dengan sifatmu yang selalu kekanak–kanakan, kamu
tuh bukannya bantu aku meringankan bebanku malah menambah beban. Asal
kamu tahu itu Kakakku, Kak Wahyu”
“Apa? Kakakkmu? ya ampun Cha aku minta maaf, aku gak tahu”
“Makanya kalau mau melakukan sesuatu dipikir dulu, semua bisa
diselesaikan secara baik–baik!. Surya kamu itu semakin hari semakin tua
seharusnya sifatmu lebih dewasa sedikit jangan makin menjadi–jadi saja”
“BBUUGGHHH!” Pukulan pertama Kak Wahyu untuk Surya.
“Jadi ini pacarmu, dasar laki–laki gak tahu diri!” Bentak Kak Wahyu sambil mendorong Surya sampai terjatuh.
“Sudah Kak, sudah” Kataku sambil menangis.
“Benar kata Kak Rany, memang laki–laki ini gak punya sopan santun dan
rasa hormat sama yang lebih tua. Sampai kapanpun Kakak juga gak akan
pernah merestui kalian”
“Maaf Kak, tapi saya mencintai Icha, tolong izinkan saya bersamanya” Kata Surya memelas.
“TIDAK AKAN PERNAH!”
“Cha?” Panggil Surya dengan memalingkan wajahnya kepadaku dan menatapku penuh harapan.
“Maafkan aku Surya, aku gak bisa berbuat apa–apa karena semua ini
ulahmu. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi sesosok kekasih yang kamu
harapkan. Tapi beginilah aku yang penuh kekurangan dan tak bisa
mengikuti alur berpikirmu”
Aku pun melangkah menuju motor itu dengan menarik tangan Kak Wahyu. Kami pun pergi dengan meninggalkan Surya dan gerombolannya.
“Cha, kemarin si Surya ke rumahku loh. Dia nangis sampai tissue di rumahku habis. Kasihan Cha aku gak tega melihatnya”
“Tapi gimana Yan, aku udah berkali–kali nasihatin dia agar dia bisa
lebih dewasa tapi pada nyatanya dia malah makin membuatku terpojok”
Entah apa yang dipikirkan aku saat itu. Lagi–lagi aku galau dan
galau. Yani yang sedang main ke rumahku dan seperti biasa jadwal yang
tak boleh dilewatkan yaitu ngegosip. Tapi sayangnya kali ini aku tak
mampu berkata–kata lagi. Apa yang Yani bicarakan pun aku tak peduli.
Yang ku pikirkan sekarang adalah bagaimana mempertahankan hubungan ini
dengan restu keluargaku.
“Kring, Kringgg, kringgg” Tersentak aku mendengar suara dan getaran
handphone di saku celanaku. Ku ambil dan kulihat siapa orang yang
meneleponku. Tetapi sayang nomornya dirahasiakan oleh peneloponnya.
“Kenapa diam Cha? angkatlah!”
“Entah nih. Nomornya di privat, bikin males aja”
“Siapa tahu penting, angkat aja”
Tanpa menjawab perintah Yani yang ngotot minta diangkat aku pun tak
mempedulikan panggilan tersebut. Tiba–tiba ada motor berhenti di depan
rumahku. Tanpa diduga ternyata si Surya. Aku pun kaget bukan kepalang.
Meskipun malam ini Kakakku pergi dengan teman–temannya, tapi tetap saja
perasaan takut ini terlintas di hatiku. Aku takut Kakaku melihat Surya
di sini.
“Surya! ngapain lagi kamu kesini? nanti kalau Kakakku tahu bisa lebih parah urusannya”
“Cha, aku cuma mau nanya kenapa telpon ku gak diangkat tadi? aku kan gak
bisa sehari aja tanpa ada kabarmu. Aku rindu suaramu Ichaku sayang”
“Cukup Surya, semua itu karena ego dan sifat kekurang dewasaanmu! aku
tertekan! setiap kali yang kupikirkan adalah hubungan kita tapi kamu
malah membuatku terpojok gini. Ketika keluargaku memaksa untuk
menjadikanku seperti apa yang merea inginkan kamu seharusnya
memotivasiku membuatku semangat menjalani hari–hariku untuk lebih
berwarna. Sedangkan kamu hanya bisa mengatakan cinta, cinta, tapi tak
mau membuktikannya dengan keluargaku”
“Tapi Cha.”
“Icha!” Belum aja Surya berkata, tiba–tiba ada yang berteriak dengan suara khasnya dan aku pun tak asing lagi dengan suara itu.
“Kak Rany, Kak Wahyu kalian udah pulang?”
“Jadi kamu diam–diam ketemuan ketika Kakakmu pergi? bagus ya!”
