Cerita Sedih - Cinta Yang Khianat


Deras hujan yang turun
Mengingatkanku pada dirimu
Aku masih disini untuk setia

Selang waktu berganti
Aku tak tahu engkau dimana
Tapi aku mencoba untuk setia

Sesaat malam datang
Menjemput kesendirianku
Dan bila pagi datang
Kutahu kau tak disampingku
Aku masih disini untuk setia

petikan gitar yang ku mainkan. Mengalunkan sebuah lagu yang bagiku menceritakan kehidupanku.
Tak ku sangka. Linangan air mata mulai membasahi wajah mungilku.
Yahh.. sampai saat ini aku masih menunggunya. Menunggu dia dengan setia. Tapi aku tau, semuanya takkan pernah kembali seperti sedia kala.

Aku tau, kini dia memiliki kehidupannya sendiri. Dan aku, akupun memiliki kehidupanku sendiri. Dia kini telah sah menjadi milik orang lain. Sedangkan aku? Aku masih mencari siapa yang akan memiliki ku sepenuhnya. Menggantikan posisinya dalam benak. Dan mewarnai langkah perjalanan kehidupanku.

Akupun sadar. Dia telah memiliki sang buah hati yang hadir ditengah-tengah kehidupannya. Yang melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya. Sedangkan aku? Jangan harap buah hati hadir dalam kehidupanku. Hingga saat ini pun aku tak segera menemui cinta sejatiku.

“Mengapa semua harus berakhir seperti ini?” gumamku sedih.

Aku merasakan kerinduan yang sungguh menyeruak dalam benak. Aku merindukan perhatian dan kasih sayang tulusnya. Aku merindukannya!

Permainan gitarku terhenti. Badanku terasa lemah lunglai. Tak ada keinginan untuk melakukan kegiatan malam ini. Makan pun aku tak ingin. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Malam ini, dan saat ini juga. Tapi semua mustahil. Sangat mustahil!

*Flash back on..

Malam ini aku merasa sangat lelah. Pekerjaan yang menumpuk membuatku ingin segera menghempaskan tubuh ke tempat tidur kesayanganku. Namun sepertinya aku harus ekstra bersabar. Jalanan kota Jogja malam ini dipadati oleh kendaraan.

Maklum saja jika padat dengan kendaraan, karena malam ini adalah malam minggu. Dan tanggalnya pun bisa dibilang tanggal muda. Karena pada tanggal-tanggal itulah dompet orang-orang banyak terisi oleh lembaran-lembaran kertas berwarna-warni yang akan mereka pergunakan untuk belanja, jalan-jalan menghabiskan akhir pekan.

^

Setengah jam lebih perjalanan yang aku tempuh. Akhirnya sampai di depan gerbang rumah. Aku merasa sangat lega. Akhirnya kesempatan untuk aku segera istirahat akan segera tergenapi.

Namun, aku melihat ada sebuah mobil sedan hitam terparkir tepat di samping gerbang rumah. Mobil itu sudah tak asing lagi bagiku. Yahh.. itu adalah mobil kekasihku.

Kami sudah menjalin cinta kurang lebih sudah 2 tahun. Jatuh bangun kami menjalani hubungan kami. Tapi kami sungguh bersyukur karena setiap permasalahan dalam hubungan, selalu hubungan kami kembali normal seperti biasa.

Aku segera turun dari mobil dan segera menghampiri kekasihku.

“hay.. udah lama?” sapaku .
“enggak juga kok. Baru pulang kantor?” tanyanya sambil menyungginkan sebuah senyum yang menyenangkan.
“iya nih. Jalanan rame banget. Mana tadi kerjaan numpuk lagi.” Kataku sambil meletakkan sepatu ke tempatnya.
“aku buatin teh hangat ya? Biar pikiran kamu tenang.” Tawarnya.
“oke. Makasih sayang?” kataku dan dia membalas dengan senyum khas yang menenangkan itu.

Aku naik ke tangga dan segera menuju kamarku untuk sekedar berganti pakaian. Akhirnya aku harus kembali bersabar untuk menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Setelah itu segera ke lantai bawah untuk menemui kekasihku kembali.

“ini teh hangatnya udah jadi. Segera kamu minum ya! Biar pikiranmu tenang. Oke sayang?” katanya dengan penuh perhatian.
“iya sayang.. makasih ! “ kataku sambil tersenyum.

Akhirnya kami pun mengobrol dengan asiknya di teras depan. Namun tiba-tiba raut mukanya serius.

“aku harus bicara serius sama kamu Ra!”
“baiklah. Kamu mau bicara apa?” kataku dengan setenang mungkin. Sejujurnya hatiku bergejolak. Sebab raut mukanya sangat serius.
“aku nggak bisa terusin hubungan kita!” katanya dengan tegas namun terselip nada lirih dari perkataannya. Akupun hanya membisu.
“maaf Neira?”
“kenapa?” kataku masih dengan sikap setenang mungkin.
“orang tuaku udah siapin pasangan buat aku. Namanya Rita.orang tuanya temen mama dan papa. Aku nggak bisa ngebantah mereka. Dan besok malam, aku akan tunangan sama Rita. Maaf Ra?” Dia tertunduk sedih.
Bibirku seketika membisu. Banyak kata yang ingin keluar dari mulut. Tapi tak ada daya untuk berkata.

Seketika mataku terasa panas. Pandanganku mulai samar-samar. Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa dia tak jujur pada orang tuanya bahwa dia telah memiliki kekasih? Apa arti hubungan yang kita jalin selama ini? Pikiranku terlalu kacau untuk memikirkan semua ini.

“aku cabut dulu Ra. Maaf dan makasih buat selama ini. Aku sayang kamu!” pamitnya sembari mengecup keningku dan segera berjalan meninggalkanku yang mematung sendirian.

Yahh.. itulah akhir hubungan kami. Dan beberapa bulan setelah mereka bertunangan, mereka pun memutuskan untuk menikah.
Aku hadir dalam pertunangan mereka, aku juga hadir di pernikahan mereka. Ketika berjabat tangan dengannya dan memberikan selamat padanya, aku bersikap seperti tak pernah ada sesuat yang terjadi antara dia dan aku. Namun aku merasakan sayatan-sayatan menggores benak.
Aku masih mencintainya. Hingga kini.

^

Waktu demi waktu, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan pun berlalu. Sosoknya tak pernah pergi dari kehidupanku. Dan terus menghantui hari-hariku. Aku capek dengan semua ini. Aku lelah. Sangat lelah.
Kapankah aku akan menemukan sebuah cinta sejati? Cinta yang tak mengkhianati?

Selama ini aku selalu berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku akan menemukan orang yang akan menggantikan posisinya. Dan menemukan kebahagiaan dalam keluarga. Yahh.. aku terus meyakinkan diriku hingga saat ini.

*Flash back off

Petikan gitarku terhenti ketika kenangan demi kenangan bersamanya telintas dalam pikir.
Aku harus mengambil keputusan. Aku harus menutup buku kenangan bersamanya dan tak terus larut dalam kenangan itu. Aku harus bangkit . aku harus mencari. Mencari sebuah cinta sejati yang akan mengisi lembaran kehidupanku yang masih kosong. Untuk cinta sejati torehkan tinta-tinta kehidupan di lembaran hidupku

Kisah Sedih yang Populer


( Kisah Kekasihku Daniel adalah sebuah kisah tersedih yang diangkat dari kisah nyata cinta Angel terhadap Daniel, kisah ini menjadi cerita online terpopuler yang dibaca lebih dari 150.000 orang di kompasiana, kaskus

dan , facebook.twitter,blogdetik. Kekasihku Daniel berkisah tentang seorang cowok bernama Daniel yang mencintai Angel dan melakukan apapun untuk Angel dalam hidupnya, sayangnya Angel hanya melihat Daniel sebagai sahabat disaat dia sedih hingga akhirnya merasa takut ketika Daniel mengutarakan cinta kepadanya. Disaat adik Angel krisis, Daniel menjadi pahlawan mendonorkan darahnya hingga tak sadar membuat dirinya sendiri mengalami kecelakaan hebat, Angel yang tidak pernah tau Daniel adalah donor adiknya, tidak pernah tau Daniel telah sekarat, bahkan ketika tau Daniel adalah donor adiknya hatinya tidak tergerak dan peduli, hingga akhirnya daniel benar-benar menghilang dalam hidupnya, ia baru menyesal. Daniel adalah sahabat yang hadir dalam hidupnya sebagai kisah terindah dan tak pernah berharap cinta tulus selain persahabatan abadi. ketika sadar angel tidak mungkin jadi miliknya. Angel menyesal banget ketika ditinggalkan dan terlambat, Daniel menghilang untuk selamanya.
satu hal yang sulit kulupakan tentang kamu adalah

saat kau hadir dalam hidupku untuk ada

satu hal yang sulit kulepaskan tentang kamu adalah

saat kau berkorban untuk hidupku untuk ada
satu hal yang tak mungkin kuhapuskan tentang kamu adalah

saat kau menerima bunga ini sebagai perpisahan kita.