“Icha kamu masuk! dan kamu Yani pulang sekarang!”
“Iya Kak” Jawab Yani dan dia pun langsung pergi meninggalkan kami semua.
“BUUGGHHH” Hantaman kepalan tangan Kak Wahyu menyentuh perut Surya. Dan aku hanya bisa menangis melihat semua ini.
“Lebih baik kamu pulang sekarang anak brandal!” Bentak Kak Rany dengan
mengeluarkan kata–kata yang tak sepantasnya keluar dari mulutnya.
“Suryaaaa!” Teriaku sambil berlari memeluknya.
“Maafkan aku, tak ada niat sedikit pun aku menyakitimu. Tapi keadaanlah
yang membuat kita seperti ini. Percayalah kau akan temukan wanita yang
jauh lebih baik dariku yang mampu membuatmu jauh lebih baik dari segi
apapun dan yang pasti bukan aku”
“Cha..”
“Sudah Icha, terlalu baik kamu buatnya! ayoo masuk!” Bentak Kak Rhany sambil menariku masuk ke kamar dan menguncinya.
“Pulang kamu sekarang!” Usir Kak Wahyu yang saat itu masih menanti Surya beranjak Kaki dari situ. Dan akhirnya Surya pun pergi.
“Yakinlah Cha, Kakak lakukan ini karena kami sayang sama kamu” Hanya
kata itu yang kudengar dari Kak Wahyu dan Kak Rany di balik pintu
kamarku. Aku pun hanya terdiam menahan tangis lara hati.
Sejak kejadian itu aku dan Surya tidak pernah berhubungan lagi. Aku
percaya ya Tuhan semua atas kehendakmu dan jika aku berjodoh dengannya
satukanlah cinta kami dengan sentuhan lembut tanganmu dan atas dasar
restumu. Dan jika aku tak berjodoh dengannya, doaku ya Tuhan buatlah dia
bahagia dengan wanita pilihanmu yang jauh bisa membuat dia merasa
sempurna.
Teman Pengkhianat Cinta
Sebenarnya kisah ini sudah lama sekali, kurang lebih 6 tahun sudah
tapi jika mengingat kejadian itu masih terasa sakitnya luar biasa.
Dyah adalah siswi SMP 1 T****ng A**m, saat itu Dyah duduk di bangku
kelas 3 SMP, setiap pacaran Dyah nggak pernah bertahan lama, paling lama
4 bulan pernah juga pacaran baru seminggu sudah putus dan akhirnya Dyah
dipertemukan dengan seorang cowok yang bernama Iful, mereka bertemu di
kolam renang dekat rumah Dyah.
Saat itu Iful yang sedang berenang melihat Dyah datang bersama
teman-temannya -Umbar dan Ayu- dan ternyata salah satu teman Dyah yang
bernama Umbar kenal dengan Iful.
“hey Iful gimana kabar kamu? Lama kita nggak pernah ketemu,” kata Umbar yang memang sudah terlihat akrab dengan Iful.
“woy, iya mbar aku baik-baik aja. kamu sendiri gimana?” jawab Iful.
“Alhamdulilah, baik juga ful.”
“oh, ya mbar teman kamu yang gendut itu namanya siapa? Kenalin ke aku dong!!” wajah Iful penuh harap.
Dyah memang gendut tapi dia cantik dan imut.
“oh, iya kenalin yang ini namanya Dyah, kata Umbar sambil nunjuk ke arah Dyah dan yang ini namanya Ayu” kata Umbar lagi.
Kemudian Dyah dan teman-temannya pergi ke taman belakang kolam
renang. Nggak lama kemudian Iful datang dan tiba-tiba Iful nembak Dyah.
“Dyah, kamu mau nggak jadi pacar aku?” saat itu Dyah dan
teman-temannya hanya bengong nggak bisa ngomong apa-apa. Setelah hampir
setengah jam akhirnya Dyah kasih jawaban.
“Aku nggak bisa jawab sekarang Iful”
“Lalu kapan Dyah? Ya udah, malam minggu besok aku ke rumahmu untuk minta
jawaban. Udah ya, aku pulang dulu.” jawab Iful yang lalu pergi
meninggalkan Dyah dan teman-temannya.
Malam minggu datang juga, tepat pukul 18:00 Iful datang ke rumah Dyah.
“Dyah, ada teman kamu tuh di depan” teriak Kakak perempuan Dyah.
“iya, kak” jawab Dyah.
Dyah menemui Iful di ruang tamu, setelah lama ngobrol nggak terasa
sudah larut malam dan Iful pun menagih jawaban dari Dyah dan Dyah
menjawab. “Iya Iful, Dyah mau jadi pacar Iful” Iful terlihat sangat
bahagia dan kemudian Iful pamit pulang.