aku tau, sulit bagimu untuk membagi hatimu.
aku tau, aku hanya datang disaat kamu bimbang

aku tau, aku hanya ada bagimu saat kau butuhkan

tapi aku tidak pernah merasa menyesal

karena cintamu
tapi aku tidak pernah merasa kecewa

karena harus berpisah

aku hanya sulit melupakan dirimu,

bukan cintamu.
karena dengan dirimu lah aku merasa bahagia.

kekasihku daniel

saat terindah dalam hidupku adalah bersamamu

saat tersedih dalam hidupku adalah kehilanganmu

andai kelak kau kembali lagi padaku

aku tau saat itulah aku telah mengerti tentang kamu sepenuhnya.

andai kelak kau kembali lagi padaku

berjanjilah hatimu telah penuh dengan keinginan

untuk kebahagiaan kita selamanya

walau di dunia selanjutnya yang mempertemukan kita

agnes davonar
Begitu banyak bagian dari kita yang indah hingga aku tak sadar kisahmu telah melahirkan sejuta air mata dan inspirasi dalam hidup sebagian orang. Daneil, mungkin sulit bagiku untuk melupakan kamu. Tapi berpisah denganmu adalah hal yang terbaik dibelikan Tuhan untuk kita.

Kau tau, saat aku harus memberikan bunga ini kepadamu. Ada satu hal yang tak ingin aku lupakan saat itu, “ Kalau bunga ini kuberikan sebagai ungkapan terima kasih telah hadir dalam hidupku”

Kau tau, saat kau bimbang untuk memberikan isi hatimu padaku. Aku hanya bisa mengetuk pintu hatimu untuk tidak melepaskan aku, tapi aku sulit dan merasa telah memberikan hal buruk dalam hidupmu.

Daniel, aku tau kau mungkin kini telah lupa akan segala yang pernah ada dalam hidup kita.
Daniel, aku tau kau mungkin kini, telah bahagia dengan Tuhan disampingmu bersama jiwa lain yang telah kau pilih.

Tak ada yang lebih membahagiakan ketika kisahmu berhasil membuat ribuan air mata mengenangmu untuk sebagai pria yang indah bagi setiap orang yang membacanya.
Daniel semoga saja, kau bisa kembali dalam hidupku.


Karena aku sungguh ingin kau tau.
Aku sangat mencintaimu walau itu belum sempat kukatakan padamu.
Semoga puisi ini menjadi hal terindah yang bisa kusimpan dalam hatiku untukmu.

cerita cinta pertama dan terakhir

"rio .. turun nak" teriak bunda dari ruang tamu.

"ada apa sih bun ??" teriak rio dari dalam kamar.

"udah kamu buruan kesinii" jawab bunda.

Rio pun keluar kamar dengan malas-malasan, "kenapa sih bun ?? Rio tuh ca..." kata-kata rio terputus ketika melihat seorang gadis cantik tengah duduk di sofa. Saat dia melihat rio, dia melemparkan senyum yang sudah lama tak ku lihat. Seketika itu rasa cape rio hilang. Rio tersenyum.

"Ify??" kata rio tak percaya saat melihat seorang yang sangat rio sayangi. Seorang yang telah ditunggu rio selama 3tahun.

Cinta pertama rio.

"hy yo" sapa gadis itu yang ternyata bernama Ify

"bunda tinggal dulu ya Ify" kata bunda lalu pergi meninggalkan rio & ify.

Rio berlari menuju arah ify lalu memeluknya.

"Ifffyyyy kapan lo pulang?? gue kangeeen banget sm lo" 3tahun lalu Ify pergi ke singapura untuk berobat tapi rio juga tak tau apa penyakitnya.

"aduh..sakit yo" rintih ify kesakitan karena pelukan rio yang kencang,

"eh sorry fy, abisnya gue kangen banget sama lo" kata rio sambil tersenyum memandang wajah ify.

"haha biasa aja kali yo, gue tau kalo gue tuh ngangenin" kata ify sambil tertawa lepas.

"ih dasar .." kata rio sambil mengacak acak rambutnya

Skip aja yaah...

+++++++++++ keesokan harinya

Rio mengajak ify pergi ke taman, tempat favorit mereka dulu.

"gue gak nyangka lo akan bawa gue kesini lagi" kata ify.

"emang kenapa ?? lo gak suka gue bawa ke sini??" tanya rio penuh curiga.

"eh bukan gitu, gue seneng kok, seneng banget malah" kata ify sambil tersenyum manis.

'apa aku bisa terus sama kamu ? apa aku bisa terus liat senyum kamu itu fy?' batin rio.

Rio memegang tangan ify dan rio bisa melihat raut wajahnya yang berubah menjadi kaget, perlahan wajahnya mulai memerah. Rio tersenyum kecil.

"3tahun gue nunggu fy, dan gue pengen ngomong sesuatu sama lo sebelum semua terlambat" rio melihat raut keheranan di wajah ify, orang yang rio sayang.

"ngomong apaan ??" tanya ify penasaran. Rio tersenyum lembut pada ify dan tetap memegang erat tangan ify.

"apa lo tau perasaan gue selama ini ke lo??"

Ify menatapku tak mengerti. Rio pun melanjutkan perkataannya "gue sayang sama lo ify, sayaaaanggg banget..apa lo gatau ?? apa sikap gue selama ini belom bisa nunjukin bahwa gue sayang sama lo ??" kata rio mengungkapkan perasaannya pada ify. Ify semakin tak mengerti

"lo nembak gue ??" tanya ify penuh rasa heran. Rio tersenyum untuk menjawab pertanyaannya yang berarti 'iya'

"hmm..gue pikir pikir dulu boleh ga ??" tanya ify.

"boleh, tapi jangan lama lama ya, ntar gue keburu pergi" kata rio.

"pergi ?? lo mau kemanaa ?? mau pindah ??" tanya ify dengan raut wajah sedih.

"bukan .. udah lo gak perlu tau. pokoknya gue tunggu jawaban dari lo" kata rio menjelaskan.

Suasana sepi beberapa saat, suara hp ify membuyarkan suasana sepi.

"halo ??" ify mengangkat telfonnya "yah, ntar dulu deh maa .... ih iyadeh aku pulang sekarang" ify menutup telfonnya.

Sambil mendesah kecil ify berkata "huh..anterin gue pulang yo" rio menatapnya heran.

"hoh kenapa ?? baru juga bentar" tanya rio pada ify.

"tapi gue disuruh pulang" kata ify dengan wajah cemberut

"oohh..iyadeh gue anter. tapi jangan lupa sama jawaban lo ya" kata rio mengingatkan ify.

"siap bos" kata ify sambil tertawa lepas.

'apa aku bisa ninggalin kamu fy ?? apa aku bisa liat kamu sedih kalo aku ninggalin kamu nanti ??' batin rio.

Rio menggandeng tangan ify menuju motornya dan mengantar ify pulang.

Skiipp..

++++++++++

Rio gelisah, sudah seminggu tak ada kabar dari ify. Seminggu setelah hari dimana rio menyatakan cinta padanya. Apa dia lupa sama rio ?? Atau dia kembali lagi ke singapura ?? Lalu bagaimana dengan jawaban dari pertanyaan rio ??

Tiba tiba kepala rio terasa pusing, darah segar menetes dari hidungnya. 'Oh Tuhan mengapa penyakitku semakin parah sajaa..' batin rio.

Rio membuka lagi map merah pemberian dokter tadi siang. Kangker otak stadium akhir.Rio melap hidungnya dengan tangan, lalu mengambil motor dan segera melaju kerumah ify.

Setelah rio sampai, rio melihat ramai sekali rumahnya. Rio turun dan mulai melangkah menuju halaman rumah ify. 'kenapa semua menangis ?? ada apa ini' pikir rio.

Saat aku memasuki rumah ify, betapa kagetnya rio melihat sosok seorang yang rio sayangi terbaring lemas tak bernyawa. Air mata rio pun mengalir membasahi pipinya.

"Iffyyyyyyy..."tangis rio pecah, rio tak bisa menahan air matanya lagi. Rio terpukul, rio tak bisa menerima kenyataan.

Dari dalam rio melihat acha, adik ify keluar menghampiri rio. Dia memberikan surat pada rio. Segera rio membuka surat itu, apa isi surat itu.

Dear rio,

Maafin gue ya, gue harus pergi ninggalin lo.Maaf selama ini gue ga cerita tentang penyakit gue ke lo, gue cuma ga pengen liat lo sedih.Maaf gue ga bisa habisin saat terakhir gue sama lo, gue yakin lo bisa tanpa gue.

Lo mau tau ga jawaban gue ?? gue mau yo, gue juga sayang sama lo. Udah lama gue nunggu lo nyatain cinta ke gue. Tapi kenapa baru sekarang ??

Gue sayang sama lo yo, tetep senyum ya pangerankuu ..

I love u forever

byee ...

Tangis rio semakin kencang, rio berlari menuju jasad ify yang tergeletak lemas. Rio mengguncangkan tubuh ify, berharap ify bangun dan memelu rio "Ifyy,, bangun fyy, bangunnn"

Tak lama kemudian rio merasakan pusing yang teramat sangat, rio merasakan hidungnya dialiri oleh darah segar. Matanya perlahan tak dapat melihat apa apa dan kemudian gelap.

Rio melihat ify tersenyum padanya mengajak rio menuju suatu keabadian. Rio memegang tangannya, rio ikut dengan ify menuju surga.

Ify lah cinta pertama dan terakhir Rio. Cinta yg abadi.

--The End --

Kisah Sedih Seorang Ibu

Ini kisah sedih seorang ibu. Takkan ada seseorang
lain yang akan dapat menggantikan tempat seseorang ibu di dunia ini. Ni
cerita lama. Aku saje je cerita semula kisah yang sedih ni. Sebab
seseorang nak tahu cerita ni dengan lebih lanjut. Jadi aku letak dalam
blog ni.

Cerita ni
dalam bentuk luahan hati seorang anak yang kesedihan akibat kelalaian
atau dengan kata lain kederhakaannya kepada seorang ibu!

Cerita si anak.....

Ibuku buta sebelah mata!
Aku benci ibuku… Dia amat
memalukanku!
Tugas harian dia ialah memasak untuk pelajar dan guru
untuk menyara keluarga kami.

Pada suatu
hari semasa di sekolah rendah, ibuku datang ke sekolah untuk bertanya
khabar.
Aku sungguh malu. Mengapa dia sanggup melakukan ini
kepadaku?!
Aku tidak pedulikan dia dengan menunjukkan wajah benci
kepadanya dan terus lari.

Keesokan harinya
salah seorang rakan darjah berkata, “EEEE, ibumu hanya ada satu mata!"
Ketika
itu aku hanya ingin membenamkan diriku. Aku juga mahu ibuku hilang dari
hidupku!
Oleh itu aku berjumpa dengannya dan berkata, “Jika engkau
hanya mahu menjadikan diriku bahan ketawa, alangkah baiknya kalau kau
mati saja?!!!”

Ibuku hanya berdiam diri!!!

Aku tidak pun sejenak berhenti dan berfikir akan apa
yang telah aku katakan kepadanya kerana aku tengah marah ketika itu..
Aku
langsung tidak peduli akan perasaannya…

Aku
ingin keluar dari rumah itu…
Oleh itu aku belajar bersungguh-sungguh
dan akhirnya dapat melanjutkan pelajaran ke Singapura.
Kemudian aku
berkahwin. Aku membeli rumah sendiri dan mendapat anak. Aku amat gembira
dengan kehidupanku.

Suatu hari ibuku
datang menziarahiku. Sudah lama dia tidak berjumpa denganku dan tidak
pernah berjumpa cucunya!.
Bila dia berdiri di depan pintu rumahku,
anakku mentertawakannya...
Aku menjerit kepadanya, “Sanggup engkau
datang ke sini dan menakutkan anakku!"KELUAR DARI SINI SEKARANG!!!
Dengan
pantas ibuku menjawab “Maaf, Saya tersilap alamat” dan terus
menghilangkan diri.

Satu hari surat jemputan untuk perjumpaan
pelajar-pelajar lama sampai ke rumahku..
Oleh itu aku telah
memberitahu isteriku yang aku akan pergi untuk urusan perniagaan…

Selepas perjumpaan itu, aku telah pergi ke rumah
usang ibuku hanya untuk ingin tahu!!!.
Jiran memberitahuku yang ibuku
telah meninggal…
Aku tidak menitiskansetitik airmata pun!!

Jiran itu telah menyerahkan kepadaku sepucuk surat
yang ibuku ingin aku membacanya…
“Anakku yang dikasihi, Ibu selalu
teringatkan kamu setiap masa…
Ibu minta maaf kerana datang ke
Singapura dan telah menakutkan anakmu.
Ibu gembira kerana kamu akan
datang
ke perjumpaan pelajar-pelajar lama…
Tetapi ibu mungkin
tidak dapat bangun
untuk berjumpa denganmu.
Ibu minta maaf kerana
sentiasa memalukan kamu
semasa kamu sedang membesar.

Kamu
mungkin tidak tahu…. Semasa kamu masih kecil, kamu telah mendapat
kemalangan dan hilang satu mata........
Sebagai ibu, aku tidak
sanggup melihat anaknya membesar dengan satu mata...
Oleh itu… Aku
memberi salah satu mataku kepada kamu…
Aku amat berbangga kerana anak
lelakiku dapat melihat dunia ini dengan mata ibumu ini…

…Dengan kasihku kepadamu…
…IBUMU…


Sabda Rasullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: Dia
memberitahu kamu supaya taat kepada Allah dan RasulNya sentiasa. Selepas
itu taatlah kepada ibumu kemudian ibumu kemudian ibumu kemudian ayahmu!

Wassalam...

kisah sedih nyata cinta di balik tragedi Sukhoi


“ Senyum terakhir..
based on true story love Ilma and Arnhenzky

“ Pada akhirnya, kepergian seseorang mungkin menyakitkan akan tetapi akan selalu  menjadi pelajaran bahwa kehilangan adalah jalan terakhir untuk membuat kita mengerti betapa berartinya seseorang dalam hidup kita.”
Agnes Davonar


saat terakhir aku melihat jasadnya
Nama gua Arnhenzky Arzhanka, ribet ye nama gua. Kalau begitu panggil aja Anes. Nama itu dikasih bokap gua karena dia gak sengaja mendengar nyokap gua mengandung pada saat dia sedang jalan-jalan di Rusia so.. nama gua ala-ala Rusia gitu.  Umur gua sekarang 25 tahun, pekerjaan gua saat ini kuli seni atau kerennya disebut telent. Gua jalani kehidupan sebagai kuli seni ini buat nabung modal gua di masa depan untuk jadi wiraswata kayak bokap gua yang cukup sukses sebagai penjahit baju ( tailor). So, demi masa depan gua, gua kerja tanpa kenal batas waktu sampai tidur pun terkadang suka lupa waktu. Gara-gara lupa waktu ini, gua jadi mengenal seseorang ; seseorang yang memiliki senyum terindah yang pernah gua lihat seumur hidup gua. Gua menyebutnya sebagai takdir pertama. Kisahnya dimulai saat itu  ketika suatu hari, gua gak sadar ketiduran dan tiba-tiba telepon gua berbunyi.
Dengan setengah mengantuk gua angkat.

“ anes, loe dimana? “ teriak menejer gua kencang dibalik telepon
“ dikamar.. kenapa? Teriak-teriak kayak kebakaran aja” Tanya gua
“ buruan loe ke Bali. Itu ada jadwal syuting iklan. Itu tim produksi uda di Bandara nunggui loe..”
“ lah.. emang jam berapa?” Tanya gua memperhatikan jam di kamar.
“ jam 10 pesawat.. ini uda jam 8.30. Loe belum juga boarding..”

Sumpah mampus!! gua kaget setengah mati, karena keasyikan tidur sampai lupa kalau hari ini gua harus pergi ke Bali buat syuting. Akhirnya gua, dengan langkah 1000 menembus kemacetan Jakarta dengan penuh perjuangan menuju bandara. Setiba di sana, gua sudah telat, dengan terburu-buru gua menuju pesawat. Untungnya nama gua masih dipanggil-panggil walau tersisa 10 menit lagi. Pesawat yang gua gunakan saat itu adam air. Dengan kebingungan gua menuju kabin pesawat.