Hari-hari mereka lalui dengan kebahagiaan, saling mencintai, saling
menyayangi, kelulusan SMP tiba, Dyah lulus dan melanjutkan ke SMK dan di
SMK inilah hubungan mereka diuji. Mantan-mantan Iful banyak yang
ngancam Dyah tapi Dyah hanya bisa diam dan menangis.
Dyah naik ke kelas 2 SMK, tanpa pamit Iful kerja di luar kota. Dyah
kecewa kenapa Iful nggak pamit? Tapi Dyah tetap setia menunggu Iful
pulang, nggak terasa Dyah sudah kelas 3 tapi hubungan mereka semakin
renggang, sikap Iful yang dulu perhatian sekarang jadi cuek, Dyah coba
untuk mengirim pesan ke temannya -Ria- yang kebetulan istri dari teman
dekatnya Iful, Dyah menanyakan tentang Iful tapi jawabannya hanya, “aku
nggak tahu nyem, mungkin dia sibuk atau kecapekan kerja,”
UN telah tiba, Dyah sama sekali nggak konsen dengan UN-nya, walaupun
teman-teman dekatnya sudah memberi suport kepada Dyah, setelah UN
selesai liburan sekolah tiba. Dyah memutuskan untuk liburan di Surabaya
tempat Iful bekerja, malam itu Dyah berkemas menyiapkan keperluan selama
liburan.
Pagi hari Dyah berangkat naik kereta. Sesampai di stasiun Iful sudah
ada di depan stasiun tapi semua nggak seperti yang Dyah bayangkan, Iful
terlihat nggak semangat dengan kedatangan Dyah, di jalan menuju kost
Iful, mereka selalu berantem sampai Dyah nangis. Sesampainya di kost
Dyah langsung mengirim pesan pada Ria untuk datang ke kamar Iful,
setelah Ria datang Dyah bercerita panjang lebar tentang hubungannya
dengan Iful tapi sepertinya Ria selalu membela Iful, Dyah tetap positif
thinking.
Iful datang menghampiri Dyah dan Ria untuk menawarkan bakso. Bukannya Dyah yang ditawari dulu tapi malah Ria.
“Ria, mau bakso?” tanya Iful sambil mendekatkan wajahnya ke Ria.
“iya ful mau,” jawabnya.
“nggak pake saos, sambalnya banyak” sahut Iful.
Dyah yang tahu itu langsung menunduk dan menangis, Iful mencoba
menenangkan Dyah saat itu Ria ingin pergi tapi Iful mencegahnya dan
menggandeng tangan Ria dan Dyah pun melihat itu, betapa hancur hati Dyah
saat itu.
Nggak menunggu lama Dyah langsung membawa tasnya dan pergi tapi Iful
mencegahnya dengan bujuk rayunya Dyah pun luluh. Saat keadaan sudah
tenang Ria pergi dan hanya ada mereka berdua, Dyah mengambil HP Iful
yang tergeletak di meja dan membuka pesan masuk. Tiba-tiba Dyah menangis
dan memukul Iful, ternyata isi pesan itu semua dari Ria, dengan
kata-kata yang sangat mesra. Yang Dyah nggak bisa terima ada pesan yang
kata-katanya, “Ria, q sayang sama kamu melebihi sayangku ke Dyah, q rela
nggak sms, gak telfon Dyah. Setiap pulang kerja aku langsung sms kamu”.
Nggak menunggu lama Dyah langsung pergi, Dyah ingin pulang tapi nggak
tahu jalan dan untung ada tukang becak yang memberi tahu cara pulang ke
kota Dyah. Akhirnya Dyah naik angkot, terlihat di belakang Iful
mengejar Dyah tapi terlambat Dyah sudah naik angkot menuju terminal tapi
Iful menyusul Dyah ke terminal dan Dyah dibawa ke kost-an Iful lagi
untuk menyelesaikan masalah itu.
Sambil menangis Dyah berkata.
“udah beb, gak ada yang perlu dijelaskan sudah jelas semua kalau kamu
menyayangi Ria melebihi sayangmu ke aku, aku pergi” tapi tangan Iful
menggenggam erat lengan Dyah.
“nggak beb, kita bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik, ya aku ngaku
salah, aku selingkuh dengan Ria” saat itu juga emosi Dyah meledak.
“apa kamu nggak inget beb kalau Ria itu istri teman baikmu? Dimana hatimu?”
“iya aku salah, aku minta maaf, nggak akan ngulangi lagi” Iful pun memeluk Dyah.