Seorang perempuan cantik menyapa gua  di depan pintu kabin :
“ini mas Ar..nhen.. zky Arz..hanka?”kata dia dengan kesulitan menyebut nama gua
“iya iya.. aku duduk mana ya?” Tanya gua.
“aduh hampir aja di tinggal pesawat.. buruan mas ikuti aku, penumpang uda ngamuk-gamuk neh nunggu mas.. ”kata perempuan itu.

Akhirnya dia mengantar gua ke kursi dan sialnya karena terburu-buru kaki gua tersandung kursi dan menimpa tubuh pramugari itu yang ikut terjatuh. Melihat kejadian itu pramugari-pramugari dan penumpang di deket kita ngebantu dengan cepat.  Tentu aja kejadian itu membuat gua malu setengah mati. Lebih gak enak hati karena membuat sang pramugari jadi pusat perhatian. Gua mengucapkan kata maaf. Dia hanya tersenyum dan pergi. Padahal gua tau, dia pasti marah banget karena dibuat malu sama gua. Akhirnya dia ke belakang kabin dan ketua pramugari yang bertugas mengantar gua ke kursi.

“aduh mbak sorry jadi gak enak.. mata masih 5 watt neh..” kata gua.
“makanya lain kali kalau tidur pakai pakai alarm supaya gak telat..” kata pramugari itu dengan sabar.

Akhirnya dia mengantarkan gua ke tempat kursi gua. Teman-teman tim produksi bernafas lega menemukan gua di pesawat.  Setelah menghela nafas. Gua tetap merasa tak enak hati karena kejadian tadi, sepanjang perjalanan menuju bali gua terus memperhatikan pramugari tadi dan memperhatikan nama di name tag miliknya dengan sembunyi-sembunyi. Namanya Nur Ilmawati. Setiap dia berjalan, gua melempar senyum dan merasa tidak enak hati karena membuat dia malu, tapi dia hanya diam tak merespon.

Sampai akhirnya, pesawat mendarat dan saat itulah terakhir gua harus pergi. Rasanya ingin mengucapkan maaf untuk terakhir kali tetapi percuma juga karena dia pasti sibuk; pikir gua. Ketika gua turun dari kabin pesawat dan bertemu dengan ketua pramugari yang menyambut kepergian tamu. Gua mengucapkan salam dan tiba-tiba dia memberikan gua sehelai tisue

“apaan ini?”
“kalau mau minta maaf, itu nomornya..”
“oh.. makasih mbak.. “kata gua.
Sepertinya semua petugas di dalam pesawat sudah tau rasa bersalah gua dan mereka memberikan kesempatan gua untuk meminta maaf dengan cara yang lucu. Setelah tiba di hotel di bali. Gua kemudian mengiriman sms kepada pramugari yang di kertas itu ditulis namanya” Ilma “
“Ilma ya.. maaf ya tadi dipesawat bikin kejadian memalukan.. merepotkan. Anes..”
Dengan kebingungan dia membalas.
“kok bisa tau nomor aku?”
“dari senior kamu gapapa kan, dimaafin gak?”
“dimaafkan kok. Kan dalam ajaran agama, memaafkan itu amal ibadah..”

Mendengar kalimat itu gua merasa lega. Kami pun jadi sering smsan beberapa hari sampai akhirnya dari perkenalan itu berakhir begitu saja tanpa pernah bertemu. Kesibukan dia sebagai pramugari dan gua sebagai kuli seni membuat takdir kami berjalan. Tapi tidak begitu lama, sampai suatu ketika. Tanpa sengaja, gua menerima sms dari Ilma yang salah sms bahwa dia sedan di semanggi. Karena kebetulan gua juga sedang menuju semanggi. SMS nyasar itu akhirnya menjadi takdir kedua yang menjadi pertemuan kita.

Ilma yang gua lihat saat menjadi pramugari terkesan dewasa dan serius, ternyata saat bertemu bisa juga terlihat lucu. Pada saat itu dia bercerita kalau dia sudah tidak lagi bekerja karena maskapai tempat dia lagi kerja bangkrut dan sedang melamar pekerjaan. Akhirnya dari pertemuan itu kita menjadi saling dekat dan berjanji untuk sering bertemu dalam beberapa kesempatan.

Sampai suatu ketika, kita lagi jalan dan duduk di pantai Ancol sambil menikmati matahari sore. Ilma yang gua pikir terlihat bahagia dengan senyum indahnya ternyata tidak sebahagia senyumnya. Semakin kita mengenal, semakin gua tau betapa rapuh diantara senyum itu. Saat itu dia bertanya sama gua, kenapa gua mau jadi kuli seni? Lalu gua menjawab

“abis aku gak suka kerja kantoran.. kalau mau cari duit gampang ya coba disini dulu. Kebetulan muka aku katanya lumayan buat iklan.. lagian aku males kuliah, jadi bokap Cuma kasih dua pilihan fokus kerja atau kuliah.. ya aku fokus kerja dong..”
“kamu enak ya, gak usah pusingi harus bagaimana dalam hidup kamu.. dibandingin aku.. mau kuliah aja gak bisa. Syukur-syukur bisa lulus SMA tapi sekarang nasib cari kerja aja susah..”
“memangnya kenapa?”
“ aku gak seperti kamu, punya keluarga yang bisa bantu selalu untuk bertahan hidup. Sebaliknya, aku harus bekerja untuk bertahan hidup untuk aku dan keluargaku..”

Gua jadi bingung mengapa dia berkata demikian dan ia pun bercerita tentang masa lalunya.
Ilma kecil lahir dari empat bersaudara. Ia paling kecil diantara ketiga kakaknya. Ibu dan ayahnya bercerai, keduanya sudah menikah kembali. Ilma kemudian diasuh oleh kakak perempuan tertuanya dibantu oleh neneknya. Jadi masa kecilnya dihabiskan dengan didikan nenek dan kakaknya. Kakaknya sendiri bukan orang yang mampu tapi dengan sekuat tenaga ia membantu Ilma sampai lulus sekolah. Karena ilma merasa sudah dewasa akhirnya ia memutuskan mencari pekerjaan. Apapun pernah ia lakukan sampai menjadi SPG sampai menjadi penjual tiket di XXI. Impiannya hanya satu yaitu mengubah kehidupannya lebih baik dan membalas kebaikan mereka yang merawatnya.

Dia bercerita dengan tangis bagaimana kehidupan keluarganya.. gua merasa tidak enak hati membuat dia menangis. Tapi akhirnya gua membuat satu pertanyaan terakhir…
“kok kamu mau jadi pramugari?”
“sejak kecil, aku tuh gak pernah naik pesawat. Mimpi naik pun gak berani.. Itu kan hanya untuk orang mampu.. sedangkan aku orang miskin. Jadi impian kecilku ya pengen naik pesawat. Kebetulan suatu ketika aku denger dari teman kalau ada buka lowongan jadi pramugari.. akhirnya aku coba ngelamar.. dan  yang paling membuatku optimis, perusahaan itu membuka lowongan untuk lulusan SMA. Akhirnya aku ngelamar dan diterima..””
“kamu emang gak takut diatas ketinggian..?”Tanya gua.
“Takut sih, tapi mau gimana lagi.. kalau aku kerja jadi kasir penjual tiket seumur hidup juga gak akan bisa mengubah kehidupan aku. Yauda aku hilangin rasa takut aku jadi pramugari, gajinya kan lumayan besar..”
“begitu ya?”
“kenapa kamu takut ya naik pasawat?”
“hehehe. Lumayan sih. Abis serem banget kalau naik pasawat apalagi pas goyang-goyang, jantung kayak mau copot”
“ kalau gitu jantungnya di rem aja pake lakban supaya gak hilang..”katanya yang membuat kami tertawa.

Akhirnya lelucon tadi bisa membuat dia yang tadi menangis bercerita tentang kehidupan masa lalunya tersenyum kembali. Tapi gua jadi paham satu hal tentang dia. Kalau dia bekerja bukan hanya untuk dia sendiri, makanya selama masa pengangguran gini dia sedikit sedih karena banyak orang yang harus dia bantu dalam kehidupan. Dia harus bantu orang tuanya, dia harus bantu keponakannya agar tetap bisa sekolah, dia harus membalas jasa kakaknya dan hal yang paling menyedihkan dia melakukan segalanya tanpa pernah berpikir tentang dirinya sendiri.

Bukannya itu semua tugas orang tua Ilma? Keduanya telah memiliki keluarga dan anak-anak yang harus dibiayain.. hal yang paling sesali ia tidak pernah melihat yang namanya keluarga utuh seperti di sinetron-sinetron walaupun dia sendiri bermimpi kelak semua keluarganya berkumpul bersama dalam sebuah kebahagiaan dan menghapus semua jarak serta hal yang memisahkan mereka.
Kemandirian dan dedikasinya dalam keluarga membuat gua jatuh cinta dan akhirnya menyatakan cinta sama dia. Dia menerima gua dan akhirnya kami jadian setelah hari itu sebagai pasangan kekasih.
Dan gua menyebutnya sebagai takdir ketiga..