Saat itu Ria datang ke kamar Iful dan meminta maaf kepada Dyah tapi
Dyah belum bisa memaafkan Ria, Dyah sangat sakit hati dengan Ria.
“nyem, kalau dengan memukul aku hati kamu bisa lega, pukul sekarang”
Nggak nunggu lama tangan Dyah berhasil menonjok pipi Ria. Ria terlihat
kesakitan, Iful yang melihat itu bingung harus membela siapa.
Dyah memutuskan untuk tetap stay di sana tapi setiap hari tak
henti-hentinya Dyah melukai tangannya dengan silet, rambutnya dipotongi
sendiri, Iful yang tahu itu sangat sedih dan setiap hari mengucapkan
kata maaf tapi tak mengurungkan niat Dyah untuk menyakiti dirinya
sendiri karena Dyah pikir dengan menyakiti dirinya sendiri itu bisa
menenangkan hatinya yang sedang sakit.
Satu minggu telah berlalu dan saatnya Dyah pulang dan kembali sekolah
lagi, dengan diantar Iful Dyah sampai di rumahnya tapi Dyah tetap
terlihat murung, banyak diam. Sampai orangtua Dyah bertanya kepada Iful
ada apa dengan Dyah. Tapi Iful hanya menjawab, “mungkin Dyah kecapekan
Pu, Pak.” Dyah langsung masuk kamar dan Iful pamit pulang.
Setelah kejadian itu, sikap Dyah berubah. Hubungan mereka semakin
jauh dan akhirnya hilang komunikasi. Dyah memutuskan untuk pergi dari
kehidupan Iful, hubungan yang berjalan hampir 5 tahun kini berakhir
dengan sia-sia.
3 tahun berlalu, dan akhirnya Dyah menikah dengan cowok pilihan
orangtuanya, sekarang Dyah hidup bahagia bersama suami dan anaknya.
NB: Teman terkadang bisa menjadi malaikat tapi kadang juga bisa
menjadi iblis dalam kehidupan kita, boleh percaya tapi jangan terlalu
percaya karena dengan kepercayaan itu bisa menyakiti kita sendiri, kita
hanya boleh percaya kepada Allah, karena Allah tidak mungkin
mengkhianati kita.
dan ingat “KARMA” masih berlaku.
cerita sedihku yang mengharukan tentang ayah
Di usianya yang sudah senja ayahku tetap mencari nafkah untuk
anak-anaknya. jam kerja ayah tidak seperti yang lain. disaat yang lain
tertidur pulas, ayahku berangkat bekerja tengah malam dengan sepeda tua
yang setia mengantarnya. ya, ayahku seorang cleaning service disebuah
terminal ibu kota. setiap tengah malam sebelum bus-bus akan
diberangkatkan, ayahku mencuci bus-bus itu hingga bersih. setiap malam
ayahku membersihkan hampir puluhan bus, dengan upah yang sangat kecil,
yaitu hanya 10 ribu rupiah/bus. sungguh harga yang tak pantas untuk
sebu
Hatiku selalu menangis jika melihat ayah sedang bekerja, badannya yang sudah tua renta harus mengerjakan semua itu dengan tenaganya yang sudah rapuh. Maafkan aku ayah, anakmu ini belum bisa membantumu untuk mencari nafkah. Aku hanya bisa berdoa semoga kelak aku bisa membahagiakanmu, agar kelak kau bisa menikmati hari tuamu dengan indah.
Sehabis pulang kerja aku selalu melihat ayah memijat-mijat sendiri kakinya, Aku tahu dia sangat kelelahan. Aku juga melihat dikakinya timbul penyakit kulit seperti kutu air. akupun menangis lagi kalau melihat kejadian itu. Aku ingin cepat besar agar aku bisa membantu ayah.
Kini, Ayah sudah jarang berangkat bekerja. karena kondisinya yang sering sakit-sakitan membuatnya harus sering beristirahat dirumah. Aku sebagai anak yang tertua harus memikirkan nasib keluarga kami, aku berpikir keras bagaimana cara mendapatkan uang, sedangkan sekolahku saja belum selesai. didalam kebingungan yang terus menghantuiku, seorang teman mengajakku untuk berdagang menjual kantong di pasar. walaupun untungnya kecil tapi dengan menggeluti usaha ini aku bisa meringankan beban ayah sebagai tulang punggung keluarga.
Ayah,
Semangatmu adalah hidupku.
keringatmu adalah nafasku,
Aku hidup karena pundakmu.
Aku bernafas karena cintamu
Perjuanganmu saat ini
Adalah semangatku saat nanti
Keringatmu saat ini
untuk senyumku hingga nanti
Ayah,
Maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu.
8 Kebohongan Seorang IBU (Kisah Sedih Mengharukan)
1.KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”