***
Setelah kami jadian, Ilma mendapat kabar gembira kalau dia di terima kerja di maskapai Riau Airlines dengan gaji yang memuaskan walau harus diluar kota. Gua mengucapkan selamat untuk pekerjaan barunya walau dengan begitu gua jadi tau, pekerjaan itu akan membuat dia semakin jarang bertemu dengan gua. Karena dia selalu pergi dari satu kota ke kota lain. Tapi gua menjalani semua ini dengan suka cita, sebagai kekasih. Kami sama-sama menjalani kehidupan cinta yang indah.  Walau hanya bisa bertemu sebulan sekali atau dua kali.

Ilma dengan pekerjaan barunya benar-benar memanfaatkan apa yang ia dapat untuk masa depan dia sendiri. Dia bekerja mati-matian untuk mengambil setiap kesempatan terbang agar bisa mengubah hidupnya. Dia menabung untuk satu hal yang selalu dia katakan ke gua. Karena sejak kecil dia selalu hidup menumpang dari kakaknya yang mengontrak rumah dengan berpindah-pindah, dia pengen banget punya satu tempat untuk selamanya yaitu sebuah rumah untuk dirinya. Akhirnya dia menabung untuk impian dia itu.

Seperti sebuah kisah cinta, gak selalu indah dan baik-baik saja. Kita juga terkadang mengalami keributan kecil dan semua baik-baik saja sampai akhirnya suatu ketika kami terlalu jauh dalam keributan dan putus nyambung akhirnya putus untuk waktu yang lama. Tapi kita sama-sama sadar, bahwa kita saling mencintai dan akhirnya berpisah untuk mencoba intropeksi agar mengerti arti kita di hati masing-masing. Gua fokus pada kariel gua yang sedang naik, begitu pula dengan Ilma dan tanpa sadar kami berpisah oleh waktu. Dalam kesendirian itu, gua jatuh cinta sama seseorang dan menjalin hubungan.

Ilma mendengar hubungan baru gua dan mengucapkan selamat. Gua tau, hatinya pedih dan gua merasa tidak enak hati karena membuat dia terluka. Akhirnya gua memutuskan untuk tidak menghubungi dia sementara waktu, agar dia tidak lebih menderita karena hubungan baru gua. Di hari-hari berikutnya, gua pun mendapat kabar kalau Ilma sudah memiliki kekasih lain. Apa yang gua rasakan adalah rasa perih dan gua baru menyadari betapa bodohnya gua melewatkan dia dalam hidup gua, tapi gua tidak bisa egois dan akhinya menerima takdir kami masing-masing.

Ilma sepertinya sedang dicoba oleh takdir. Riau Airlines kembali mengalami kebangkrutan dan akhirnya dia tidak bekerja. Tapi tidak begitu lama dari kejadian itu ia pindah bekerja ke Mandala Airlines. Artinya dia akan pindah kembali ke Jakarta. Diam-diam pada saat itu, kami berjanji untuk bertemu sebagai sahabat karena masing-masing dari kami punya kekasih. Kami bertemu di sebuah tempat yang pernah jadi tempat terindah kami dulu. Di sebuah pantai.
Saat itulah kami mencoba untuk mengerti mengapa kami menjadi seperti ini dan satu hal yang akan gua ingat selalu tentang kata-kata terakhirnya.
“ kalau kita berjodoh kita akan akan pernah dipisahkan takdir. Dengan siapa pun kamu? pacaran kalau jodohnya kamu adalah aku, maka aku akan jadi takdir kamu..”
“jadi aku harus gimana?”
“kita gak harus gimana-gimana. Kita percaya saja takdir. Untuk sementara, kita gak usah berhubungan.. kamu hapus aku dari bb kamu. Aku juga hapus. Kita berdoa saja.. kalau memang takdir semoga kita kembali bersatu..””
Gua hanya tersenyum. Walau hati ini berharap demikian tapi gua gak akan pernah menolak bilamana itu terjadi. Akhirnya kami memutuskan hal terakhir yang bisa membuat kami saling kontak, Selanjutnya gua serahkan kepada Tuhan. Karena sebenarnya gua dan dia masih saling sayang akan tetapi keadaan membuat kita gak bisa bersama lagi. Yaitu kami sama-sama punya kekasih dan tidak ingin menyakiti siapapun. Setelah itu Ilma fokus pada pekerjaan dan impiannya untuk waktu yang tak pernah terjawab..
**
Setahun kemudian
Cinta sepertinya begitu rumit hubungan gua sama kekasih gua saat ini akhirnya berakhir. Gua menjadi seperti dahulu kala, sendiri. Ketika gua sendiri, menjalani hidup gua seperti biasanya. Suatu ketika gua kembali bertemu dengan ilma tak sengaja di bandara. Pada saat itu dia sudah tidak lagi bekerja di Mandala Airlines karena hal yang sama terjadi kembali, maskapai perusahaan dia bangkrut. Sayangnya dia masih bersama kekasihnya, tapi kita menjalin hubungan kembali dan melupakan janji kita untuk tidak saling kontak karena ia sudah bekerja di Jakarta kembali di Sky Avination.

Ilma dan gua sering kontak walau hanya sekedar bertanya kabar. Tapi gua tau, tidak baik untuk menganggu hubungan dia sama kekasihnya saat itu.  Jadi dari hari ke hari, ia selalu bercerita banyak hal tentang apa yang terjadi dalam hidupnya dan gua menjad pendengar yang baik bagaikan seorang saudara. Dia menganggap gua adalah orang yang paling layak tau apa-apa saja yang telah ia miliki dengan apa yang ia kerjakan dengan penuh keringat. Gua senang dia bisa mulai mencicil rumah kontrakan yang dia beli dengan susah payah, bahkan dia sudah bisa lebih baik dalam hidup karena pengalaman dia sebagai pramugari senior membuat hidup dia lebih baik, artinya kehidupan keluarganya pun jadi lebih baik.
Sampai suatu malam entah mengapa dia bertanya sama gua.

“bisa gak sih kita kembali kayak dulu, sebagai kekasih, bukan seperti saat ini. Seperti ada jarak diantara kita yang bikin kita tidak bisa seperti dulu..”
“keadaan kita beda.. kamu sudah ada yang punya.. aku gak bisa.. seperti saat ini saja aku sudah bahagia kok.. “
“aku enggak.. aku enggak bahagia.. “
“kamu harus coba bahagia.. kamu pasti bisa..”
Karena tidak ingin merusak hubungan dia sama kekasihnya, akhirnya gua menghilang sesaat dari hidup Ilma. Walau dalam hati gua merasa sedih untuk pergi dari hidup dia, tapi gua harus lakukan semua yang menyakiti hati gua. Gua selalu menghindar dan tak jarang enggak membalas semua pesan yang dia kirimkan ke gua. Walau gua selalu memperhatikan status yang dia buat di Blackberry. Gua juga bilang kalau gua sudah balikan sama mantan supaya dia bisa mengerti walau itu bohong semata.
Suatu malam, gua mengucapkan selamat ulang tahun lewat telepon ke Ilma untuk hari ulang tahunya. Gua senang, gua menjadi orang pertama yang mengucapkan hal itu ke dia. Tapi di telepon terdengar suara tangis darinya.
“kamu nangis ya?”
“Enggak kok.. Cuma senang aja dikasih Tuhan umur yang panjang sampai bisa ngerayain ulang tahun ke 25..”
“ kalau gitu make a wish dong..?” kataku.
Entah mengapa dia berkata sesuatu yang membuat gua terdiam.
“ Aku mau make a wish sama kamu boleh?”
“kok sama aku, sama Tuhan dong? Tapi yauda gapapa.. ngomong aja..”
“ kalau ini uda jadi saat terakhir aku merayakan ulang tahun aku, aku mau kamu tau. Kalau aku bahagia mengenal kamu dan aku titip semua yang aku miliki sama kamu ya.. ” katanya yang membuat aku tersentuh.
“ kok kamu ngomong gitu?”
“karena Cuma kamu yang benar-benar tau bagaimana kehidupan aku, keluarga aku dan semua impian aku.. makanya aku bahagia.. soalnya teman-teman aku bahkan gak ada yang pernah tau semua tentang hidup aku.. karena aku harus jujur, aku malu kalau mereka tau keadaan keluarga aku, Cuma sama kamu aja.. aku jadi berani dan sadar.. bagaimanapun keadaan keluarga aku, mereka itu tetap bagian hidup aku.. ” ceritanya padaku
“aku juga bahagia kok..kamu jangan bikin aku bingung ah.. make a wish kok jadi sedih gini.. ayo dong senyum.. kan senyum kamu itu hadiah terindah dari Tuhan.. nah sekarang kamu mau kado apa dari aku?” Tanya gua..
“ aku gak mau apa-apa aku Cuma mau kamu jangan pernah lupain aku dalam hidup kamu.. bisa?”
“pasti..”kataku pendek.

Dan setelah hari itu, kata-kata itulah kata-kata yang terakhir gua dengar darinya. Suara terakhir yang gua dengar darinya. Gua belum sempat memberikannya kado ulang tahun dan berjanji setelah gua enggak sibuk syuting gua pasti membawakan kado itu untuknya. Jadwal kami yang sama-sama sibuk membuat kami tidak sempat bertemu. Akhirnya gua memutuskan untuk mengantarkan kado itu ke rumahnya. Sebuah parfum yang aku miliki satu dan dia satu. Jadi parfum itu edisi khusus yang gua beli pada saat tidak sengaja pergi ke Singapura.  Ilma menerima kado itu dan mengucapkan terima kasih.  Dan dia memberitahu kalau dia sudah sendiri.

Sebenarnya pada saat itu gua bisa juga memutuskan untuk menjalin hubungan kembali tapi dia sepertinya lampu hijau yang diberikan Ilma tentang kesendirian tak begitu gua perhatikan karena sibuk dengan pekerjaan gua. Sampai akhirnya dua hari sebelum hari terakhir takdir memisahkan kami. ilma mengatakan pada gua.

“jadi setelah kita sama-sama sendiri.. menurut kamu kalau kita balikan gimana ?”
“kasih aku waktu untuk berpikir.. aku pengen banget kita seperti dulu.. tapi saat ini aku sibuk, aku takut gak bisa membuat kamu bahagia.. kamu mau nunggu aku kan?”
“aku tau kok.. aku akan selalu nunggu kamu.. kapan pun itu.. aku akan selalu nunggu kamu.. kamu kalau kerja ingat kesehatan kamu ya….”

Kata kata itulah hal yang terakhir gua dapatkan darinya sebelum dua hari kemudian disaat gua terbangun dari tidur dan mendapatkan kabar kalau Ilma telah menghilang bersama kejadian pesawat sukhoi dimana ia sedang bekerja. Sebelumnya gua uda punya firasat yang aneh sekali, entah mengapa tiba-tiba blackberry gua mati dan kehilangan semua data gua, saat gua coba back up. Hampir semua foto-foto Ilma dan kontaknya hilang.  Gua pun berpikir untuk hubungin dia untuk minta no pin dia akan tetapi nomor dia gak aktif. Sampai akhirnya gua baru sadar kenapa dia gak bisa dihubungi, yaitu ketika tau dari teman-teman kalau Ilma adalah salah satu penumpang di pesawat sukhoi naas itu.

Hati gua hancur, perih dan sedih. Segera gua mencari tau keberadaan Ilma di bandara  halim dimana sudah ratusan orang keluarga yang hilang bersamaan dengan pesawat sukhoi berkumpul. Pertama dalam hidup gua, akhirnya gua benar-benar melihat keluarga Ilma berkumpul disana. Ayah, ibu, nenek kakak dan keponakan-keponakannya menunggu dengan cemas. Kita berharap Ilma masih hidup dan berdoa kepada Tuhan, karena seumur hidup hanya saat inilah dia bisa melihat semuanya berkumpul dan tentu dia akan bahagia ketika ia selamat nanti melihat senyum kebahagiaan mereka menyambut Ilma.

Akan tetapi harapan dan cahaya bahwa tidak terjadi apa-apa dengan pesawat sirna seketika, Tuhan berkehendak lain, pesawat sukhoi ditemukan dan semua penumpang dinyatakan meninggal. Saat itulah gua menangis, menangis karena kehilangan orang yang pernah ada dan mencintai gua dengan tulus. Penyesalan terberat yang tak bisa gua bayangkan adalah mengapa pada saat terakhir dia memberikan sinyal untuk bersatu tetapi gua malah menunda itu terjadi.

Ilma sepanjang hidupnya ingin sekali keluarganya yang tercerai belai bersatu. Akhirnya pada hari dimana dia telah tiada, seluruh keluarganya berkumpul. Tetapi sayangnya mereka berkumpul untuk hal yang tidak ia tentu harapkan.. yaitu saat mereka harus menangis untuk kepergiaannya.  Gua harus mengucapkan rasa bangga atas apa yang dia harapkan dalam hidup benar-benar terjadi. Dia selalu berkata sama gua, impiannya pada suatu ketika hanya ingin membuat keluarganya bahagia. Memberikan tempat yang layak untuk kakaknya, membuat orang tuanya bahagia untuk itulah dia mengambil pekerjaan yang paling beresiko sekalipun.

Semua telah ia lakukan, hutang-hutang budi kehidupan yang telah terbalas dalam kehidupan akhirnya nyata. Sebagai tulang punggung keluarga yang bekerja mati-matian tentu keluarga akan kesulitan ketika ia pergi, berkat adanya hibah dari Pemerintah Rusia atas bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan, Ilma masih bisa melakukan sesuatu yang besar di akhir hidupnya, itulah hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk membahagian kelurganya walau harus dengan sebuah hal yang tidak diharapkan oleh siapapun.

Ilma kini telah pergi dengan senyum terakhirnya, mungkin sejak kecil ia emang gak pernah mengerti mengapa dia harus terlahir ke dunia ini bilamana ia harus berjuang dari kehidupan yang ia jalanin dengan susah payah hanya untuk membahagiakan orang lain sampai akhir hidupnya.  Keluarganya mungkin tidak seindah yang ia harapkan seperti dalam sinetron-sinetron tapi janjinya untuk membuat keluarga bahagianya sampai titik darah penghabisan masih bisa ia lakukan walau kini ia telah pergi untuk selamanya..

Seperti yang ia minta sama gua, jangan pernah ngelupain dia.. hal yang tidak akan gua lupain dengan cara menulis kisah ini agar semua orang tau..
Bahwa ada senyum terakhir yang begitu indah dibalik kepergiannya kepada mereka yang ia tinggalkan termasuk gua..

Catatan : suatu malam seminggu setelah dia meninggal, gua bermimpi bertemu dengan Ilma, dia membicarakan satu hal yang gua gak pahami lewat pesan yang aneh
“ semua kontrakan aku tolong kasih ke kakak aku, tapi rumah aku yang diatas langit jangan dijual ya.. karena itu tempat impian aku.. tepat di tempat pertama kita bertemu.. disana kamu jaga ya.. terima kasih Anes.. “
Ilma emang punya rumah kontrakan yang dia beli dengan susah payah tanpa diketahui oleh saudaranya, akhirnya gua memberi tahu keluarga tentang kontrakan itu untuk diserahkan. Tapi rumah diatas langit, itulah yang membuat gua bingung sampai akhirnya gua memandang langit di sekitar semanggi tempat pertama kali bertemu. Dari situlah gua paham.. rumah diatas langit yang dia maksud adalah sebuah apartement..
Beberapa bulan sebelum dia meninggal, dia sempat mencicil apartement itu. Gua pun menghubungi pihak pengembang apartement, memang benar Ilma memiliki unit disana. Gua memutuskan untuk melanjutkan cicilan apartement itu. Sisa daripada cicilan sebelumnya gua berikan kepada kakaknya, gua berharap tempat itu menjadi tempat dimana kelak gua bisa mengenang dia sebagai bagian hidup, melihat senyum dia seperti pertama kali gua mengenalnya di atas langit-langit bumi.

Selamat Tinggal Ilma. Beristirahatlah dengan Tenang
Terima kasih atas senyum terindahmu karena dengan itulah aku mengerti bahwa tak ada yang lebih baik dari hidup selain saat-saat aku mengenal dan mencintaimu..

tamat

cerita sedih mengalir air mata

Mungkin ada di kalangan readers pernah membaca Kisah Sedih ini begitu juga dengan Dr Fuh. Walaupun dah baca 2 kali cerita ni, air mata tetap mengalir jugak. Pilu sangat bila hayati betul-betul.
Cerita ini dipetik dari sebuah buku motivasi bertajuk 'U-Turn ke Jalan Lurus' oleh Zul Ramli M. Razali. Hayatilah sebagai pengajaran untuk kita semua.... 
Perjalanan pulang dari showroom dengan memandu kereta baru memberi satu pengalaman sangat menguja. Bau dalaman dan bungkusan plastik masih ada., sudah cukup menceritakan bahawa impian bertahun-tahun untuk memiliki sebuah kereta hebat telah menjadi kenyataan.
Sesampai di rumah, kereta diparkir di garaj dengan berhati-hati, sudah tentu sedikit calar akan mengguris kegembiraan yang sedang dinikmati kini. Isteri, anak termasuk pembantu rumahnya entah berapa kali berkeliling melihat dari pelbagai sudut dan memuji serta menyebut hal-hal yang sama berulang kali. Anak kecilnya berumur tiga tahun nampak lebih teruja dengan tak habis-habis keluar masuk kereta.
Malam itu, sebelum tidur juga duduk-duduk di tempat pemandu dan melihat lagi keretanya sebelum ke katil. Mungkin tidurnya juga bermimpikan kereta baru dengan warna merelit.
Hari esok, dia bangun penuh ceria, bergegas menghadap sarapan lalu mencapai beg bimbit untuk ke pejabat. Kawan-kawan sudah maklum, dan hari ini: Surprise! Begitu rancangannya.
Tetapi apabila dia menghampiri keretanya ada sesuatu yang sungguh memeranjatkan. Dia mendapati sekeliling keretanya terdapat calar-calar dengan goresan yang ketara. Beberapa saat terpinga dia hanya terpaku berdiri kekejangan. 
Beg bimbit terlepas daripada genggaman kemudian muka terasa panas tersimbah dan kem
arahan membakar dada. Spontan datang dalam mindanya wajah anak kecil yang memang suka menconteng serata dinding. Baru kelmarin dia belikan kotak pensil warna dan kertas lukisan bagi mengatasi tabiat menconteng tersebut.
"Adik, mari sini!" Jeritnya kuat memanggil anaknya, nafasnya tertahan-tahan dalam membuak api kemarahan."Budak ini kena ajar," getus hatinya, berani benar anaknya menggores kereta barunya.
Si anak penuh ketakutan seperti seekor burung ciak yang menggigil dibasahi hujan. Tanpa berlengah bersama arus kemarahan yang sukar dibendung si ayah memukul anaknya di serata badan sambil mulutnya tak sudah-sudah menghamburkan kemarahan. Anak kecil ini hanya meraung dan menangis tetapi dalam hati rasa bersalah atas apa yang dia telah lakukan.
Kemarahan ayah masih belum reda lantas mengambil pembaris besi nipis dan dipegangnya tangan anak. Pembaris tersebut diracik-racikkan ke tangan si anak sambil ayahnya berkata, "Ini ayah nak ajar kamu!"
Ia terus mengherdiknya berulang kali. Kalaulah tidak disabarkan oleh isterinya mungkin jadi lebih teruk lagi anaknya. Anaknya tersepuk dalam dakapan pembantu rumah dengan sedu-sedan serta air mata terurai.
"Mana pensel warna yang ayah belikan semalam?" bentak ayah sambil mencari pensel warna yang baru dibelikan itu. Si ayah merampasnya dan mencampakkannya ke dalam kereta.
Pagi tersebut sangat murung buat anak, sangat perit buat ayah. Ayah masuk ke dalam kereta, menghempas pintu, menekan pedal minyak dan berlalu pergi tanpa menoleh. Ibunya pula hanya punya masa sebentar kerana terpaksa bergegas untuk urusan jauh ke luar daerah.
Tinggallah anak ini dengan air mata berlinangan, sedu, tangis dan kesakitan.
sekadar hiasan
Ayah yang masih marah dan tidak dapat memaafkan anaknya terus menghantar kereta ke bengkel dan dia hanya di luar sepanjang hari. Buat sementara tertutup hati untuk balik ke rumah.
Lewat petang, telefon bimbitnya berbunyi, dengan malas dia mengangkat kerana dia tahu itu panggilan dari rumahnya.
"Bapak, apa saya perlu buat? Adik asyik menangis dan demamnya kuat sekali." Adu pembantu rumah di hujung talian dalam butir bicara keliru.
'Biarkan dia, saya nak ajar dia cukup-cukup!" Dengan marah dia terus mematikan telefon bimbitnya.
Malam itu, ayah tidak pulang ke rumah. Namun ketika lewat malam telefon bimbit berbunyi bertalu-talu daripada nombor yang dia tidak tahu. Dia mengangkatnya. Amat mengejutkan panggilan tersebut dari sebuah hospital meminta dia datang dengan segera. Tanpa berlengah, dia terus ke hospital.
Dia mendapati isterinya turut berada di sana. Pembantu rumah yang bergegas membawa anak ini ke hospital juga turut bersama dengan wajah sugul bercampur rasa bersalah. Dia terus meluru masuk berjumpa doktor bagi mengetahui kondisi anaknya. Alangkah pilunya apabila ia diminta menandatangani akuan bagi melakukan pembedahan bagi memotong pergelangan tangan anaknya..
"Seluruh sarafnya telah rosak dan bakteria telah masuk ke dalam sum-sum tulang, kami tidak ada pilihan melainkan terpaksa memotongnya untuk menyelamatkan nyawa anak ini." Jelas doktor dengan gambar x-ray dan analisis lain penuh di atas meja. Dengan hati yang berat dia menurunkan tandatangannya.
"Hari malang apakah ini..." tangis hatinya dengan rasa sesal yang tidak dapat dibendung mengenang nasib anaknya.
Si ayah melihat dengan penuh simpati pada wajah comel anaknya yang telah terbaring setelah melalui pembedahan yang panjang. Dia tidak pasti apa perasaan sepatutnya ketika itu. Berulang-alik rasa bersalah, kasihankan si kecil, bodohnya tindakan, menyesal, simpati dan semuanya tidak jelas tapi satu yang jelas ialah tangan anaknya telah kudung.
Apabila si anak sedar, dia melihat ayah dan ibunya berada di sisi. Dia menangis sambil memohon kemaafan.
"Ayah... Maafkan adik, adik janji tidak akan gores kereta ayah lagi."
"Ayah tolong pulangkan pensel warna adik ... Adik nak melukis," rayu anak kecil itu dalam esakan meninggi mengemis simpati ayahnya.
Kelu lidah ayahnya, hanya air mata hangat mengalir dan di dalam dada sarat tergumpal rasa sesal. Dia hanya mampu menatap wajah anaknya yang masih menangis.
Tapi kemudian apabila anak ini tersedar tentang tangannya yang kudung, saat itu dia berkata dalam kesayuan, "Ayah, tangan adik dah tak ada, adik dah tak boleh melukis lagi, kalau adik dah besar nanti macamana nak jaga ayah..macamana adik nak mandikan ayah. Tangan adik dah tak ada lagi...Ayah, pulangkan tangan adik."
Tangisan adik terlalu kuat, sangat menyayat hati. Ayah hanya mampu menangis semahu-mahunya. Apakah yang mampu dia perbetulkan kini? Dia merangkul anaknya dengan pandangan kosong melihat anak bersama cita-citanya yang berkecai dan berderai.
Marilah kita meneroka ke dalam hati si ayah dan bertanya terus kepada keyakinannya:
"Bukankah anak ini harta yang paling berharga?"
Ya
"Bukankah anak permata hati?"
Benar.
"Bukankah anak ini ditunggu sejak kelahirannya, digomol penuh manja masa kecilnya, apabila berjauhan anda merinduinya, dia memanggil ayah dan menjadikan hidup anda bahagia?"
Benar, benar dan benar.
"Kalau begitu, samakah nilainya dengan warna kereta baru anda?
Tidak sama sekali.
"Jadi, kenapa anda sanggup memusnahkan cita-citanya dengan amarahmu itu?"
Errr.. (tiada jawapan).
Sampai di sini kita sedar ada perselisihan ketara antara keyakinannya dengan apa yang dia buat. Dia mungkin tidak dapai mencari jawapan kenapa, tetapi telah mengetahui akibatnya.
Justeru itu bagi kita, sekiranya keyakinan tidak dapat memperkuat amal, tambahkan satu lagi kayakinan bahawa:
Kebinasaan pasti menunggu mereka yang gagal beramal mengikut keyakinannya!
"May our songs be true to what we see on the horizon."

cerita sedih mengalir air mata

Mungkin ada di kalangan readers pernah membaca Kisah Sedih ini begitu juga dengan Dr Fuh. Walaupun dah baca 2 kali cerita ni, air mata tetap mengalir jugak. Pilu sangat bila hayati betul-betul.
Cerita ini dipetik dari sebuah buku motivasi bertajuk 'U-Turn ke Jalan Lurus' oleh Zul Ramli M. Razali. Hayatilah sebagai pengajaran untuk kita semua.... 
Perjalanan pulang dari showroom dengan memandu kereta baru memberi satu pengalaman sangat menguja. Bau dalaman dan bungkusan plastik masih ada., sudah cukup menceritakan bahawa impian bertahun-tahun untuk memiliki sebuah kereta hebat telah menjadi kenyataan.
Sesampai di rumah, kereta diparkir di garaj dengan berhati-hati, sudah tentu sedikit calar akan mengguris kegembiraan yang sedang dinikmati kini. Isteri, anak termasuk pembantu rumahnya entah berapa kali berkeliling melihat dari pelbagai sudut dan memuji serta menyebut hal-hal yang sama berulang kali. Anak kecilnya berumur tiga tahun nampak lebih teruja dengan tak habis-habis keluar masuk kereta.
Malam itu, sebelum tidur juga duduk-duduk di tempat pemandu dan melihat lagi keretanya sebelum ke katil. Mungkin tidurnya juga bermimpikan kereta baru dengan warna merelit.
Hari esok, dia bangun penuh ceria, bergegas menghadap sarapan lalu mencapai beg bimbit untuk ke pejabat. Kawan-kawan sudah maklum, dan hari ini: Surprise! Begitu rancangannya.
Tetapi apabila dia menghampiri keretanya ada sesuatu yang sungguh memeranjatkan. Dia mendapati sekeliling keretanya terdapat calar-calar dengan goresan yang ketara. Beberapa saat terpinga dia hanya terpaku berdiri kekejangan. 
Beg bimbit terlepas daripada genggaman kemudian muka terasa panas tersimbah dan kem
arahan membakar dada. Spontan datang dalam mindanya wajah anak kecil yang memang suka menconteng serata dinding. Baru kelmarin dia belikan kotak pensil warna dan kertas lukisan bagi mengatasi tabiat menconteng tersebut.
"Adik, mari sini!" Jeritnya kuat memanggil anaknya, nafasnya tertahan-tahan dalam membuak api kemarahan."Budak ini kena ajar," getus hatinya, berani benar anaknya menggores kereta barunya.
Si anak penuh ketakutan seperti seekor burung ciak yang menggigil dibasahi hujan. Tanpa berlengah bersama arus kemarahan yang sukar dibendung si ayah memukul anaknya di serata badan sambil mulutnya tak sudah-sudah menghamburkan kemarahan. Anak kecil ini hanya meraung dan menangis tetapi dalam hati rasa bersalah atas apa yang dia telah lakukan.
Kemarahan ayah masih belum reda lantas mengambil pembaris besi nipis dan dipegangnya tangan anak. Pembaris tersebut diracik-racikkan ke tangan si anak sambil ayahnya berkata, "Ini ayah nak ajar kamu!"
Ia terus mengherdiknya berulang kali. Kalaulah tidak disabarkan oleh isterinya mungkin jadi lebih teruk lagi anaknya. Anaknya tersepuk dalam dakapan pembantu rumah dengan sedu-sedan serta air mata terurai.
"Mana pensel warna yang ayah belikan semalam?" bentak ayah sambil mencari pensel warna yang baru dibelikan itu. Si ayah merampasnya dan mencampakkannya ke dalam kereta.
Pagi tersebut sangat murung buat anak, sangat perit buat ayah. Ayah masuk ke dalam kereta, menghempas pintu, menekan pedal minyak dan berlalu pergi tanpa menoleh. Ibunya pula hanya punya masa sebentar kerana terpaksa bergegas untuk urusan jauh ke luar daerah.
Tinggallah anak ini dengan air mata berlinangan, sedu, tangis dan kesakitan.
sekadar hiasan
Ayah yang masih marah dan tidak dapat memaafkan anaknya terus menghantar kereta ke bengkel dan dia hanya di luar sepanjang hari. Buat sementara tertutup hati untuk balik ke rumah.
Lewat petang, telefon bimbitnya berbunyi, dengan malas dia mengangkat kerana dia tahu itu panggilan dari rumahnya.
"Bapak, apa saya perlu buat? Adik asyik menangis dan demamnya kuat sekali." Adu pembantu rumah di hujung talian dalam butir bicara keliru.
'Biarkan dia, saya nak ajar dia cukup-cukup!" Dengan marah dia terus mematikan telefon bimbitnya.
Malam itu, ayah tidak pulang ke rumah. Namun ketika lewat malam telefon bimbit berbunyi bertalu-talu daripada nombor yang dia tidak tahu. Dia mengangkatnya. Amat mengejutkan panggilan tersebut dari sebuah hospital meminta dia datang dengan segera. Tanpa berlengah, dia terus ke hospital.
Dia mendapati isterinya turut berada di sana. Pembantu rumah yang bergegas membawa anak ini ke hospital juga turut bersama dengan wajah sugul bercampur rasa bersalah. Dia terus meluru masuk berjumpa doktor bagi mengetahui kondisi anaknya. Alangkah pilunya apabila ia diminta menandatangani akuan bagi melakukan pembedahan bagi memotong pergelangan tangan anaknya..
"Seluruh sarafnya telah rosak dan bakteria telah masuk ke dalam sum-sum tulang, kami tidak ada pilihan melainkan terpaksa memotongnya untuk menyelamatkan nyawa anak ini." Jelas doktor dengan gambar x-ray dan analisis lain penuh di atas meja. Dengan hati yang berat dia menurunkan tandatangannya.
"Hari malang apakah ini..." tangis hatinya dengan rasa sesal yang tidak dapat dibendung mengenang nasib anaknya.
Si ayah melihat dengan penuh simpati pada wajah comel anaknya yang telah terbaring setelah melalui pembedahan yang panjang. Dia tidak pasti apa perasaan sepatutnya ketika itu. Berulang-alik rasa bersalah, kasihankan si kecil, bodohnya tindakan, menyesal, simpati dan semuanya tidak jelas tapi satu yang jelas ialah tangan anaknya telah kudung.
Apabila si anak sedar, dia melihat ayah dan ibunya berada di sisi. Dia menangis sambil memohon kemaafan.
"Ayah... Maafkan adik, adik janji tidak akan gores kereta ayah lagi."
"Ayah tolong pulangkan pensel warna adik ... Adik nak melukis," rayu anak kecil itu dalam esakan meninggi mengemis simpati ayahnya.
Kelu lidah ayahnya, hanya air mata hangat mengalir dan di dalam dada sarat tergumpal rasa sesal. Dia hanya mampu menatap wajah anaknya yang masih menangis.
Tapi kemudian apabila anak ini tersedar tentang tangannya yang kudung, saat itu dia berkata dalam kesayuan, "Ayah, tangan adik dah tak ada, adik dah tak boleh melukis lagi, kalau adik dah besar nanti macamana nak jaga ayah..macamana adik nak mandikan ayah. Tangan adik dah tak ada lagi...Ayah, pulangkan tangan adik."
Tangisan adik terlalu kuat, sangat menyayat hati. Ayah hanya mampu menangis semahu-mahunya. Apakah yang mampu dia perbetulkan kini? Dia merangkul anaknya dengan pandangan kosong melihat anak bersama cita-citanya yang berkecai dan berderai.
Marilah kita meneroka ke dalam hati si ayah dan bertanya terus kepada keyakinannya:
"Bukankah anak ini harta yang paling berharga?"
Ya
"Bukankah anak permata hati?"
Benar.
"Bukankah anak ini ditunggu sejak kelahirannya, digomol penuh manja masa kecilnya, apabila berjauhan anda merinduinya, dia memanggil ayah dan menjadikan hidup anda bahagia?"
Benar, benar dan benar.
"Kalau begitu, samakah nilainya dengan warna kereta baru anda?
Tidak sama sekali.
"Jadi, kenapa anda sanggup memusnahkan cita-citanya dengan amarahmu itu?"
Errr.. (tiada jawapan).
Sampai di sini kita sedar ada perselisihan ketara antara keyakinannya dengan apa yang dia buat. Dia mungkin tidak dapai mencari jawapan kenapa, tetapi telah mengetahui akibatnya.
Justeru itu bagi kita, sekiranya keyakinan tidak dapat memperkuat amal, tambahkan satu lagi kayakinan bahawa:
Kebinasaan pasti menunggu mereka yang gagal beramal mengikut keyakinannya!
"May our songs be true to what we see on the horizon."

 

Blogger news

Blogroll

About

CERITA SEDIH © 2012 | Template By arif rahman